Kerasnya Jakarta dan Matinya Common Sense

Common sense secara harafiah merupakan gabungan dua kata Bahasa Inggris: common dan sense yang secara individual dapat diartikan sebagai biasa dan pikiran. Common Sense sendiri, menurut John Hospers yang saya kutip dari blog Aprilins.com dengan judul artikel Épistomologi: Makna Common Sense adalah “suatu kemampuan yang dimiliki manusia dalam kedudukannya sebagai subjek yang ingin mengetahui dalam rangka suatu perbuatan mengetahui selain kemampuan-kemampuan manusia yang telah melembaga yakni indera, rasio, intuisi, dan keyakinan, otoritas, atau keyakinan.”

Jujur saja, secara pribadi menurut saya penjelasan diatas terlalu ilmiah dan sulit dimengerti sehingga saya sendiri mengartikan common sense dalam Bahasa Indonesia sebagai suatu perilaku atau aturan tidak tertulis yang dipahami secara bersama oleh sekelompok manusia (re: masyarakat) dan dipahami secara kolektif tanpa harus menggunakan logika.

Akhir-akhir ini saya sedang membiasakan diri untuk kembali menggunakan transportasi umum saat pulang dan pergi kantor. Ratusan ribu masyarakat Jakarta menggunakan transportasi umum setiap harinya, mulai dari KRL, TransJakarta, Kopaja, Metromini, Mikrolet, Bus Patas, Gojek, GrabBike, Uber, dan lainnya. Tulisan ini diinspirasi dari pengalaman kemarin saat saya sedang mengantri bus TransJakarta yang tidak kunjung datang. Di tengah desakan orang-orang Jakarta yang selalu terburu-buru (entah kenapa, saya kira hanya supir angkot dan bus saja yang kejar setoran) saya kembali terpikir pada hal-hal yang sebelumnya sudah pernah saya pertanyakan: kenapa banyak sekali orang yang sepertinya susah menggunakan common sense dan berperilaku seperti mahluk beradab yang taat aturan meskipun aturan tersebut tidak tertulis atau tidak terikat hukum. Common sense yang saya maksud di atas adalah hal-hal yang akan saya tulis dalam daftar di bawah. Di sini saya membicarakannya dalam konteks penggunaan transportasi umum, tapi sebenarnya, masih banyak common sense dalam kehidupan yang bisa dimasukkan dalam daftar juga. Common sense penggunaan transportasi umum termasuk:

  1. Antre. Seringkali orang berjejal di shelter TransJakarta dan bukannya mengantri ke belakang ke arah jembatan, orang-orang malah memadati dan mengambil area pintu yang sebelahnya. Lalu, ketika antrean sudah cukup panjang, bukannya mengantri berbelok dan mengikuti orang yang sudah mengantre sebelumnya, orang-orang malah memadati sisi samping dan menyerebot ketika bus sudah datang.
  2. Mempersilahkan orang yang ingin keluar dari KRL/TransJakarta untuk turun terlebih dahulu sebelum masuk. Ini salah satu hal yang paling membuat saya jengah. Terlebih setelah saya menyaksikan video Facebook di mana diperlihatkan bahwa orang Jepang akan berbaris rapi ke sisi pintu kereta dan mempersilahkan orang turun terlebih dahulu sebelum mereka masuk satu-persatu, dengan tertib.
  3. Berdiri di dalam shelter TransJakarta dan atau berdiri di belakang garis kuning saat akan menggunakan kereta. Di stasiun sebenarnya aturan ini ditulis dengan jelas di sebuah plang dan juga berulang kali diperingatkan dengan pengeras suara bahwa penumpang harus berdiri di belakang garis kuning demi keamanan sendiri. Tapi jujur, saya rasa masyarakat Indonesia memang #KamiTidakTakut, termasuk tidak takut akan bahaya. Untuk konteks TransJakarta, sudah bukan pemandangan asing lagi orang berjejal di tengah pintu otomatis TransJakarta yang pada akhirnya tidak pernah berfungsi karena ketidaktakutan orang Indonesia untuk berdiri di pinggir peron atau shelter.
  4. Mempersilahkan orang yang lebih tua, wanita hamil, ibu-ibu, siapapun yang pantas lebih duduk dari anda untuk duduk. Saya tidak membicarakan kursi prioritas, karena saya sudah angkat tangan untuk orang-orang yang dengan santainya duduk di kursi prioritas padahal kursi prioritas baiknya dikosongkan untuk orang yang benar-benar membutuhkan duduk. Sebagai pengguna setia gerbong khusus wanita di KRL, saya kerap kali heran karena banyak mbak-mbak muda yang santai tidur (atau pura-pura tidur entah), main handphone, ataupun diam saja ketika ada ibu-ibu yang jelas lebih berumur berdiri tanpa tempat duduk. Untuk kasus ini, saya mencoba maklum (tapi tetap tidak mengerti logikanya) karena memang orang Jakarta kan capek sekali ya bekerja? Kalau bisa tidur di satu baris tempat duduk, mungkin sudah tidur di satu baris tempat duduk itu. Mungkin rasa lelah yang tidak terkira memang pada akhirnya akan mematikan empati dan belas kasih. Persetan belas kasih, yang penting saya enak sampai rumah, mungkin begitu. Itu hanya asumsi, mohon dikoreksi.

Sebenarnya banyak common sense lain yang sering saya pertanyakan, seperti, membuang sampah sembarangan (terutama di tempat seperti 7eleven, Lawson, Family Mart, Mini Stop di mana sebenarnya kewajiban customer-lah untuk membereskan bekas sampah makanan dan minuman), menyebrang menggunakan jembatan penyebrangan, naik motor dengan helm, dan lain-lain. Bahkan hal yang baru saya sebut barusan sebenarnya terikat hukum di Indonesia.

Kembali lagi ke common sense dalam penggunaan transportasi umum. Saya biasa naik kereta dari dua tempat, Stasiun Sudirman dan Manggarai. Dua stasiun ini mayoritas dipenuhi oleh pekerja kantoran. Inilah yang membuat saya semakin heran. Pekerja kantoran untuk bekerja di kantor tentunya harus menempuh pendidikan, paling tidak sampai SMA, dan seseorang yang menempuh pendidikan bukankah harusnya mengerti dan memahami aturan-aturan tidak tertulis semacam ini? Saya sendiri tidak mengerti akar dari common sense itu apa dan kenapa banyak sekali orang yang common sensenya masih tumpul, atau bahkan, mati. Apakah common sense datang dari pendidikan di sekolah? lingkungan keluarga? lingkungan pertemanan?

Seringkali saya ingin menyerah dan mematikan common sense saya. Saya mau menyebrang sembarangan saat ada zebra cross di depan mata, menyerobot antrean, diam dan sok mendengarkan musik saat ada ibu-ibu yang tidak kebagian tempat duduk, berdiri di depan garis kuning saat menunggu KRL, mendorong kedalam orang yang ingin keluar dari KRL atau TransJakarta, saya ingin melakukan hal-hal ini karena mematuhi common sense telah berkali-kali membuat saya ketinggalan kereta, TransJakarta, pegal linu saat sampai rumah, dan hal-hal istimewa lain yang tidak bisa saya dapatkan kalau saya patuh pada common sense. Tapi, tidak mematuhi common sense membuat saya malu pada diri sendiri, pada orang tua, pada almamater, masa iya saya sudah susah-susah disekolahkan dan ketika sudah lepas dari pendidikan saya jadi mahluk tidak tahu aturan? Justru pendidikan baik dari lingkungan akademis maupun keluarga yang sudah saya dapatkan harus saya jadikan acuan agar menjadi manusia yang hidup dalam keteraturan, yang memiliki kompas moral dan berempati pada manusia lain yang tengah sama-sama berjuang dalam kerasnya hidup Jakarta.

Untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini, saya berharap untuk kamu dan saya sendiri, seberapa kerasnya hidup, seberapa capeknya kamu setelah pulang kantor, kita tetap bisa menjadi manusia yang menggunakan common sense. Manusia yang sadar bahwa mematikan common sense sama saja menyiakan pendidikan. Ketika ingin menyiakan pendidikan ingatlah bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang harus disiakan karena ada yang bernafas sama dengan kita di detik ini dan memimpikan berada dalam gedung-gedung menjulang Jakarta yang ber-AC, bekerja mendapat gaji tiap bulan, dan bermimpi untuk duduk di bangku sekolah yang sering kita tinggalkan.

Advertisements

2 thoughts on “Kerasnya Jakarta dan Matinya Common Sense

  1. Akhirnya. TT_TT
    Selama ini saya juga merasakan hal yg sama dengan Mbak. Pengennya duduk aja dengan tenang sambil pura-pura tidur supaya nggak perlu ngasih tempat duduk ke orang lain, toh saya juga capek. Belum lagi dulu waktu hamil muda rasanya serba capek mabok pegel tapi karena perut belum gede jadi belum bisa masuk ke golongan prioritas. Ketika akhirnya dapet duduk di kursi biasa, eh ada ibu lansia, ya berdiri lagi. 😀
    It just feels wrong sih sebenernya, karena saya sampai sekarang masih belum ngerti kenapa banyak orang2 bisa selalu lebih mementingkan kenyamanan diri sendiri daripada nyaman rame-rame.
    Salah orang tua? Mungkin
    Salah guru dan sistem pendidikan? Mungkin.
    Atau mungkin dasar orang-orangnya saja yang walaupun sudah dididik sedemikian rupa, tetap sudah sifat pribadinya sendiri untuk kalah pada rasa capek dan tuntutan pekerjaan jadi tutup mata sama moral.
    Who knows?

    1. Hi Mbak Tissa, terima kasih sudah mau mampir dan memberikan komentar 😀
      Kalau saya pribadi, yang memang punya eternal love/hate relationship dengan Jakarta selalu ingin menyalahkan kerasnya Jakarta dimana kehidupan sendiri adalah kompetisi dan pada akhirnya membatukan hati dari orang-orang yang berada di dalamnya. Sejujurnya matinya common sense ini sama saja dengan keegoisan kan bahwa setiap orang masing-masing merasa dirinya lah yang paling capek dan paling menderita sampai pada akhirnya tidak menghiraukan orang lain.
      Anyway, saya bangga ada orang seperti Mbak Tissa yang walaupun sedang hamil masih bisa berbaik hati dengan memberikan tempat duduk ke ibu lansia. Semoga kebaikan Mbak Tissa dibalas dengan kebaikan yang lebih baik lagi atau dengan yang setimapl.
      Untuk saat ini dengan kondisi yang ada, saya cuma bisa bertanya-tanya dalam hati dan tetap meneguhkan diri pada pedoman bahwa sebagai orang yang sudah mengenyam pendidikan, saya tidak boleh mematikan common sense saya karena itu sama saja dengan menyiakan uang ibu saya yang sudah bersusah payah menyekolahkan saya sampai sarjana.
      Salam.
      Azarine.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s