Review Buku: Enrico – Ayu Utami

"Cerita Cinta Enrico adalah kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi"
Cerita Cinta Enrico adalah kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi”

Saya merasa seperti Enrico.

Ini buku Ayu Utami ke-4 yang saya baca, setelah sebelumnya membaca Saman dan seri Bilangan Fu secara terbalik dimulai dari Lalita, ke Manjali & Cakrabirawa tanpa pernah membaca Bilangan Fu nya sama sekali.Susah kalau harus disuruh memilih antara Manjali & Cakrabirawa atau Cerita Cinta Enrico untuk dijadikan buku favorit.Dua duanya punya daya tarik yang sama, dimana saya diberikan banyak sekali informasi tentang sejarah Indonesia yang tidak saya ketaui sebelumnya dan saya tidak bisa memilih antara Parang Jati dan Enrico, mana yang lebih saya sukai.Enrico dan Parang Jati sama sama manusia yang saya idamkan, ber intelektualitas tinggi dan mendambakan kebebasan.

Tapi saya lebih suka Enrico.
Saya merasa seperti Enrico.

Enrico lahir dari kedua orang tua yang berbeda agama, ayahnya Irsad lahir sebagai seorang Muslim dan ibunya Syrnie lahir dan dibesarkan oleh keluarga Misionaris Katolik.Cinta pertama Enrico adalah ibunya, Enrico begitu mengagumi ibunya yang berbeda dengan wanita-wanita Jawa lain yang memakai kebaya, berambut panjang dan berkutu, serta sering bergunjing satu sama lain.Ibunya adalah orang terpelajar, bisa menjahit dan pintar beternak, bisa bahasa Jerman, Inggris, dan Belanda. Cinta pertama Enrico adalah ibunya, sampai ibunya terjangkit dengan yang namanya “Virus Hari Kiamat”. Ibunya yang dulu adalah Katolik taat, menemukan pelarian atas kehilangan kakak Enrico yang bernama Sanda.Pelarian dan jawaban atas kekalutannya itu ditemukan dari ajaran-ajaran Saksi Yehovah tentang adanya dunia baru setelah hari kiamat.Perlahan ibunya mulai tenggelam dalam fanatisme ajaran agama yang kaku dan menganggap Enrico yang membantah ajaran ajaran tersebut sebagai pembangkang, ibunya menutup hati atas kebaikan-kebaikan Enrico.

Saya suka Enrico karena Enrico mendambakan kebebasan.Karena Enrico berkata pada ibunya

“May, tahu surat Rasul Paulus kan? I Korintus 13. Pada akhirnya adalah tiga hal ini: iman, pengharapan, dan kasih; dan yang paling besar diantaranya adalah kasih.Berbuat kasih itu lebih besar dari iman sekalipun.Kok bisa menyiar jadi segala-galanya”

Bagi Enrico, kasih itu lebih besar dari iman.Tidak ada guna beriman apabila tidak diiringi dengan kasih, dan tidak ada  kepastian bahwa orang yang beriman taat dengan sholat lima waktu, misa hari minggu ke Gereja, bersemedi siang malam di Pura lebih welas asih.Bagi saya, kasih itu lebih besar dari iman.Karena mama lebih beriman dan mengenal Al Quran luar dalam, tetapi papa yang tidak mengenal Weda lebih berbelas kasih.Saya sayang pada mama, tetapi papa adalah pahlawan saya dengan segala belas kasihnya dan kecintaannya pada mahluk hidup ciptaan Tuhan dan kehidupan itu sendiri.

“Aku teringat ayahku.Ah, ia tidak pernah peduli pada agama, tetapi ia selalu peduli untuk berbuat baik dan ia selalu peduli pada orang lain”

Saya suka Enrico karena saya melihat diri saya di Enrico.
Enrico yang perlahan lahan menjauh dari ibunya dan mendekat ke ayahnya karena ibunya yang menjejalkan ajaran-ajaran agama pada Enrico.Enrico bukan ayam broiler dan leghorn, Enrico adalah ayam kampung yang ingin bebas memilih mana yang sesuai dengan prinsipnya.Dan bukankah kasih adalah segalanya? Bukankah Enrico telah bertemu A yang pendosa dan tidak beriman tetapi berbelas kasih dan lebih memahami dan tau banyak tentang Alkitab dibanding orang-orang beriman? Dan bukankah, keinginan dan kerinduan pada Tuhan harusnya datang dari diri sendiri dan bukan dari orang lain?

Saya suka Enrico tetapi saya tidak ingin seperti Enrico.
Dan mungkin tidak akan, karena papa pergi lebih dahulu menemui Tuhan dan saya harus berdamai dengan mama dan prinsipnya.Saya sayang sekali sama mama, mama sangat beriman dan dia juga memiliki kasih dan pengharapan, mungkin tidak sebesar kasih papa terhadap mahluk hidup dan kehidupan, tetapi mama pun berbelas kasih..dan saya berdamai dengan dirinya yang memiliki kasih itu.

Saya belajar tentang banyak hal dari buku ini.Salah satunya adalah ketika rasionalitas saya tentang penolakan pada agama yang diturunkan pada saya ketika saya lahir ditampar oleh sebuah kata-kata dibuku ini:

“Jangan-jangan karena kamu takut melihat dirimu penuh dosa, maka kamu menolak agama”

Mungkin karena begitu banyak hal yang dilarang oleh agama saya tapi tetap saya lakukan.Saya tau babi itu haram tetapi saya suka sekali bacon, saya ingin sarapan bacon setiap harinya.Saya tau yang memabukkan itu haram tetapi saya tidak bisa memungkiri hal yang memabukkan itu merupakan pengantar tidur yang terbaik meskipun ke esokan paginya kepala saya bagai ditusuk seribu jarum.Saya sadar akan dosa-dosa saya, mungkin karena itu saya menolak agama karena saya melihat diri sebagai pendosa dan saya ingin bebas melakukan dosa-dosa yang saya anggap tidak berdosa itu, maka saya menolak agama.Dengan dalih agama itu tidak penting dibandingkan spiritualitas.Tapi saya tetap ingin berdoa.Saya mau di izinkan tetap berdoa dan diyakinkan bahwa Tuhan tetap mendengar doa saya.Saya tidak mau percaya Tuhan segitu shallow nya untuk tidak mendengar doa seorang hamba hanya karena dia memakan babi.Tuhan lebih dari itu, dan mereka tidak tau Tuhan, tidak seorangpun dari kita tau Tuhan karena kita tidak pernah minum kopi dengannya.Dan saya benci orang orang itu, yang menghakimi dan berbicara atas nama Tuhan.Kamu sudah pernah sarapan sama Dia?

Begitu sampai di halaman akhir dari buku ini, saya baru menyadari bahwa kisah ini adalah kisah fakta (duh, bego).Enrico adalah suami dari Ayu Utami, dan Ayu Utami yang digambarkan sebagai A, kekasih dari Enrico di buku ini, menuliskan kisah Enrico sebagai sebuah proses untuk membantu Enrico memahami dan menerima mengapa ibunya tidak sanggup melihat kebaikan yang ada pada dirinya.Sebuah proses untuk berdamai.

Setelah membaca dua buku dari seri Bilangan Fu dan Saman, saya menyadari bahwa Ayu Utami selalu memasukkan unsur unsur pemanjat tebing, ITB, fotografer, dan hal-hal yang berhubungan dengan tambang (selain tentunya kental dengan mistisme, spiritualisme, dan politik).Membaca Cerita Cinta Enrico barulah saya paham bahwa Ayu Utami menemukan inspirasinya dari orang yang dia cintai, Enrico, iya Enrico yang lulusan ITB jurusan tambang tetapi memutuskan untuk menjadi fotografer dan juga senang memanjat tebing dan berpetualang. Sekarang saya penasaran, apakah istri dari Haruki Murakami juga pecinta kucing dan musik jazz seperti Haruki Murakami?
Apa F.Scott Fitzgerald terinspirasi oleh Zelda? Apa Dewi Lestari terinspirasi oleh Marcell atau Reza Gunawan? Apa memang inspirasi utama dari seorang penulis itu adalah manusia manusia yang dicintainya?

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s