Rumah.

Entah ada angin melankolia darimana, hidup akhir akhir ini terasa seperti hidup di buku-buku nya Haruki Murakami.ย 
Ramai di luar.Sepi di dalam.Bahagia di luar, entah bagaimana di dalam.
Saya juga lebih sering terbangun tengah malam, sekitar pukul 2 hingga 3.Terbangun dan bingung harus apa, harus belajar kah, atau harus merenung, atau harus curhat di Twitter biar dunia tau saya sedang kesepian? Tapi ternyata saya manusia modern yang takut terlihat lemah di publik, takut dibilang galau, takut dibilang menyedihkan.Saya bingung, yang sedih itu saya karena merasa kesedihan itu sebenarnya indah, emosi manusia yang terdalam dan terjujur, atau mereka yang tidak berani sedih karena takut dibilang menyedihkan?

Entah mungkin sudah saat nya perasaan seperti ini muncul seiring dengan datangnya awan-awan gelap ke Jogja.Menemani manusia-manusia yang terlalu banyak berpikir dibanding bertindak dan tersiksa sendiri dalam pikirannya.

Entahlah, mungkin memang ini hanya perasaan saya yang memiliki obsesi pada masa lalu dan terjebak dalam suatu lumpur hisap, lubang hitam, atau apapun metafora yang dikenalkan pada saya untuk menggambarkan sebuah keadaan dimana suatu jiwa selalu ingin terjebak dalam nostalgia dan ingin selalu merangkak ke masa lalu.

Saya punya pemahaman lain tentang lumpur hisap dan lubang hitam.
Mereka punya pemahaman lain tentang lumpur hisap dan lubang hitam.
Bagi mereka, saya sedang menenggelamkan diri secara sukarela dalam lumpur hisap dan membiarkan diri terjatuh dengan sengaja ke dalam lubang hitam.
Bagi saya, lumpur hisap dan lubang hitam itu rumah saya.

Kemanapun saya berjalan, memalingkan muka, berlari sejauh-jauhnya dari lumpur hisap dan lubang hitam, saya tidak akan bisa meninggalkannya.Saya yang suka jalan-jalan, berlari dari keadaan dan kenyataan pun merindukan rumah nya.
Mungkin karena hanya rumah itu yang akan menerima keadaan apapun dari kita, meninggikan kita ketika kita terjatuh, menenangkan kita ketika kita tidak lagi percaya, mungkin rumah itu yang selalu menjadi pengingat dari siapa diri kita sebenarnya ketika dunia telah merubah kita sedemikian rupa.
Mungkin juga, saya adalah jiwa yang terlalu keras hati, menolak kenyamanan yang diberikan oleh rumah ke-2 , ke-3, ke-4, ke-5, ke-100, ke-1000 sekian.Mungkin saya memang senang dengan rasa sesak yang didapatkan ketika saya tenggelam dalam lumpur hisap, ataupun rasa mencelos ketika terjatuh dalam lubang hitam.

Semua manusia ingin pulang ke rumah.
Meskipun rumah nya itu berbentuk lumpur hisap dan lubang hitam.

Saya pun ingin pulang ke rumah.
Terikat.
Dan merasa sesak.

But hey, sampai kapan mau lari dari perasaan seperti itu?

Jelajahi waktu, ke tempat berteduh..hati, kala biru.

Advertisements

3 Replies to “Rumah.”

  1. “Mungkin karena hanya rumah itu yang akan menerima keadaan apapun dari kita, meninggikan kita ketika kita terjatuh, menenangkan kita ketika kita tidak lagi percaya, mungkin rumah itu yang selalu menjadi pengingat dari siapa diri kita sebenarnya ketika dunia telah merubah kita sedemikian rupa.”

    Sepertinya kita punya definisi yang sama tentang rumah rin. Aku sering bets pulang, bukan karena nggak betah di jogja. Dan mungkin karena aku terlalu tidak percaya dan skeptis pada kenyamanan yang dapat diberikan oleh rumah ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya. Rumah memberi terus, tanpa meminta kita memberi pada mereka. Tapi justru hanya kepada rumah, kita memberi semua yang kita punya tanpa diminta. Karena sedemikian sayang dan percaya.

    Nice post! And fyi, it’s okay to be weak (sometimes). Hehehe. Asal tahu saja kapan mencukupkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s