Review Buku: Are You Living in the Present?

“..I am a time being. Do you know what a time being is? Well, if you give me a moment, I will tell you. A time being is someone who lives in time, and that means you, and me, and every one of us who is, or was, or ever will be.”
Ruth Ozeki, A Tale for the Time Being

Saya baru saja selesai membaca buku pertama di tahun 2014, buku ini menjadi pilihan karena sudah berkali – kali saya lihat di Kinokuniya namun selalu saya abaikan karena harganya yang masih mahal tapi kemudian saya berhasil mendapatkan eBook nya. Kedua, karena dari nama penulisnya bisa ditebak bahwa dia keturunan Jepang. Setahun belakangan ini saya sedang tertarik untuk membaca buku – buku dari penulis Jepang selain Murakami, walaupun pada akhirnya saya baru menyelesaikan satu buku saja dari seorang penulis bernama Banana Yoshimoto. Setidaknya dari perbandingan antara Murakami dan Yoshimoto saya mendapatkan kesamaan bahwa buku – buku mereka identik dengan frasa frasa seperti : alienated, desolation, murky, eerie, melancholy, loneliness. Seperti dihadapkan pada dinding kosong untuk kemudian memberikan makna yang tidak bisa dituliskan tapi hanya bisa dirasakan.

Ruth Ozeki tidak bisa dibilang penulis Jepang, dia lebih seperti Kazuo Ishiguro yang merupakan keturunan Jepang namun besar diluar Jepang. Ozeki lahir dan besar di Connecticut, Amerika Serikat, namun mendalami studi tentang Asia dan pergi ke Jepang untuk belajar sastra klasik Jepang di Universitas Nara. Jadi tidak seperti Ishiguro yang bukunya sangat barat (cenderung seperti English novelist bukan Japanese novelist), buku Ozeki masih diwarnai dengan nuansa – nuansa khas Jepang.

Buku Ruth Ozeki yang saya baca berjudul A Tale for the Time Being, menceritakan tentang remaja Jepang bernama Nao yang teralienasi dari lingkungannya dan hidup dengan keluarga yang bermasalah dan seorang novelis bernama Ruth yang tinggal di pulau terpencil di British Columbia, Kanada. Buku ini sangat menarik dalam artian ketika pertama kali saya membaca, saya mengalami kesusahan untuk berhenti membaca dan melakukan aktivitas lain karena saya dipenuhi rasa penasaran tentang kelanjutan dari cerita ini. Saya merasa seperti Ruth yang terobsesi dengan cerita – cerita tentang Nao. Gaya penulisan Nao mengingatkan saya pada Holden Caulfield tapi versi perempuan, dan tinggal di Jepang. Dua – duanya sama – sama teralienasi dari lingkungannya dan memutuskan untuk menarik diri dari lingkungan dan mencari suaka pada hal lain selain interaksi sosial. Dalam buku ini diceritakan bahwa suaka Nao adalah buku hariannya yang diisi cerita – cerita mengenai Jiko, nenek buyutnya, dan Haruki Yasutani #2, ayahnya.

Saya pribadi paling menyukai cerita tentang Jiko, nenek buyut Nao yang merupakan biksu Zen Buddhism. Digambarkan sebagai seseorang yang sangat peaceful, heartwarming, dan lovable. Mengingatkan kepada oma saya yang membuat siapapun yang mengenalnya akan jatuh sayang, begitu pula dengan Jiko. Jiko yang memutuskan untuk menjadi biksu Zen setelah anak pertamanya dikirim menjadi pilot kamikaze pada masa Perang Dunia II. Jiko mempunyai harapan bahwa tidak akan lagi terjadi perang apabila segala sesuatu diselesaikan dengan perdamaian dan cinta. Selain itu cerita Nao menyadarkan saya bahwa not fully living in the present is what causing you sadness, Nao selalu merindukan kehidupannya yang lama maka dari itu dia merasa teralienasi dengan hal – hal disekitarnya. Kedekatan Nao dengan Jiko sedikit demi sedikit memberikan Nao  a purpose to live the life untuk menceritakan tentang Jiko.

Belakangan ini saya memang sedang tertarik dengan ajaran Zen Buddhism jadi mengetahui fakta bahwa Ruth Ozeki merupakan Zen Buddhism priest dan bahwa buku ini banyak memiliki referensi dengan Zen Buddhism membuat saya senang. Contohnya adalah narasi Nao dibawah ini:

“Old Jiko is supercareful with her time. She does everything really really slowly, even when she’s just sitting on the veranda, looking out at the dragonflies spinning lazily around the garden pond. She says that she does everything really really slowly in order to spread time out so that she’ll have more of it and live longer, and then she laughs so that you know she is telling you a joke.”
Ruth Ozeki, A Tale for the Time Being
Membayangkan seseorang yang benar – benar menikmati setiap detik dalam hidupnya adalah gambaran yang menyenangkan untuk saya yang hidup dalam dunia yang penuh dengan keterburu – buruan. Membayangkan seseorang yang tidak diburu waktu dan menikmati setiap detik dalam hidupnya untuk berterimakasih pada Tuhan disegala hal yang dia lakukan merupakan inti dari ajaran Zen yang sangat saya senangi. Sebagai manusia produk abad ke-21, jarang sekali rasanya saya punya waktu untuk berhenti dan diam sejenak dan bernafas untuk bersyukur pada Tuhan. Membaca buku ini bukan hanya pengalaman yang menyenangkan karena ceritanya yang seru namun juga suatu pengingat bahwa untuk taming down anxiety and feel connected to the world, we need not to run to the mountains nor ocean nor temple or shrines but just to sit quietly and breathe.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s