Memanusiakan Ibu Kota

“Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.” – Soe Hok Gie, dalam Catatan Seorang Demonstran.

Entah sejak kapan, saya selalu mengagumi Jakarta di kala malam.Ditengah makian saya dibalik setir, kegusaran saya dalam antrian panjang TransJakarta di Dukuh Atas, dan rentetan bunyi klakson dari pengendara pengendara yang frustasi karena terjebak dalam kemacetan yang tiada akhir.Ada keindahan yang ironis di balik Jakarta malam hari, Jakarta yang tidak pernah tertidur, Jakarta yang menawarkan sejuta pesona dari balik cahaya cahaya lampu di jalanan, dan temaram lampu di gedung-gedung yang telah ditinggalkan pegawainya sedari sore.

Malam itu pun, saya sedang mengagumi temaram lampu Jakarta dan kesibukan di jalanan protokol ibu kota.Tenggelam dalam melankolia kota yang tidak pernah tertidur ini.Saya berjalan menyusuri trotoar jalan M.H. Thamrin, merasa begitu kerdil di antara dua mall raksasa yang dipenuhi dengan brand-brand ternama dari seluruh dunia ini.Rasa cinta dan kekaguman saya pada kota ini, sebesar dengan rasa benci saya pada ketimpangan sosial yang begitu nyata terlihat tapi diabaikan begitu saja oleh masyarakat kota ini.

Jakarta itu keras, kata orang.Dibalik gemerlap lampu mobil mobil mewah, gedung gedung tinggi dan restoran-restoran mahal yang kadang tidak masuk akal terdapat orang-orang yang sedang mengais sampah, seperti binatang, demi melanjutkan kehidupan.Ketika ribuan orang di Jakarta ini tertidur dalam apartemen mereka yang mewah, mandi air hangat di bath tub seharga puluhan juta, dan berada di balik kemudi mobil mereka, terdapat ratusan ribu orang yang sedang berhimpit dalam rumah beralas tanah mereka di pinggiran rel kereta dan bantaran sungai.

Jumlah penduduk miskin Jakarta pada bulan Juli tahun 2012 adalah sebesar 363.200 ribu orang (3,69 persen) – Dikutip dari Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta (Jakarta.GO.ID)

Malam itu, ketika saya sedang tenggelam dalam keindahan lampu-lampu malam di Jakarta, saya tertampar realita yang dipaparkan di depan mata saya.Kemanusiaan saya terusik, hati saya gelisah, dan mata saya berkaca-kaca.Jika tidak ingat betapa ramainya jalan itu dan rasa malu pada teman saya, saya pasti akan langsung terduduk dan meratapi betapa ironisnya kota ini.Ini bukan kali pertama pemandangan seperti ini terjadi.Ini makanan sehari hari saya, di antara pilar-pilar beton stasiun Manggarai dan Cikini, di sela sela jembatan kokoh TransJakarta, diantara…dua mall luar biasa megah yang mendapatkan omset milyaran rupiah sehari…
Seorang nenek tertidur di trotoar jalan, meringkuk kedinginan diterpa angin Jakarta, di sebelahnya terdapat mangkok plastik berisi beberapa recehan.Dia terdiam disitu, tertidur dengan baju yang sudah compang camping, sementara manusia manusia ibu kota saya seperti ini berjalan lalu lalang disebelahnya dengan baju rapi, kantong belanjaan disana sini, berjalan tanpa sedikitpun menengok kepada nenek yang sedang meringkuk ini.Seakan akan…nenek ini bukan manusia, bukan kami yang berbaju, bermuka bersih hasil perawatan dokter kulit, berbau wangi dari parfum mahal.

Malam itu, saya benci Jakarta beserta manusia manusia arogan didalamnya atas ketidak acuhannya pada ratusan ribu orang yang sama manusianya dengan mereka.

Malam itu, saya benci pada diri saya sendiri.Benci pada saya yang hanya bisa terdiam memberikan sedikit uang kecil lalu pergi lagi melanjutkan bualan bualan tidak berujung.

Malam itu juga, mobil saya berhenti di lampu merah.Seorang anak kecil menghampiri saya sambil memetik senar ‘gitar’ nya yang terbuat dari karet.Saya meraih dompet saya, melihat dua lembar 100ribu dan satu lembar 2ribu.Saya terdiam.Dan akhirnya mengambil 2ribu lalu memberikannya pada anak itu.Setelah melewati lampu merah itu, saya merasa ada sesuatu yang kosong, seperti ada sebuah kekuatan tidak terlihat yang menusuk jantung saya, berkali-kali sehingga saya tenggelam dalam sebuah kesedihan.Saya menengok pada kantong belanjaan yang terletak di kursi penumpang.Terganggu pada kenyataan bahwa saya dengan gampangnya membeli sebuah kaos berharga ratusan ribu tetapi hanya mau memberi 2ribu kepada anak kecil tadi.

Malam itu juga, Saya berhenti di pinggir jalan, menyalakan hazard, melepas kacamata  dan menangislah saya sejadi-jadinya.Dalam tangisan saya, semua menjadi buram, cahaya-cahaya melankolis kota Jakarta tampak kabur..dan begitu sendu.

Saya benci ketidak acuhan saya, saya benci pada fakta bahwa ketika bulan Ramadhan berbondong-bondong orang mencurahkan rasa cinta dan syukurnya pada 3 persen manusia-manusia Jakarta yang terlupakan ini, tetapi ketika Ramadhan lewat, semua pun lewat.Saya dan manusia manusia ibu kota lainnya kembali pada diri kami yang individualis, acuh tak acuh, dan arogan.Yang terlena pada glamornya kota Jakarta dan dibudakkan konsumerisme dan gengsi dan melupakan esensi hakiki dari manusia: kasih sayang, dan kepedulian.

Jakarta.
Rasa benci saya, sama besarnya dengan rasa cinta saya.Sehingga terkadang saya lupa karena dua rasa itu telah tercampur aduk selama hampir 12 tahun saya besar dan terpapar pada kekontrasan dan ketimpangan dari kota yang tak pernah tertidur ini.

Saya bermimpi akan Jakarta yang dihuni oleh manusia manusia yang tidak acuh.Yang sadar bahwa dibalik semua kenyamanan yang kami miliki ini, dibalik mall-mall megah yang kami kunjungi hampir setiap minggunya, terdapat mereka mereka yang meringkuk kedinginan, terhimpit hutan beton, terlupakan di balik gang-gang perumahan yang sempit.Saya bermimpi, malam itu, saya memanusiakan Jakarta.Memanusiakan sehingga semua mahluk-mahluk urban ini terduduk dalam sujud, menangis sejadi-jadinya karena  terusik rasa kemanusiaannya pada realita yang telah terpapar namun di acuhkan selama bertahun-tahun.

Mereka tertawa dgn botol sampanye di tangannya,gelas mereka beradu & muncul dentingan merdu.Oh inilah jakarta..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s