Review Buku: Mengenang Harper Lee dan To Kill a Mockingbird

2-To-Kill-a-Mockingbird-quotes

Kemarin malam, di tengah pemutaran film Babi Buta Ingin Terbang di Kinosaurus, teman saya menunjukkan berita dari layar telepon-nya yang langsung membuat saya mencelos. Judul berita dari Huffington Post menunjukkan “Harper Lee, Pulitzer-Prize Winning Author of ‘To Kill a Mockingbird’ Dies at 89”. 

To Kill a Mockingbird adalah buku yang memiliki kemungkinan lebih dari 90% pasti ada dan masuk dalam daftar buku-buku yang harus dibaca dalam masa hidup pembaca, baik orang yang benar-benar gemar membaca, yang terkadang membaca sambil lalu, atau yang selalu bertanya pada temannya buku apa yang harus dibaca walaupun pada akhirnya tidak pernah membaca buku yang direkomendasikan temannya.

To Kill a Mockingbird adalah satu-satunya buku yang ditulis oleh Harper Lee sebelum pada akhirnya prekuel dari To Kill a Mockingbird: Go Set a Watchman, keluar setelah sempat dinyatakan hilang manuskripnya oleh penerbit dari Harper Lee. Semasa hidupnya, Harper Lee adalah orang yang sangat private, menghindari wawancara dari wartawan dan dengan sangat keras menolak para pencari berita untuk mengetahui tentang kehidupan pribadinya. Tetapi, seorang penulis meninggalkan jejak dengan tulisannya. Penulis meninggalkan jejak dengan karyanya yang telah mengubah hidup orang dan bahkan mempengaruhi karakter dan jalan hidup dari seseorang yang tidak mengenal mereka secara pribadi. Begitupun dengan Harper Lee, mengenang Harper Lee berati mengenang buku luar biasa berjudul To Kill a Mockingbird, sebuah buku yang sangat berpengaruh dan sangat tidak mungkin tidak meninggalkan kesan yang mendalam pada siapapun yang membacanya.

Dan pertanyaannya mungkin adalah mengapa To Kill a Mockingbird sangat berpengaruh? To Kill a Mockingbird yang terbit pada tahun 1960 mengeksplorasi tema yang sangat tabu, untuk masyarakat Amerika Serikat terutama, dan mungkin untuk Indonesia yang diam-diam sebenarnya rasis dan bigot. To Kill a Mockingbird menceritakan masyarakat di daerah Selatan Amerika Serikat yang hidup dalam strata-strata kelas dan ras dan dipenuhi ketidakadilan. Di kota fiksi di Alabama bernama Maycomb yang diciptakan oleh Harper Lee berdasarkan kampung halamannya sendiri di Alabama, rasisme adalah bagian dari kehidupan sehari masyarakatnya.  Cerita dari To Kill a Mockingbird sendiri mengambil sudut pandang dari seorang gadis cilik bernama Scout Finch yang memiliki kakak bernama Jem Finch dan ayahnya yang duda bernama Atticus Finch. Atticus Finch adalah seorang pengacara yang terpandang dan meskipun saat itu Amerika Serikat tengah dilanda The Great Depression, keluarga Finch hidup dengan cukup baik karena profesi Atticus sebagai pengacara. Meskipun tinggal di kota yang kental dengan rasisme, Atticus Finch menunjukkan keberanian dan loyalitas pada hukum sebagai alat untuk membela yang benar dengan menjadi pengacara untuk Tom Robinson, seorang berkulit hitam yang telah dituduh memperkosa wanita kulit putih. Konflik utama dari buku ini sendiri adalah tantangan yang harus dihadapi oleh Scout dan Jem dalam menyikapi sisi gelap dari sifat manusia ketika mereka masih kanak-kanak dengan timbulnya masalah-masalah akibat Tom Robinson yang dibela oleh ayahnya. Scout dan Jem di bully di sekolah dan Atticus sendiri dijuluki “nigger lover”karena telah memutuskan untuk membela kebenaran dengan membela Tom Robinson. Buku ini kemudian menujukkan perjuangan dari Scout dan Jem untuk tetap bisa melihat sisi baik dari manusia meskipun mereka telah diterpa oleh berbagai sisi jahat dari manusia.

“As you grow older, you’ll see white men cheat black men every day of your life, but let me tell you something and don’t you forget it—whenever a white man does that to a black man, no matter who he is, how rich he is, or how fine a family he comes from, that white man is trash” ― Harper Lee, To Kill a Mockingbird

Pada akhirnya, meskipun semua bukti dan fakta menunjukkan bahwa Tom Robinson tidak bersalah, Tom tetap dihukum dan ini membuat Scout dan Jem sangsi pada sisi baik dari manusia di dunia dan juga menyadarkan mereka bahwa apa yang diajarkan oleh Atticus mengenai sisi baik dari manusia tidak selamanya sejalan dengan realita yang ada di dunia.

To Kill a Mockingbird mengeksplorasi pertanyaan mengenai kenaifan dan pengalaman mengenai sisi baik dan jahat, dari beberapa sudut yang berbeda. Persidangan Tom robinson mengeksplorasi ide-ide ini dengan mengkaji kejahatan prasangka dan rasisme dan kemampuan dari kejahatan tersebut untuk menjadi racun mematikan bagi sebuah kota yang terkesan polos dan tidak bersalah dan juga kepada Tom yang tidak bersalah sekaligus efeknya pada Jem dan Scout yang masih muda. Karena pada dasarnya persidangan berfungsi untuk menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak, persidangan Tom menjadi sebuah mekanisme bagaimana rasisme menghancurkan kekuatan hukum. Selain itu, karena persidangan merupakan tempat di mana fakta-fakta dibuka, sidang dari Tom juga menjadi tolak ukur dari prasangka dan rasisme Maycomb sebagai sebuah kota. Atticus berhasil menunjukkan dengan jelas dan nyata bahwa Tom Robinson tidak bersalah namun pada akhirnya keputusan berakhir pahit karena juri-juri yang semuanya berkulit putih dipenuhi oleh prasangka terhadap Tom.

Buku ini telah berhasil membuat saya terhenyak karena realita yang sama juga terjadi di Indonesia di mana hukum dapat dibeli oleh yang berkuasa dan yang bersalah dapat dibuat tidak bersalah dan sebaliknya. Tetapi, di saat yang bersamaan, buku ini menumbuhkan harapan pada saya, sebagaimana Atticus menumbuhkan harapan pada Jem dan Scout, bahwa sejatinya sebejat apapun manusia, saya tetap harus menempatkan diri saya pada posisi mereka untuk melihat apa yang membuat mereka bersikap seperti itu. Dan pada akhirnya, dalam setiap sisi jahat manusia, selalu akan ada secercah kebaikan yang dapat dijadikan pengharapan.

Terima kasih Harper Lee, satu kalimat dari Atticus telah membuat saya selalu berpikir ulang kembali sebelum mengadili seseorang dan berprasangka terhadap apa yang mereka katakan. Satu kalimat dari Atticus telah menahan saya untuk tidak bersuara walaupun sepanas apapun perdebatan mengenai berbagai hal karena pada akhirnya setiap manusia memiliki perspektif sendiri, yang didapat dari cara mereka hidup, dibesarkan, dan dididik. Pada akhirnya, realita tidak akan pernah sesempurna harapan utopis manusia tapi setidaknya, akan selalu ada pengharapan dibalik itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s