Review Buku: Nadira – Leila S. Chudori

Judul Buku: Nadira

Pengarang: Leila S. Chudori

Penerbit: KPG – Kepustakaan Populer Gramedia, edisi cetakan pertama.

Tahun Terbit: Maret 2015

Tebal Buku: 304 halaman

Harga Buku: IDR 84.000

IMG_0721

‘Nadira’ adalah buku kedua dari Leila S. Chudori yang saya baca sekaligus menjadi buku yang mengukuhkan kekaguman saya terhadap kepiawaian Leila S. Chudori dalam mengolah rangkaian kata menjadi cerita yang membuat saya enggan untuk berhenti membaca bahkan untuk jeda sejenak. Di bukunya kali ini, Leila S. Chudori berhasil menenggelamkan saya dalam aliran cerita tragis yang dikemas begitu menyedihkan sampai pada akhirnya saya selesai membaca, saya tidak dapat memungkiri bahwa saya telah jatuh hati sepenuhnya pada karakter utama buku ini, Nadira, dan sekaligus berempati pada jalan hidupnya yang penuh dengan drama ala sinetron Melayu yang candu pada hal-hal sentimentil dan melankolis. Di buku sebelumnya, Leila S. Chudori juga dengan suksesnya mengguncang imaji dan menghentakkan perasaan saya sehingga dengan menggebu-gebu saya langsung menulis satu review yang saya beri judul “Cacoethes Scribendi”, Keinginan Tak Terpuaskan Untuk Menulis, tentang Dimas Suryo, tokoh utama dari buku Pulang yang juga ditulis oleh Leila S. Chudori.

Nadira dan Dimas Suryo berbeda dalam banyak hal namun serupa pula dalam banyak hal. Mungkin karena dua tokoh utama ini adalah perwujudan dari Leila S. Chudori sendiri. Seperti kebanyakan penulis lainnya, tokoh Nadira dan Dimas Suryo adalah manifestasi dari kepingan diri Leila S. Chudori sebagai seorang manusia. Serupa dengan Dimas Suryo, Nadira adalah sesosok yang kritis, cerdas, dan pecinta sastra sehingga mereka piawai dalam kata-kata, sama seperti Leila S. Chudori.

Tapi, meskipun mengambil judul dari nama tokoh utamanya, ‘Nadira’ bukan sekadar buku harian dari sesosok Nadira yang kritis, cerdas, dan perangkai aksara yang ciamik, buku ini lebih dari sekadar itu. Buku ini adalah tulisan yang jujur dan menelanjangi perasaan tentang kehilangan dan bagaimana kematian orang yang kita cintai seringkali diikuti oleh rasa sakit yang tidak pernah pergi dan disusul oleh munculnya lubang dalam hati yang menganga dan tidak bisa pernah ditutup lagi. Mengutip komentar Riri Rizi mengenai buku ini,

“Saya kadang ngilu sendiri karena ia menceritakan soal-soal keluarga yang selalu ingin kita sembunyikan.”

Dari lembar awal buku ini, saya sudah disambut dengan kesedihan dan cerita tragis tentang kematian Ibu dari Nadira, Kemala Suwandi, yang meninggal dunia karena ia “memutuskan untuk menemui Sang Pencipta”. Bab pertama buku ini mengambil sudut pandang Nadira, dan dari narasi Leila S. Chudori yang mengalir, saya diperkenalkan kepada sesosok Nadira yang pragmatis dan kepada keluarganya, Ayahnya, dan kedua kakaknya, Yu Nina yang emosional dan Kang Arya yang relijius. Buku ini sendiri terbagi menjadi bab-bab yang berisikan cerita pendek namun tetap saling berkaitan dan berfokus pada satu tema utama: bagaimana Nadira dan keluarganya berusaha untuk melanjutkan hidup setelah kematian Kemala yang tidak terduga-duga dan bagaimana Nadira terus dihantui oleh pertanyaan tidak terjawab tentang mengapa ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Sembilan bab pertama dari buku ini sudah pernah dimuat sebelumnya di tahun 2009 dalam buku berjudul ‘9 Dari Nadira’ dan kemudian dalam buku kali ini yang dicetak di tahun 2012, ditambahkan lagi dua bab penutup sebagai closure dari cerita perjalanan hidup Nadira.

Alur cerita yang dipakai dalam buku ini sendiri adalah alur cerita maju-mundur di mana saya juga diperkenalkan kepada Ayah dari Nadira, Bramantyo Suwandi, dan ibunya, Kemala Suwandi, beserta masa lalu mereka dahulu ketika mereka tengah menjadi mahasiswa di Belanda melalui buku harian Kemala Suwandi yang ditemukan oleh Nadira di gudang ketika dia, Yu Nina, dan Kang Arya tengah berberes barang-barang peninggalan ibunya. Cerita masa lalu Bramantyo dan Kemala Suwandi yang hidup di era tahun 1960an dikemas dengan sangat detail sehingga saya tidak dapat menyembunyikan rasa iri akan kehidupan mahasiswa di era tersebut yang dipenuhi dengan diskusi kritis tentang berbagai isu, di mana diskusi tentang buku bukan merupakan hal yang pretentious tapi kegiatan waktu luang yang menyenangkan.

Serupa dengan ‘Pulang’, ‘Nadira’ juga dipenuhi dengan berbagai referensi budaya yang membuat ulu hati saya seringkali terasa mencelos karena terlalu girang dengan penyebutan-penyebutan penulis seperti J.D. Salinger, Leo Tolstoy, Anton Chekov, Fyodor Dostoyevsky, Thomas Mann, Virginia Woolf sampai dengan sajak W.S. Rendra yang menjadi favorit saya, ‘Sajak Sebatang Lisong’. Referensi budaya di ‘Nadira’ bukan hanya kental dengan referensi budaya yang berkisar tentang sastra, tetapi juga referensi budaya film seperti karya Woody Allen dan juga musik-musik tahun 1970an seperti Led Zeppelin dan Queen. Referensi budaya menjadi bumbu pemanis dari rangkaian cerita Leila S. Chudori yang mau tidak mau membuat saya senang karena dapat merasakan keterikatan emosional dengan tokoh-tokohnya.

Leila S. Chudori yang lahir dari ayah yang hebat, Mohammad Chudori, tidak luput untuk menyuntikkan kemesraan hubungan ayah dan anak yang dimiliki bersama ayahnya di buku ‘Nadira’ dalam hubungan Nadira dengan Bramantyo Suwandi, ayahnya yang merupakan wartawan senior (Mohammad Chudori, ayah dari Leila, adalah wartawan senior dari Kantor Berita Antara dan juga co-founder The Jakarta Post). Hal ini juga dapat ditemukan dalam buku ‘Pulang’ di mana Dimas Suryo dan Lintang Utara (anak dari Dimas Suryo) memiliki hubungan yang kurang lebih sama dengan Nadira dan Bramantyo Suwandi, hubungan ayah dan anak di mana si ayah adalah inspirasi dari si anak dan obrolan mereka dipenuhi diskusi-diskusi yang kental dengan referensi budaya sastra dan persoalan sosial dan politik. Bahkan, karakter Bramantyo Suwandi sendiri sebenarnya terlihat jelas mengambil referensi dari Mohammad Chudori, keduanya adalah wartawan senior yang banyak meliput persoalan ekonomi dan politik.

Singkat kata dan sebagai penutup dari review saya yang mohon maaf sekali agak kurang jelas ini, ‘Nadira’ merupakan buku yang wajib dibaca bagi anda yang ingin menikmati kepiawaian kata dari penulis Indonesia namun enggan membaca buku sastra yang terlalu berat dengan cerita yang mungkin susah untuk dimengerti. ‘Nadira’ adalah cerita yang ringan, namun sarat makna dan dipenuhi dengan majas-majas dan metafora yang menimbulkan decak kagum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s