Untuk Si Perangkai Aksara

Saya tidak pernah merasa nyaman memakai Bahasa Indonesia, bagi saya, Bahasa Indonesia itu kaku dan penuh keterbatasan dan emosi yang ingin saya luapkan memudar begitu saja karena keterbatasan kata yang saya tahu dan karena minimnya referensi tulisan berbahasa Indonesia yang saya kagumi.

Sampai,

akhirnya,

di penghujung Februari, kala Jakarta tengah diguyur hujan dan bau petrichor masih sangat tercium di udara, saya bertemu dengan si perangkai aksara. Sosok ini duduk di hadapan saya, di bangku kolam yang saat itu masih diliputi kehidupan ikan-ikan yang berenang riang tanpa arah. Si perangkai aksara masih diselimuti perangai malu-malu dan ia masih tidak banyak bicara. Bahkan, saya masih ingat kesan pertama saya si perangkai aksara satu ini adalah orang yang keras, bahkan galak.

Tapi kemudian kami banyak berbagi cerita, di tengah perjalan menuju M16 hingga Pasar Minggu. Si perangkai aksara berbelok ke arah Kramat Jati, dan saya melanjutkan perjalanan dengan kereta di Salemba. Perbincangan yang bermula dari cerita-cerita tentang pekerjaan, berkembang menjadi cerita tentang kehidupan, tentang mimpi dan tentang ide-ide brilian. Dilain waktu, saya mendengar lagu-lagu yang dia dengarkan, berbincang tentang buku-buku berbahasa Indonesia yang belum pernah saya tahu sebelumnya dan lambat laun, saya telah diam-diam mengagumi si perangkai aksara.

Si perangkai aksara piawai mengubah gambar-gambar mati menjadi hidup dengan kata-katanya. Si perangkai aksara tahu kata-kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya, mengubah pandangan saya sepenuhnya tentang Bahasa Indonesia yang penuh keterbatasan menjadi bahasa yang luar biasa. Iri adalah kata yang kuat tapi paling tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika melihat narasi-narasinya yang mengalir tanpa usaha tapi selalu sarat makna.

Detik, menit, jam, hari, dan bulan berlalu, saya belajar lebih banyak tentang si perangkai aksara dan saya membagi hal yang paling rahasia, yang tidak saya umbar ke semua orang karena ketertutupan saya dan sifat buruk saya yang pemilih dalam membuka diri. Saya membagi padanya idealisme-idealisme naif, mimpi-mimpi tidak masuk akal, dan pandangan-pandangan tentang dunia. Dan, pada si perangkai aksara saya temukan sosok saya yang selalu saya pendam dalam-dalam: si pemimpi dan si pengejar kebebasan.

Pada si perangkai aksara saya temukan pribadi yang sulit saya temukan di tengah banyaknya lautan pribadi di dunia ini, si perangkai aksara adalah pengagum hal-hal kecil, yang luput dari pandangan mata dan seringkali tidak dihiraukan. Si perangkai aksara yang saya kagumi adalah orang yang menghargai kehidupan dan dipenuhi kecintaan terhadap hal-hal yang indah di hidup. Pada dirinya saya menemukan sosok anak kecil yang tidak pernah jengah akan hal-hal baru dalam kehidupan. Jangan hilangkan kecintaanmu pada kehidupan, hai si perangkai aksara.

“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita”

Hai perangkai aksara, tahun 2015 telah menjadi tahun yang sangat luar biasa karena pertemuan kita di kolam yang kini sudah kering tanpa kehidupan. Menjelang keputusanmu untuk bertualang dan mengejar mimpi untuk berlari lebih jauh, saya dirundungi kedukaan yang mendalam yang berusaha saya sembunyikan tapi pada akhirnya tidak terbendung juga karena saya tidak bisa membayangkan rutinitas saya tanpa celetohen-celotehanmu yang selalu menjadi suntikan kebahagiaan di hari-hari yang gila.

Perangkai aksara, jangan pernah berhenti berlari, saya mengamini kata-kata Pramoedya bahwa:

Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.”

Jangan pernah rendah diri jadi pemimpi, karena ketika kita percaya pada mimpi kita, Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita dan mewujudkannya. Sampai jumpa lagi dan berbagi aksara, Mbak Hana si Perangkai Aksara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s