Menurunkan Tangan

Baru baru ini saya belajar mengenai dua hal menarik di kelas Strategi.
Pertama, saya belajar mengenai memilih preferensi dari banyaknya pilihan yang terpapar didepan mata. Saya disadarkan bahwa saya ini mahluk sosial dengan preferensi untuk minum Ades dan bukan Aqua, makan nasi dan bukan kentang, mobil Chevrolet dan bukan Honda, Dewi Lestari dan bukan Ayu Utami, Fitzgerald dan bukan Hemingway, kopi dan bukan teh, serta sederetan preferensi lainnya yang secara sadar saya pilih sendiri.
Kedua, saya belajar bahwa saya tidak memiliki kepercayaan terhadap banyak hal, terutama lembaga pemerintahan dan partai politik. Hal ini saya ketahui ketika menjawab pertanyaan kuis dari Mbak Titik dan Pak Rizal dimana saya harus menuliskan lembaga – lembaga di Indonesia yang saya percayai dan tidak percayai.

Lucu memang ketika status saya sebagai mahasiswi Ilmu Sosial dan Politik malah menumbuhkan skeptisme dan apatisme saya terhadap dunia politik di Indonesia. Saya kira kalau saja saya tidak mengambil jalan ini mungkin saya tidak tau dan atau peduli – peduli amat bahwa media itu alat propaganda, birokrasi itu harusnya lebih mudah dari ini, pendidikan itu modal pembangunan bangsa, dan partai politik di Indonesia itu kebanyakan melenceng dari ideologi atau bahkan tidak punya ideologi sama sekali.

Kurang dari 2 minggu lagi tahun 2013 akan segera tergantikan dengan tahun 2014, bangsa Indonesia sedang bersiap – siap menyambut salah satu pesta demokrasi terbesar, pemilihan umum presiden Indonesia. Capres dan cawapres dari partai – partai ternama tampak sudah memenuhi billboard di jalan – jalan besar kota Yogyakarta dan juga seringkali muncul sebagai iklan di media massa. Menjamurnya iklan – iklan ini bukannya meningkatkan simpati saya namun malah membuat saya jengkel. Nama – nama yang muncul ke permukaan dan wajahnya menghiasi papan iklan malah membuat saya muak. Seringkali saya heran dengan tokoh – tokoh besar ini yang sudah jelas diketahui bahwa sejarahnya buruk namun tanpa tedeng aling – aling berani muncul dihadapan rakyat dengan slogan – slogan penuh hipokrisi seperti “bersih, amanah, tegas, jujur, adil, cinta rakyat, dll” dan sederetan janji – janji palsu lainnya.

Lalu saya sadari, betapapun muaknya saya dengan dunia politik dan lelahnya saya dengan berita mengenai keterpurukan bangsa Indonesia, saya masih seorang mahasiswa, umur saya 21 tahun, saya punya idealisme – idealisme naif. Saya sadar, sebagai seorang manusia, seorang mahasiswa, seorang anak muda di generasi baru, saya merindukan perubahan.

Rindu adalah kata – kata yang tepat. Karena saya betul – betul merindukan perubahan. Saya tidak ingin selepas kuliah saya melarikan diri dari bangsa ini karena sudah terlalu lelah akan berbagai berita buruk mengenai korupsi, dinasti politik, dan segala hal tidak tau malu lainnya yang dilakukan oleh pejabat – pejabat pemerintahan Indonesia. Saya tidak ingin menjadi orang yang memalingkan muka dan memutuskan untuk tidak peduli.
Saya ingin melakukan hal yang sebaliknya. Saya ingin secara antusias mengikuti perkembangan politik di Indonesia. Saya ingin suatu perubahan yang digerakkan oleh sosok yang inspiratif yang memiliki visi dan misi serta ideologi yang sesuai dengan preferensi saya.
Iya, preferensi, karena saya mahluk sosial, seorang manusia dengan preferensi. Maka, Desember 2013 ini menjadi pertanda bahwa saya telah memilih preferensi untuk pemilihan presiden mendatang.

Saya memilih untuk
Turun Tangan.

Sosok yang saya pilih ini belum resmi menjadi calon presiden dari Partai Demokrat, namun beliau merupakan salah satu calon presiden dari Konvensi Partai Demokrat. Beliau adalah Anies Baswedan, bukan seorang politisi melainkan akademisi lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Secara pribadi, beliau adalah sosok yang sangat saya idolakan karena dedikasinya terhadap dunia pendidikan dan program luar biasa yang dia ciptakan, Indonesia Mengajar. Terjunnya dia ke dunia politik dengan menjadi salah satu peserta konvensi tidak membuat saya menjadi skeptis terhadap motivasi dibalik pencalonannya karena saya mempercayai bahwa motivasi utama beliau adalah mencerdaskan bangsa. Pertemuan pertama saya dengan dia di suatu acara membuat saya semakin terkagum – kagum karena keramahannya dan kesediaannya untuk bercakap – cakap barang sedikit dengan mahasiswa yang mengerubunginya dan menanyakan berbagai hal. Pergerakan politiknya yang didukung oleh para relawan yang turut membantu tanpa dibayar sepeserpun dan bukan melalui pemasangan iklan secara berlebihan membuat saya percaya bahwa dia adalah calon yang berbeda, seseorang yang mendapatkan dukungan dari orang – orang yang merindukan perubahan.

Dan kemudian, alasan utama saya  atas pemilihan preferensi ini adalah dedikasi Anies terhadap pendidikan. Saya memiliki kepercayaan bahwa pendidikan yang membentuk karakter merupakan modal kuat pembangunan bangsa. Bangsa – bangsa Asia Timur seperti Korea Selatan dan Jepang yang saya kagumi karena berhasil membangun ekonomi negaranya merupakan bangsa – bangsa yang menekankan kepada pendidikan dan pengembangan karakter sebagai modal utama bangsa.

“Caranya kita fokus pada manusia. Pembangunan itu, bukan untuk mengubah angka laporan. Pembangunan itu tentang manusia indonesia dan untuk manusia Indonesia.” – Anies Baswedan.

Anies percaya itu, Anies tau betul hal itu karena dia adalah praktisi pendidikan. Langkah konkritnya untuk pendidikan Indonesia menjadi modal sosial bagi saya untuk turut serta dalam memperjuangkan Anies sebagai capres melalui Konvensi Partai Demokrat.

Link wawancara Anies Baswedan tentang mengapa Anies memilih untuk mencalonkan menjadi Capres 2014 : http://aniesbaswedan.com/anies-baswedan-capres-2014

Saya pilih berbuat, pilih berjuang. Dengan cara yang benar dan bersama dengan orang-orang baik, karena itu saya ajak Anda ikut turun tangan, ikut berjuang.

https://i1.wp.com/kilatstorage.com/static.turuntangan.org/images/20131102TrystKemang/TurunTanganAB-94.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s