Review Buku: Pulang – Leila S. Chudori

Cacoethes Scribendi disadur dari bahasa Latin yang artinya ‘Keinginan Tak Terpuaskan Untuk Menulis’

Cacoethes Scribendi adalah hal yang saya rasakan dengan menggebu-gebu seusai membaca sebuah buku yang menghadirkan begitu banyak pesona dalam 461 halamannya.Saya tak akan pernah terpuaskan menulis kekaguman saya pada buku ini.Sebuah buku yang mengutip kata dari Franz Kafka “the kind of books that wound and stab us”. Buku yang mendudukkan saya di kursi keras ruang tengah kontrakan saya yang muram dan minim pencahayaan ditemani dengan kopi panas yang lebih pantas disebut dengan krimer panas karena komposisi satu sachet kopi hitam dan tiga sendok makan penuh krimer yang terlarut didalamnya.

Buku luar biasa ini berjudul ‘Pulang’, ditulis oleh jurnalis tempo bernama Leila S. Chudori yang ternyata juga menulis naskah dari salah satu drama televisi kesukaan saya 6 tahun lalu, Dunia Tanpa Koma.Buku ini secara garis besar menceritakan tentang Dimas Suryo yang karena keadaan ‘terdampar’ di Paris pada tahun 1968 dan harus menjalani kehidupan sebagai eksil politik bersama dengan tiga sahabatnya yang juga mengalami nasib sama: Risjaf, Tjai, Nugroho.Dimas Suryo yang mencintai sastra dan kuliner dengan sepenuh hatinya ini lalu mengalami le coup de foudre dengan seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan melahirkan seorang perempuan cerdas bernama Lintang Utara Suryo yang kemudian kembali ke tanah yang asing namun sangat lekat dengannya, Indonesia, untuk menelusuri akar dirinya yang tidak pernah dia ketahui.Singkat cerita, saya dibawa mengarungi sebuah sejarah yang tidak pernah saya tau sisi lainnya karena selama ini hanya saya dapatkan dari buku-buku sejarah yang saya baca berulang ulang dari kelas 1 SD hingga 3 SMA.12 tahun telah saya lalui tanpa memahami ada sisi lain dari sebuah sejarah.

Saya tidak tau harus mulai membagi excitement saya dari mana, dari kecintaan saya terhadap karakter Dimas Suryo yang kritis, setia kawan, intelek namun tidak tau harus berlayar kemana dan berlabuh dimana kah? atau dari potongan-potongan puisi mulai dari puisi Chairil Anwar, Rivai Apin, W.S. Rendra, sampai dengan Lord Byron dan T.S. Elliot atau kah dari referensi-referensi terhadap berbagai penulis yang memukau saya seperti George Orwell, Oscar Wilde, dan James Joyce?

Cacoethes Scribendi.
Yang saya tau, buku ini membuka cakrawala saya, memberikan perspektif yang berbeda dari suatu sejarah yang tidak pernah saya ketahui.Memberitahukan kepada pengetahuan saya yang terbatas ini bahwa ada zaman dimana membaca karya dari Karl Marx dan Pramoedya merupakan sebuah tindakan kriminal, sementara di masa sekarang ini universitas saya mengajarkan mata kuliah Teori Sosialisme yang sarat Marxisme dan saya dengan bebas berkoar tentang betapa memukaunya Tetralogi Buru karya Pram.Saya tau betul buku ini membuat saya menangis karena mendambakan hubungan ayah dan anak seperti Dimas Suryo dan Lintang yang sering  menghabiskan waktu di Cimetière du PèreLachaise  sembari mengobrol santai tentang karya-karya sastra memukau, Mahabaratha, sejarah, dan kehidupan di sebelah nisan Oscar Wilde atau Jim Morrison.Saya juga tau betul buku ini mengambil hati saya dengan eksplorasi akan kota Paris yang indah dan juga Jakarta yang sudah seperti Jakarta sekarang ini.Walaupun begitu, saya juga tau buku ini sedikit membuat jengah dengan romansa di bab-bab terakhirnya yang terkesan sangat klise dan begitu mudah ditebak alur ceritanya.

“Mereka yang sudah terlalu mengenalku akan tau, sesungguhnya aku adalah antitesa segala yang pasti dan konstan” – Dimas Suryo.

PS: Karena buku ini saya ingin menjadi flâneur denganmu, mungkin menyusuri jalan di kota kecil ini ditemani dengan lampu-lampu malam yang membawa nuansa melankolis, lalu berhenti di suatu tempat, saya dengan kopi terlalu manis saya yang selalu kamu protes dan kamu di ujung sana mungkin dengan teh hangat.

Advertisements

3 thoughts on “Review Buku: Pulang – Leila S. Chudori

  1. Rinta, saya merekomendasikan “Amba” karya Laksmi Pamuntjak. Sudah baca?
    Tidak untuk dibandingkan dengan “Pulang” tapi memberi warna tersendiri yang membuat keduanya jadi lengkap untuk dinikmati.
    Ohya, saya lagi googling ulasan dan resensi dari “Pulang”, salah satunya tulisan kamu. Ternyata, ini Rinta yang pernah saya dengar ceritanya dari seorang teman.

    Jangan berhenti membaca dan menulis ya.

    1. Halo Kyana, saya sudah baca Amba, mengangkat tema yang serupa dengan Pulang tapi entah kenapa jauh lebih menyukai Pulang. Mungkin karena banyak banget referensi yang dipakai Leila S. Chudori dari buku buku yang saya sukai. Both books do have different flavor and it leaves me with different feeling after I read it.

      I read your blog too, seneng bisa ketemu sesama penggemar Pramoedya.
      Same thing goes to you, jangan berhenti membaca dan menulis juga.
      Terima kasih sudah bermain ke blog saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s