Sepuluh Tahun Elegi

“If you gave someone your heart and they died, did they take it with them? Did you spend the rest of forever with a hole inside you that couldn’t be filled?”

Jawabannya adalah iya. Ada kesedihan dan kepahitan yang tidak lekang oleh waktu, yang datang dalam keheningan malam ketika manusia – manusia terlelap dan anda terjaga dalam pelukan bernama kematian. Kesedihan akan kepergian seseorang meninggalkan luka yang terus terbuka, membuat anda berjalan di muka bumi sebagai manusia dengan lubang di hati dan luka tidak terlihat yang tidak dapat disembuhkan dengan kebahagiaan macam apapun juga. Ironi dari kesedihan akan kematian adalah bahwa kesedihan tersebut hanya bisa dihilangkan apabila yang ditinggalkan mati juga, menyusul yang meninggalkan ke alam dimana tidak ada kesedihan karena tidak ada lagi yang namanya tinggal meninggalkan. Kematian hanya dapat disembuhkan dengan kematian.

“When someone you love dies, and you’re not expecting it, you don’t lose them all at once; you lose them in pieces over a long time—the way the mail stops coming, and their scent fades from the pillows and even from the clothes in their closet and drawers. Gradually, you accumulate the parts of them that are gone. Just when the day comes—when there’s a particular missing part that overwhelms you with the feeling that they are gone, forever—there comes another day, and another specifically missing part.”

Sepuluh tahun sudah saya berjalan di muka bumi sebagai manusia dengan luka menganga yang tidak dapat diobati dan terus terakumulasi. Adakah obat dari rasa sedih karena ditinggalkan oleh yang tercinta untuk selamanya ? Saya rasa bahkan ilmuwan terpintar pun tidak dapat menemukan obat penawar dari luka yang bahkan tidak terlihat dalam bentuk fisik. Sepuluh tahun sudah saya merindu tanpa henti kepada orang yang paling saya kagumi, orang yang selalu menjadi panutan dan acuan saya dalam hidup. 22 tahun hidup didunia, sejak saya sudah bisa berpikir dan memiliki ambisi dan mimpi ada satu ambisi yang terus – menerus saya ulang dalam hati seperti mantra kehidupan.

“Saya harus jadi orang yang cerdas seperti Papa”

“Saya harus jadi orang yang cerdas seperti Papa”

“Saya harus jadi orang yang cerdas seperti Papa”

Ada rasa bangga yang tidak dapat saya sembunyikan apabila keluarga atau teman keluarga membandingkan kecerdasan saya dengan Papa. Karena  saya tidak hanya ingin mewarisi alis tebal, kulit coklat, dan senyum mengesalkan dari Papa tapi saya juga ingin mewarisi kecerdasan dan kebaikan hatinya. Dari beranjak remaja saya mengakrabkan diri dengan berbagai macam buku warisan dari kakak – kakak saya, selain karena hobi yang memang menurun dalam keluarga, saya juga mengakrabkan diri dengan harapan saya akan menjadi manusia yang cerdas dan memiliki pikiran terbuka seperti Papa. Saya tidak mewarisi nama kakak pertama saya yang memiliki arti dewi Ilmu Pengetahuan dan kepintaran yang dimiliki olehnya. Karena itu saya perlu berusaha ekstra keras untuk tetap loyal pada legacy kecerdasan yang ingin saya warisi dari Papa. Sayangnya ketika saya berhasil masuk kedalam sekolah – sekolah yang cukup membanggakan, Papa sudah tidak ada lagi dalam bentuk fisik untuk menggoda saya kenapa anak kecil pemalas ini dapat masuk ke sekolah yang cukup membanggakan. Saya seringkali bertanya reaksi seperti apa yang akan dia berikan pada saya dengan pencapaian saya sejauh ini ? Kebahagiaan yang saya rasakan ketika saya berhasil masuk SMA Negeri 8 Jakarta dan lebih – lebih ke Universitas Gadjah Mada dan lulus dari keduanya selalu diiringi dengan kesedihan mendalam karena saya selalu tenggelam dalam perandaian dan keingintahuan bagaimanakah reaksi dari Papa apabila dia tau saya sudah menjadi Sarjana Ilmu Politik. Cukupkah saya membuat dia bangga walaupun saya lulus dari SMA dengan nilai 2 di pelajaran Matematika dan diluluskan jadi sarjana tanpa mengalungkan selempang cum laude sementara dia selalu berprestasi secara akademik?

Sudah sepuluh tahun berlalu dan tidak sedikitpun kesedihan saya berkurang, malah terkadang saya merasa beban kesedihan semakin bertambah. Mengingat akan ada banyak pencapaian yang ingin saya raih dan saya berharap dapat menunjukkannya pada dia. Ada banyak hal – hal yang ingin saya pelajari dan saya ingin diskusikan dengan dia karena saya percaya dia memiliki jawaban atas semua hal yang mungkin saya tanyakan pada dia.

Papa, apakah menurut Papa aku dapat berkontribusi terhadap pembangunan negara ini ? Merevolusi mental dari bangsa ini agar menjadi bangsa yang menghargai pendidikan dan ingin maju? Jalan karier seperti apakah yang harus aku ambil dan model ekonomi pembangunan seperti apakah yang harus aku pelajari agar aku dapat mengubah Indonesia menjadi negara yang bangga akan karakternya sendiri dan terbebas dari mental negara terjajah yang hanya bisa mengagungkan negara lain tanpa mencintai negaranya sendiri?

Saya tetap bertanya dalam kepala, menghasilkan monolog – monolog tidak terjawab meskipun saya tau pertanyaan saya tidak lagi mendapatkan jawaban diujung sana. Pertanyaan saya hanya menggema dalam kepala dan  dijawab oleh ruang hampa dan tangis yang tertahan di tengah malam. Tapi semakin saya beranjak secara umur, semakin saya berambisi untuk bisa memiliki pencapaian yang lebih dari Papa karena meskipun Papa tidak ada lagi secara fisik tetapi Papa dan tentunya Oma telah menjadi motivasi terkuat saya dalam mencapai segala sesuatu. Terlebih lagi kehilangan Papa dan Oma juga mengubah Mama menjadi pribadi yang lebih sering bersedih, oleh karena itu ketika saya sudah mulai paham tentang perjuangan dan kehidupan, saya menyadari bahwa pencapaian saya akan kebahagian tidaklah lagi pencapaian egoistik untuk diri sendiri tapi untuk Papa, Oma, Mama, dan keluarga saya yang selalu percaya bahwa saya mewarisi legacy Papa dengan kecerdasannya walaupun saya sendiri sangsi dengan pernyataan tersebut.

 

Sudah sepuluh tahun

dan

Saya rindu sekali

Tawanya yang mengolok-olok

Komentar politiknya yang menohok

dan

Figurnya di ruang tengah

tertidur dengan kucing di dada

atau tengah membaca

dengan kacamata 

dan muka menerka

tenggelam oleh romantisme kata

dalam buku yang terbuka

Saya tidak bisa lupa

Malam ketiga

dimana

dia dibawa

dari hadapan saya

tanpa penjelasan apa – apa

Saya tidak mungkin lupa

ketukan pintu yang tergesa – gesa

dan wajah – wajah yang mengiba

perasaan hampa yang tidak mereda

 

Saya yang berumur dua belas tahun

berujar

mungkin mereka hanya bercanda

mungkin dia akan kembali dari dinas kerja

mungkin tidak hari ini

mungkin esok

atau sebulan lagi

atau dia salah berbelok

 

Saya menunggu

sepuluh tahun

menanti dia dalam diam

mungkin dia kembali sebentar lagi

membawakan saya coklat dari Belanda seperti kemarin

atau mungkin Playstation terbaru

dan dia masih juga tidak ada

Chris Martin of Coldplay – O (Ghost Stories Hidden Track)

“Still I always
Look up to the sky
Pray before the dawn
‘Cause they fly away
One minute they arrive,
Next you know they’re gone
They fly on
Fly on

So fly on
Ride through
Maybe one day I’ll fly next to you
Fly on, ride through
Maybe one day I can fly with you”

 

Advertisements

2 thoughts on “Sepuluh Tahun Elegi

  1. Om papa must be proud of you over all the achievements – the ones which you don’t even consider as achievements, your efforts and with your purposes in life. Right now he must be smiling and missing you – and of course your mom and sisters too above the horizon. He must be glad to see how well you’ve grown up. You miss him, but of course he misses you more. It’s okay to always miss him and oma. Keep living the life that will make you proud of, and don’t ever persuaded by the bitterness in life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s