Review Buku: Gelombang – Dee Lestari

1413715216.192366.IMG_0647

Judul Buku: Gelombang

Penulis: Dewi Lestari (Dee Lestari)

Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih

Penerbit: Bentang Pustaka

Harga: IDR 79,000

Halaman: 465 halaman.

Kemacetan Jakarta di hari Jumat yang sudah terkenal ganas dan mematikan jiwa tidak menyurutkan keinginan saya untuk beranjak dari kantor di bilangan Kuningan menuju ke Grand Indonesia di bilangan Sudirman. Alasannya sederhana, bahkan terdengar tidak masuk akal. Namun bagi teman – teman yang tau bagaimana rasanya jatuh cinta pada suatu serial buku tentu sudah tidak adengan perasaan tidak menentu dan menggebu – gebu setiap kali buku terbaru dari serial yang diikuti keluar di pasaran.

Jumat kemarin bertepatan dengan terbitnya buku Gelombang yang ditulis oleh Dewi Lestari. Buku ini merupakan buku kelima dari serial buku Supernova dimana buku terakhirnya, Partikel, keluar dua tahun yang lalu di tahun 2012. Serial Supernova sudah berjalan selama kurang lebih 13 tahun. Dewi Lestari yang akrab dikenal dengan nama Dee ini memulai penulisan serial Supernova dengan buku berjudul Ksatria, Puteri, dan  Bintang Jatuh (KPBJ) di tahun 2001. Saya sendiri baru mengetahui tentang serial ini diawal tahun perkuliahan saya atau tepatnya pada tahun 2010, 9 tahun setelah KPBJ diterbitkan. KPBJ merupakan buku yang rumit dengan percakapan – percakapan yang bikin mumet antara Dimas dan Reuben, tokoh utama dari KPBJ yang secara inception menulis kisah utama antara Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh itu sendiri. Singkat cerita, setelah perkenalan saya dengan KPBJ saya menjadi kecanduan dengan buku – buku serial Supernova dan dengan tokoh – tokoh didalamnya. Dengan keluarnya Gelombang, Dee mengenalkan tokoh Supernova kelima bernama Alfa, si “Gelombang”.
Sebelumnya Dee telah mengenalkan pembaca dengan Diva si Bintang Jatuh, Bodhi si Akar, Elektra atau Etra si Petir, dan Zarah si Partikel. Dari keempat tokoh yang muncul sebelum Alfa, saya selalu paling menyukai Bodhi dan buku Akar secara umum. Kesukaan saya berangkat dari pribadi Bodhi yang free-spirited dan seorang Buddhist. Selain ketertarikan khusus saya pada ajaran Buddha, saya juga menyimpan rasa iri pada kehidupan Bodhi yang begitu bebas dan penuh dengan petualangan. Karakter Bodhi begitu mengena di hati saya sampai – sampai saya ingin melukiskan tato di tubuh saya dengan huruf sansekerta dari Bodhisattva. Selain sebagai referensi dari Bodhi, saya juga menyukai arti dari Bodhisattva sendiri yang memiliki arti “The Enlightened Being”, yang tercerahkan.

Kembali lagi pada Alfa. Dari lembar pertama buku ini Dee sudah mengenalkan saya sebagai pembaca kepada budaya yang belum saya ketahui sebelumnya, budaya Batak, budaya asli dari Dewi Lestari sendiri. Alfa memiliki nama lengkap Thomas Alfa Edison, hasil dari obsesi bapaknya yang memiliki keinginan untuk punya anak insinyur dan juga referensi dari budaya Batak yang terkenal sering menamai anak – anaknya dengan nama tokoh – tokoh populer. Dari awal penulisan buku pun Dee sudah menyiratkan bahwa Alfa adalah anak yang “berbeda”, hal yang saya temui juga pada tokoh – tokoh sebelumnya seperti Zarah, Bodhi, Diva dan Etra. Dimata orang – orang, Alfa hanyalah anak biasa, si bungsu yang selalu menangis ketika mendengar Gondang, musik ensembel Batak Toba, hingga harus diungsikan kerumah sepupunya setiap bapaknya yang pemain Gondang harus melaksanakan upacara tradisional Batak dengan menggunakan Gondang. Pun saya melihat karakteristik “anak biasa” ini pada Etra dan Zarah, Etra dianggap tidak memiliki keunggulan apapun dan dia sendiri mengklaim dirinya hanya jago tidur siang. Sementara Zarah meskipun memiliki kecerdasan luar biasa dianggap sebagai anak yang aneh karena kedekatannya dengan bapaknya, Firas,  si penggila ilmu pengetahuan yang dianggap melanggar batas – batas keagamaan oleh keluarga mereka yang sangat Islami. Namun pada akhirnya, ada keanehan dan keunikan yang dimiliki Alfa, yang membedakannya dengan anak – anak lain seperti halnya dengan Etra dan Zarah. Alur cerita akhirnya membawa pembaca pada kesimpulan bahwa Alfa, Etra, Zarah, Bodhi, dan Diva merupakan manusia – manusia yang memiliki “greater destiny calling” dan “purpose of life” yang harus mereka penuhi. Seperti halnya empat buku sebelumnya, Gelombang sarat dengan tema “aktualisasi diri” dan “pencarian identitas”. Setiap karakter Supernova (selain Diva) merasa bahwa mereka hanyalah manusia – manusia pada umumnya namun serentetan kejadian membuka tabir bahwa mereka sebenarnya “more than what they know about themselves”.

Saya tidak akan menceritakan lebih banyak tentang keanehan apa yang dimiliki Alfa melainkan saya akan kembali mengulang pernyataan yang saya tulis ketika saya menulis review tentang Partikel: Dewi Lestari adalah penulis yang jenius karena tidak hanya diberkati oleh kemampuan berkata – kata yang luar biasa namun Dee juga dibekali dengan konsistensi riset mendalam yang seringkali menggagalkan penulis – penulis ketika ingin menulis sesuatu yang “meyakinkan”. Di buku Partikel, Dee membawa pembawa mengikuti jejak petualangan Zarah dari Bogor, Tanjung Puting, hingga ke London. Di buku tersebut, Dee mengeksplorasi tema – tema yang mengingatkan saya pada content dari blog misteri Enigma, yaitu tema – tema tentang alien, teori konspirasi, dan new age religion. Di buku Gelombang kali ini, Dee mengenalkan saya sebagai pembaca kepada eksplorasi tentang alam mimpi, sebuah subjek yang dibahas Dee berangkat dari ketertarikannya kepada dunia mimpi itu sendiri. Dee mengenalkan pembaca kepada istilah – istilah seperti Oneironautics, lucid dreaming, dream yoga, dan hal – hal lain yang berhubungan dengan dimensi alam mimpi. Pembaca dibawa lagi menyentuh batas antara realita dan fiksi melalui petualangan Alfa.

Alfa adalah tokoh yang menarik, sangat menarik karena disaat bersamaan dia sangat “manusiawi” namun juga memiliki keanehan – keanehan yang menjadikan dia berbeda. Sebelumnya saya berkata bahwa saya sangat menyukai Bodhi dan Akar, tetapi dengan selesainya saya membaca Gelombang, saya menemukan “idola” Supernova yang baru, yaitu Alfa. Setiap kali saya menyukai tokoh dalam buku, itu selalu didorong pada rasa iri saya terhadap kehidupan yang mereka miliki atau karakter yang mereka punyai yang saya anggap “keren”. Bagi saya Alfa itu “keren” dan saya iri pada kehidupannya yang penuh dengan petualangan, iri dengan kegigihannya dan kemampuannya untuk terjaga dan melahap berbagai macam buku (he’s a speed reader). Namun karakter Alfa bukan tanpa cacat, Alfa dengan kecerdasannya yang diatas rata – rata memiliki bumbu – bumbu arogansi dan seringkali Alfa tidak sabaran dan gegabah dalam aksi – aksinya. Belum lagi keinginannya untuk selalu bergerak sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Nonetheless, he’s a great character and a character that will make you fall in love easily (Dee desribes him as hot, exotic, and overall good looking). 

Alur cerita dari Gelombang sangat mengalir, seperti gelombang (gelombangception) dan kali ini petualangan dari Alfa jauh lebih menarik dari petualangan Zarah (you think Zarah and Bodhi’s adventures were badass? wait until you read Alfa’s adventure). Diksi dari Dee pun semakin mudah dimengerti apabila dibandingkan dengan KPBJ yang sangat rumit dan lebih seperti karya sastra yang apabila dibaca oleh orang yang tidak begitu menyukai sastra maka akan menimbulkan kernyitan di dahi karena pilihan – pilihan diksinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, serial Supernova semakin mudah dibaca dan semakin accessible oleh pembaca – pembaca yang bahkan tidak menyukai bacaan sastra. Sulit untuk mengungkapkan mana yang lebih saya sukai karena pada dasarnya bagi saya secara personal, yang penting dari sebuah buku adalah penokohan. Apakah karakternya engaging dengan pembaca atau tidak, apakah karakter tersebut memiliki relevansi dengan kehidupan pembaca dan apakah pembaca dapat berempati dengan apa yang dialami oleh sang tokoh dan semua hal tersebut saya dapatkan pada cerita – cerita Supernova.

Dengan terbitanya buku Gelombang, maka tinggal satu buku lagi dalam serial Supernova (yang rencananya akan berjudul Intelegensia Embun Pagi) yang saya harapkan dapat memenuhi rasa penasaran saya yang semakin memuncak seiring dengan semakin terbukanya (dan juga bertambahnya) misteri dan juga titik – titik yang menghubungkan antara semua tokoh – tokoh ini.

Advertisements

13 thoughts on “Review Buku: Gelombang – Dee Lestari

    1. Hi, kita dulu follow followan bukan sih di Multiply?
      Aman – aman aja sih karena setiap tokoh ‘Supernova’ punya jalan ceritanya sendiri – sendiri yang unique in their own way. Kayak baca kepingan – kepingan dirinya Dee hehe. Tapi bagian paling akhir dan belakang dari series ini emang berhubungan dan bisa jadi bingung kalau bacanya gak berurutan.

      1. Dari 5 buku supernova mana yg paling kuat storynya? Jujur aku newbie soal ‘Supernova’ awalnya ga interest buat baca karya Dee,tapi ga tau kenapa Buku Gelombang apalagi aku kepoo soa budaya batak sekarang lagi fokus dengan halaman per halaman agak lambat bacanya 🙂 thanx God aku dapat 4 buku Supernova kondisi ‘mulus’ dari iklab di OXL jadi lengkap koleksi Supernova btw aku penyuja genre horor,thriller sesuatu yg penuh mistik…

      2. Hi lagi, maaf nih baru dibalas lagi komennya. Paling kuat secara cerita menurutku Partikel dan Gelombang. Tetapi kalau ditanya siapa tokoh yang paling menarik maka aku akan bilang Bodhi, di buku Akar, dan petualangan dia adalah salah satu petualangan yang paling seru juga. Secara konten cerita yang paling bikin pusing namun banyak pembelajarannya adalah buku pertama, Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Sementara untuk buku Supernova yang punya nuansa humor itu adalah buku ketiga, Petir, yang karakternya merupakan karakter paling “manusia” dan juga paling unik dibandingkan dengan yang lain. Kalau penyuka genre horror dan thriller apa suka baca buku – buku dari Ayu Utami ? Dia nggak horror dan thriller sih tapi buku – bukunya lumayan mistik…

    1. Halo lagi Warm, terima kasih sudah dibilang keren reviewnya. Saya dulu juga paling suka dengan Akar dan Bodhi secara individu tapi Alfa punya daya tarik yang ternyata lebih dari Bodhi haha (mungkin karena Dee Lestari secara implisit menyatakan bahwa Alfa good-looking). Semakin mendekati akhir, buku ini memang semakin menarik dan bikin penasaran. Saya kira petualangan Zarah di Partikel sudah sangat seru, tapi kemudian Dee Lestari mengeluarkan Gelombang yang jauh lebih seru. Semoga episode selanjutnya, Intelegensia Embun Pagi, jauh lebih menarik dan bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan yang belum terjawab di buku sebelumnya.

  1. Aku juga udah bikin review gelombang. pendapat kita agak beda sih, tapi aku harus akui, review yang ini jauh lebih keren..

    salam kenal

    1. Hi Jokeray, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk baca review Gelombang dari saya. Review ini murni opini pribadi yang cukup personal dan mungking juga subjektif, tapi terima kasih sekali lagi karena sudah dibilang keren. Salam kenal juga, saya akan blogwalking ke blog anda.

  2. Review nya keren, Kak. Aku belum lama baca Supernova series, dan KPBJ emang diksinya luar biasa. Tapi bisa dapat ilmu banyak banget dari kelima buku ini. Dan betul banget, sosok Alfa membuat pembacanya jatuh cinta.

    1. Dear Kirana, terima kasih untuk pujiannya. Setuju kalau KPBJ dan serial Supernova punya diksi yang luar biasa, jadi banyak belajar kata – kata baru dari buku itu. Kalau kamu paling suka sama “Supernova” yang mana?

  3. Well, trims atas reviewnya.. Ohya,saya pengen berbagi pendapat juga. Menurut saya, gelombang adalah kunci untuk memahami tautan antara buku 1 sampai 4 dan pembuka pintu gerbang buku ke 6. Akar dan petir memang bertemu duluan namun si gelombangla, Alfa-lah yang duluan masuk ke dalam asko. Manusia kunci yang akan membuka misi kelima temannya. Hanya saja memang ishtar yang membuat saya penasaran. Apakah dia seorang pemburu peretas atau tokoh yg memiliki hubungan dengam segalanya nanti di buku. Ke -6.

    1. Hi Henry, sama – sama. Terima kasih sudah mau membaca review saya. Silahkan, saya senang kalau ada yang mau ngobrol tentang serial Supernova dari Dewi Lestari. Yap, menarik kalau diingat bahwa Alfa lah yang pertama dari mereka semua yang akhirnya bisa masuk ke dalam Asko dan juga menarik untuk diingat bahwa dia lah yang memiliki “kesadaran” paling tinggi tentang siapa diri mereka sebenarnya. Kelima temannya ini maksud kamu: Petir (Etra), Akar (Bodhi), Zarah (Partikel), dan dua lagi siapa? Saya jadi agak ragu dengan Diva si Bintang Jatuh karena kayaknya dia bukan bagian dari Petir, Akar, Partikel, dan Gelombang. Pendapat kamu tentang Gio gimana? Sebenarnya dia misi di buku ini apa ya, saya kira dia cuma akan jadi bumbu dari bagian cerita Diva aja, kayak Ruben dan Dimas. Eh ternyata Gio makin kelihatan signifikansinya semakin kesini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s