Too Much This Way

Penulis kesukaan saya pernah berbicara tentang kata klise bernama cinta. Fitzgerald berkata dalam salah satu bukunya bahwa “There are all kinds of love in this world, but never the same love twice.”Β 

Saya baru memahami kebenaran dari kalimat tersebut ketika saya jatuh cinta lagi setelah mengalami masa – masa gelap dimana saya kehilangan harapan bahwa saya dapat jatuh cinta lagi. Tuhan selalu datang dalam kejutan tidak terduga dalam kehidupan. Dan kejutan tersebut datang pula pada saya di akhir – akhir tahun perkuliahan Β dalam wujud karakter yang sangat menarik apabila diceritakan dalam narasi novel romantis dimana dia diceritakan sebagai sesosok yang baik hati, luar biasa sabar dan penyayang. Saya menilai diri sebagai orang yang sentimentil dan tidak logis, saya percaya pada garisan cerita Tuhan tentang bagaimana manusia memiliki garis – garis kehidupan sendiri dan pada suatu saat apabila Tuhan mengamini, maka garis tersebut akan bertemu. Garis saya dan dia telah berjalan secara paralel selama kurang lebih dua tahun, namun garis tersebut tidak pernah bertemu di satu titik temu yang menghubungkan garis kehidupan saya dan dia.

Tapi Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan umatNya, ketika dia mempertemukan garis – garis kehidupan manusia maka bersamaan dengan itu datanglah pembelajaran – pembelajaran dan sebuah kisah baru pun dimulai.

Dalam setiap novel romantis yang klise, si tokoh utama selalu memiliki sifat yang bertolak belakang dengan orang yang disukainya. Begitu pula dengan saya dan dia. Dia adalah antitesis dari setiap sifat – sifat saya, mungkin hanya sifat keras kepala kami yang mirip, persamaan sifat yang sangat menyusahkan ketika kami tengah berargumen dan dalam diam kami sama – sama tidak ingin mengalah.

Tapi diluar itu, dia adalah antitesis saya atau lebih tepatnya sebuah antidode, penawar dari sifat – sifat beracun saya seperti kemanjaan berlebihan, keteledoran, dan lain – lain.

Saya sering menggodanya, mengatakan bahwa dia adalah pribadi yang terlalu lemah dan tidak mandiri namun sesungguhnya dialah yang mandiri dan sayalah yang terlalu manja, dialah yang selalu kuat dan saya lah yang lemah dengan segala kesensitifan serta perasaan sentimentil saya yang mengakar. Dari dia saya belajar untuk lebih tidak egois dalam konteks hubungan antara kemauan saya dan ibu saya. Dari dia juga saya belajar untuk bersabar dan tidak mengeluh akan keterbatasan. Dia juga mengajari saya tentang indahnya hidup dalam kesederhanaan dan bagaimana kebahagiaan dapat datang dari hal – hal sederhana.

Dia pribadi yang sederhana tapi begitu luar biasa. Dan saya adalah orang yang menganggap diri ini luar biasa tapi jauh dari kebahagiaan dan kesederhanaan.

Mengenalnya menenangkan saya, saya pribadi yang jauh dari tenang dan dia selalu tenang. Dia mengingatkan saya pada samudra dan langit diangkasa, mungkin karena dia suka dengan warna biru tetapi bisa jadi karena dia adalah pribadi yang tenang bagaikan samudra dan langit namun luas, dalam, dan penuh pemahaman dan pembelajaran tentang kehidupan.

Ketika saya jatuh cinta lagi, saya baru benar – benar paham bahwa cinta saya kali ini adalah cinta yang mengenal keterbatasan yang tau akan hasil akhir namun tetap menikmati apa yang kami punya sekarang karena dari dia saya belajar bahwa cinta tidaklah harus berujung pada memiliki satu sama lain tetapi lebih pada apa yang dapat kami pelajari dari satu sama lain tentang kehidupan. Dan pelajaran yang dia bawa adalah salah satu pelajaran yang paling berharga yang bisa saya dapatkan. Duapuluh tahun hidup dalam kehidupan yang membiasakan saya untuk tidak mengenal keterbatasan tapi kali ini saya diajarkan tentang bagaimana mencintai dan menyayangi dalam keterbatasan namun tetap berterimakasih terhadap Tuhan.

Dari dia saya selalu melihat sisi – sisi terang dalam kehidupan dan tidak lagi melihat sisi – sisi gelap.

Besok saya harus pergi lagi untuk kesekian kalinya, saya dua tahun yang lalu akan gelisah akan kepergian tetapi saya saat ini pergi dengan ketenangan karena saya memiliki kepercayaan yang luar biasa pada dia. Bulan ini kami akan pergi meninggalkan Yogyakarta, tempat kami bertemu tapi tentunya bukan tempat kami berpisah karena masih ada waktu tersisa yang cukup bagi kami berdua untuk saling belajar tentang kehidupan dari satu sama lain.

Terima kasih karena sudah mengajarkan saya tentang kesyukuran pada Tuhan dan kecintaan ditengah keterbatasan.

No star-gazing late at night
And no candle light
No French-speaking, no moonlight
It just came out right

No wondering words to say
And no music play
It’s just simply found today
Love’s too much this way

Beauty’s what I’ve found in you
And true romance, too
There won’t be just “I love you”
What I’ll say to you

No pretending to be nice
I won’t need it twice
I will go and tell all the guys
About the magic in your eyes

It takes no moon, it takes no sunshine
And neither June with the bluest skies
He wore no perfume, I brought no wine

My love is hims, his love is mine.

– Song by Float, Too Much This Way.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s