Articulus

Articulus.
Articulus means crisis in Latin.While in English, crisis was described as: a time of intense difficulty, trouble, or danger.

2 days ago, I dreamt about my late Father.I was in a beautiful tropical restaurant surrounded with a gigantic Eucalyptus and chirping birds.Two of my sister were there, along with someone I deeply love, and Papa was there too.I was trying to say something to Papa, but he just smiled and hugged me.I remember vividly he was wearing a white longsleeves Polo and he was warm, as ever, as if he’s very much alive just like me.

2 weeks ago, I finally read the acclaimed book by a remarkable Indonesian young figure, Muhammad Assad.Assad is only 5 years older than me but he already got his Bachelor degree and currently pursuing his Master degree in Qatar, in full scholarship.Luar biasa ya? His book, Notes from Qatar was unlike any book I’ve ever read before.Buku nya ini merupakan blog pribadi dari Assad sendiri, he likes to quote things, sama seperti saya.Bedanya dia mengutip kitab suci, Al Quran to be exact.

Anyway, di salah satu bukunya, Assad membicarakan tentang krisis.Dia mengutip perkataan dari the 35th President of United States of America, John F. Kennedy. JFK once said in his speech kalau:
“The Chinese use two brush strokes to write the word ‘crisis.’ One brush stroke stands for danger; the other for opportunity. In a crisis, be aware of the danger–but recognize the opportunity.” 

Crisis.Krisis.
Krisis dalam hal ini not necessarily krisis level tinggi seperti krisis pangan, krisis ekonomi, dan krisis ala ala Hubungan Internasional seperti itu.A 20 years old kid seperti saya, dan teman-teman saya pun often harus bercengkrama dengan yang namanya krisis.Krisis uang bulanan, krisis air if you live near Kali Code seperti saya dan harus pakai air sumur, krisis baju baru, krisis percaya diri, krisis percintaan, dan keadaan keadaan intense lainnya yang put you in hostile situation and pressurized you until your mental cracks.

Frankly, I’m in the middle of a crisis right now.A substantial one that shakes the root of my soul and troubled my being.That explained kenapa almarhum Papa datang di mimpi saya mungkin.He sense it.That perhaps explained juga kenapa Mama yang jarang telfon suddenly call me just yesterday.

Krisis nya apa? Let’s say I parted away from someone I really care about.What makes this is a substansial crisis adalah, that particular person adalah one of the most important person di dalam hidup saya besides my family.Dia adalah udara pertama yang saya hirup ketika saya bangun dari tidur saya, dia juga adalah udara berbentuk angin yang menyentuh kulit saya ketika saya berjalan menyusuri kampus dan Jakarta yang berdebu.Bisa dibilang, dia juga adalah cahaya Matahari yang membakar tubuh saya ketika saya berdiam diri dan berkontemplasi di teras memikirkan tentang hal-hal yang hanya dia akan mengerti.Atau mungkin juga, saya bisa bilang bahwa dia adalah bulir bulir air yang menyentuh pipi saya, membangunkan saya dari rasa kantuk berkepanjangan dan menarik saya kembali ke kehidupan yang nyata.Kalau kata Ferre di Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh:
“Semua orang menyimpan sebongkah matahari dalam dirinya.
Ada yang terbit dan ada yang terbenam.
Matahariku bersinar nonstop dua puluh empat jam.
Masih adakah cucian yang belum kering?
Adakah sampah yang ingin kalian bakar?
Mari, dekatkan pada wajahku.”
Dia Matahari saya.

Let’s say, we parted away.Harus dihadapkan pada realita.Kata Gotye, dalam Eyes Wide Open.
“And the saddest thing is all of it could have been avoided.”

Jadi disinilah saya.Dalam krisis dan dirundung melankolia.
I have two option dalam krisis.
1)Break down.
2)Rise up.

I choose to rise up.Salah satu teman saya bilang bahwa prayer adalah salah satu cara berkomunikasi dengan Tuhan.Because being left by someone I deeply love membuat saya kesepian dan komunikasi seperti apapun dengan sahabat-sahabat saya tidak membuat rasa sepi itu pergi.I was always happy when I’m with my friends di Jogja.But even so, every now and then I would feel a violent stab of loneliness.The very water I drink, the very air I breathe, would feel like long, sharp needles. The pages of a book in my hands would take on the threatening metallic gleam of razor blades. I could hear the roots of loneliness creeping through me when the world was hushed at four o’clock in the morning.
Berkomunikasi dengan Tuhan adalah obatnya.Who would ever expect, seorang Rintachos yang mendespise keberadaan suatu Agama dan berkali kali mempertanyakan tentang Agama nya sendiri akhirnya come running and kneel down di depan Tuhan?

Krisis membuka mata saya bahwa, setiap gerakan sholat, setiap bacaan yang saya baca, adalah cara saya berkomunikasi dengan Tuhan, menghilangkan kesepian, mehamami nikmatNya, dan juga cara saya mendoakan someone I deeply loved dari kejauhan.Cliche ya alasan saya kembali ber Agama? But, better late than never, right?

“It’s because of you when I’m in bed in the morning that I can wind my spring and tell myself I have to live another good day.” 
― Haruki MurakamiNorwegian Wood

Krisis ini juga telah menempatkan saya pada barisan barisan depan dalam kelas di semester 5 ini.For the last 2 years, I’ve always taken my academic life for granted.Tapi someone I deeply loved selalu percaya bahwa the sun in my future is so bright, it’s blinding.Saya lah yang tidak percaya.Atau mungkin terlena pada pujian nya hingga we parted away, dan it hits me hard, it is perhaps bright.Tapi it’ll lose it’s brightness if I keep slacking off.Maka saya rise up, saya mulai belajar mendengarkan, menurunkan arogansi untuk mendengarkan lecturers.

“Every test successfully met is rewarded by some growth in intuitive knowledge, strengthening of character, or initiation into a higher consciousness.” 
― Paul BruntonThe Notebooks of Paul Brunton.

HIgher consciousness katanya.Awareness pada potensi diri sendiri, dan cara saya kembali pada kawan lama yang paling cinta pada saya: the Almighty.Dia sendiri bilang bahwa: “Sesungguhnya tiap kesukaran-kesukaran selalu disertai kemudahan” (QS Al Insyirah ayat 5).

Jadi, terima kasih Assad dan Notes from Qatar.Terima kasih kamu yang selalu percaya, and you’ve got the faith, that I could bring paradise – The XX, Crystalised.

When faced with crisis, I was left with two option: Break down, or Rise up.I choose to rise up, karena Tuhan sayang sama saya.

Iklan

2 thoughts on “Articulus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s