Reminisensi Trisuci Waisak

"Floating Lanterns, Waisak 2012"
“Floating Lanterns, Waisak 2012”

Hari Raya Waisak merupakan hari yang spesial untuk saya.Hari yang jatuh dalam bulan Mei pada waktu purnama sidhi ini merupakan hari yang sakral dengan segala kekaguman saya pada Siddharta Gautama, reminisensi pengalaman Waisak pertama saya di tahun 2012, makna mendalam dibalik prosesi Waisak, dan juga perasaan menenangkan yang saya rasakan di tengah keramaian prosesi ini.

Waisak sendiri dilaksanakan untuk memperingati tiga peristwa penting didalam agama Buddha.Tiga peristiwa itu adalah: 1) Kelahiran Siddharta Gautama, 2) Enlightenment Siddharta Gautama menjadi Buddha ketika sedang bermeditasi dibawah Pohon Bodhi, dan 3) Wafatnya Buddha Gautama.
Di Indonesia, hari suci ini dirayakan di Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.Perayaan Waisak ini dimulai dari prosesi yang dilakukan di Candi Mendut dan di ikuti dengan kirab atau parade dari Candi Mendut ke Borobudur.Setelah mencapai Borobudur, para Bhikku&Bhikkuni akan bermeditasi dan juga membacakan paritta di pelataran sebelah barat Candi Borobudur.Setelah itu prosesi dilanjutkan dengan mengelilingi Candi sebanyak tiga kali sambil membawa lilin dan kemudian diakhiri dengan penerbangan lampion.

Tahun lalu saya mengikuti tour Waisak yang diikuti oleh mama dan kakak saya.Saya dengan excited menyatakan kesediaan untuk menyusul dari Jogja ke Magelang karena saya melihat prosesi penerbangan lampion saat Waisak dari film Arisan 2.Pikiran saya sangat simpel waktu itu: “these are a wonderful photography objects”. Saat itu saya juga sedang tertarik tertariknya dengan ajaran Buddha karena membaca novel Akar dari Dewi Lestari dan jatuh cinta dengan karakter utamanya, seorang pencari kesejatian bernama Bodhi yang merupakan pemeluk agama Buddha. Waisak tahun 2012 adalah pengalaman luar biasa untuk saya, saya merasakan ketenangan yang nyaman ditengah riuh ramai prosesi ini.Ketenangan dalam mendengarkan  Bhikku dan Bhikkuni membacakan paritta dan doa-doa dalam bahasa yang tidak mengerti namun mengantarkan perasaan damai di dalam harmonisasi suara mereka.Perasaan yang mengalir ketika saya berdiri menyaksikan para Bhikku dan Bhikkuni ini persis sama dengan perasaan ketika saya melihat begitu banyak nya umat Islam yang sedang bersujud ke arah Kabbah di Masjidil Haram, atau ketika melihat ritus misa Natal di Vatikan yang ditayangkan di TV.Perasaan yang mengalir dalam melihat prosesi Waisak sama persis dengan kedamaian yang dirasakan ketika melihat orang yang saya sayangi atau melihat keindahan alam.It’s like an infatuation, the different is, an infatuation is short-lived feeling.This one is  more profound, an intense kind of fondness.This is a feeling when certain moment touches the core of your heart and  at first it will gives you a good kind of tiny pinch in the heart but afterwards it leaves you with the sense  of tranquility and serenity.

May 5th 2012, Hari Raya Trisuci Waisak 2012/2556 BE.I felt like Bodhi.I felt those kind of earnest feeling towards the sacred ceremony of Waisak, the way of Buddhism and the teachings of Buddha Gautama.More importantly, I also become enlightened of a certain feeling towards a certain someone.A year ago in Waisak, I opened the path towards a greater love for Gautama’s wisdoms and for one of the most important person in my current life now. 

Maka dari itu, segala kericuhan yang terjadi di Waisak tahun 2013 ini membuat saya sangat-sangat sedih.Kesedihan saya bersumber dari perasaan bersalah yang mendalam karena I failed to pay my utmost respect towards other people’s religion and their sacred ceremony.Terlebih saya sangat mengagumi ajaran Buddha tetapi saya malah menjadi bagian dari orang-orang yang memenuhi Borobudur hanya untuk mencari objek foto yang bagus dan atas dasar reminisensi semata.How selfish, how disrepectful, and how foolish my behavior was.Demi merasakan nostalgia Waisak masa lalu dan merasakan kesenangan dari pemandangan 1000 lampion yang diterbangkan ke langit malam saya telah mengorbankan ketenangan dari kaum Buddhist yang banyak datang jauh-jauh ke Borobduru untuk melaksanakan ritual keagamaan mereka.Sumber kesedihan saya adalah kegagalan saya untuk memaknai Waisak sebagai sebuah prosesi yang suci dengan makna yang mendalam dan bukan hanya sebuah festival lampion dimana saya bisa merasa terhibur.Dan bukankah dalam Islam saya telah diajarkan untuk menghargai agama lain?
Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”

Lalu, dimanakah toleransi saya saat itu?

Waisak saya tahun ini memang tidak seindah Waisak saya tahun lalu, namun dibalik hal ini saya diajarkan banyak hal dan disadarkan untuk tidak bertindak out of my own interest karena Siddharta yang saya kagumi dan agama Islam yang saya percaya pun mengajarkan saya untuk selalu mengedepankan toleransi dalam setiap perbuatan dan untuk memaknai segala hal.Lagipula di umur seperti ini sudah saatnya saya tidak bertindak hanya berdasarkan keinginan dan egoisme semata.Be compassionate towards others, Siddharta said. 

Dan pada akhirnya,
baik tahun ini, maupun tahun lalu.
Waisak selalu datang dengan pembelajaran tersendiri.

 

Advertisements

One thought on “Reminisensi Trisuci Waisak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s