In the hours before KKN

As soon as you start thinking about the beginning, it’s the end.” ― Junot Díaz.

Saya merasa seperti mahasiswa semester pertama lagi di semester ke enam saya ini.Beli ini dan itu, berkumpul dengan teman―kali ini untuk berpisah, bukan untuk mengakrabkan diri, berlama lama di kampus― bedanya dulu berlama lama untuk main main, sekarang berlama lama untuk menenggelamkan diri dalam melankolia, memupuk rasa sentimentil mengingat betapa jarangnya saya akan ke kampus lagi setelah pulang KKN nanti.

When things about to reach the end, reminisensi adalah hal yang paling saya senang untuk lakukan, hal-hal kecil yang biasa saya lakukan jadi terasa luar biasa dan sangat bermakna karena saya tau, after this things will change, bound to change, I want to savor every moments, to embrace my life in Yogyakarta.Jadi, ketika saya benar benar pergi for good, I’ll have good memories to hold on to. Karena seperti kata Murakami, memories will tear you apart, but it will also keep you warm.

KKN.Kuliah Kerja Nyata.
Akhirnya saya sampai pada tahap ini, dua tahun belajar ilmu yang tidak aplikatif dalam pembangunan masyarakat secara praktis (karena kebanyakan teori dan analisis tapi tidak pernah diajarkan untuk terjun langsung membantu masyarakat) dan kemudian di tahun ketiga harus menerjunkan diri ke masyarakat, berbagi ilmu, mengabdi, berbakti pada bangsa.Banyak yang bertanya-tanya―teman saya yang bukan anak UGM: “kenapa saya harus KKN padahal jurusan saya Ilmu Hubungan Internasional?, Bukankah lebih ada manfaatnya kalau saya magang saja di Deplu, MNC, Asean, dkk?”
Honestly? secara langsung memang tidak ada manfaatnya, anak HI lalu KKN palingan nanti mengajarkan bahasa Inggris, bantu ibu-ibu PKK masak, bangun gapura, ngajarin TPA, optimalisasi Karang Taruna dll.No one wants to hear about realism, liberalism, atau digurui soal resolusi konflik, dll.Bukan nya merasa KKN tidak berguna, saya malah merasa sangat kecil dan tidak berguna, saya disadarkan bahwa ilmu saya tidak menyentuh tanah, terlalu jauh dari bumi dan saya pun terlalu jauh dari hal yang saya visi kan akan saya bangun. Bagaimana akan membangun kalau berinteraksi pun saya tidak pernah?

Maka dari itu, I choose to look at the bigger picture. 2 bulan, tanpa kenyamanan yang biasa didapatkan, sebagian teman-teman hidup di tempat yang tidak ada sinyal, we’re being stripped off out of our comfort zone and I will always always remember this quote whenever I’m about to leave the comfort zone of mine.“There’s no growth in comfort zone.there is no comfort in the growth zone.”
Ditempatkan di suatu posisi penuh keterbatasan, akan membuat seseorang lebih bersyukur.Because we’ve been exposed to better things, dan ketika kembali lagi dalam a cocoons of comfort dan didera rasa tidak cukup, maka waktu waktu dalam keterbatasan akan selalu mengingatkan kembali bahwa kita cukup, bahwa God is great, too great, too nice for us who rarely say thank you God for all the blessings that He pours upon us.

Jadi, selamat tinggal untuk sementara Jogja.Besok saya akan pergi sebentar ke Lembang, Jawa Barat dengan harapan harapan dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang dapat saya bantu disana meskipun ilmu yang saya pelajari tidak dapat digunakan.
Maafkan saya ya Jogja.Saya emang sering ngeluh dengan segala keterbatasan di kota ini, dan kemacetan nya, dan betapa susahnya cuma buat nonton film terbaru karena XXI nya cuma dua, but upon leaving and knowing that my time with you is coming to an end, saya sadar..banyak hal telah merubah saya selama disini, dan kota ini adalah pelajaran demi pelajaran dalam kehidupan.

Dan selamat KKN teman-teman HI UGM 2010, see you in 2 months.Every things that’s been fated upon us is God’s way to teach us to grow into a better person, to make us more mature, to prepare us for the greater things in life. Semoga kita semua menjadi orang yang lebih baik lagi setelah kembali dari KKN, karena sebaik baik nya manusia adalah yang berguna bagi sesamanya.

And as always, Jogja’s weather always feels the nicest when I’m about to leave.

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua.Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku.Di dalam Pancasilamu jiwa seluruh nusaku.Kujunjung kebudayaanmu kejayaan Indonesia.Bagi kami almamater kuberjanji setia.Kupenuhi dharma bakti tuk Ibu Pertiwi.Di dalam persatuanmu jiwa seluruh bangsaku.Kujunjung kebudayaanmu kejayaan Nusantara”

An afterthought:
“Seringkali saya gerah dengan universitas saya, lokasi nya yang di Yogyakarta, embel embel kerakyatannya yang seakan memaksa semua mahasiswa nya untuk merakyat dan hidup nelangsa bersama rakyat (dan bukan nya untuk membangun rakyat agar sama sama tidak nelangsa), ribetnya birokrasi kampus, sampai dengan keputusan bahwa KKN adalah syarat mutlak bagi mahasiswa UGM untuk lulus dari universitas ini.Tapi sesungguhnya, saya sangat sangat berterima kasih kepada UGM karena mewajibkan KKN, kalau tidak begini kapan lagi saya diberikan kesempatan untuk melihat kehidupan lebih dekat? untuk bersentuhan dengan mereka yang seharusnya saya sebagai mahasiswa ini perjuangkan? buat apa pintar kalau hanya bermanfaat untuk diri sendiri? Karena nya saya ingin selalu mengilhami kata kata Pramoedya bahwa “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” ― Pramoedya Ananta ToerThis Earth of Mankind

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s