Review Buku: A Little Life – Hanya Yanagihara

9780385539258 (1)

Dari setiap buku yang saya baca, saya selalu mengklasifikasikannya ke beberapa tipe. Salah satu dari tipe itu adalah tipe buku yang “tidak bisa berhenti dibaca dan membuat saya menggebu-gebu untuk menceritakannya ke orang lain”. A Little Life dari Hanya Yanagihara adalah buku yang masuk dalam tipe yang saya sebutkan diatas. Sebuah eksplorasi luar biasa tentang pertemanan, tantangan dan perjuangan kehidupan manusia di umur 20-an dan seterusnya, dan juga tentang tema-tema gelap mengenai depresi dan seberapa jauh kemampuan manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan.

A Little Life menceritakan tentang empat laki-laki muda lulusan universitas ternama di daerah New England, Amerika Serikat dan kemudian mengikuti cerita kehidupan mereka yang tengah berjuang dalam kehidupan manusia dewasa di New York. Empat karakter ini memiliki keunikan masing-masing, keempatnya sangat berbeda satu sama lain, datang dari latar belakang keluarga dan etnis yang berbeda dan pada akhirnya menciptakan karakter yang kuat. Ada Willem Ragnarsson yang baik hati dan sangat simpatik, karakter favorit saya, laki laki yang digambarkan tampan dan berasal dari Wyoming, yatim piatu anak dari pekerja ladang, bekerja sebagai pelayan di salah satu restoran di New York tapi memiliki aspirasi untuk menjadi aktor. Lalu ada Malcom Irvine, keturunan kulit hitam yang hidup makmur dan dibesarkan oleh keluarga kaya yang tinggal di Upper East Side dan telah memiliki pekerjaan sebagai associate di firma arsitektur yang memiliki reputasi baik. Ada Jean-Baptiste (JB) Marion, anak dari imigran asal Haiti, yang bekerja sebagai resepsionis di majalah seni di mana JB, yang merupakan seorang seniman, berharap karyanya dapat dimuat di majalah itu di kemudian hari. Dan ada Jude St. Francis, karakter paling kompleks dengan latar belakang misterius yang seiring berjalannya buku menjadi karakter paling penting di “A Little Life”, seorang pengacara cerdas namun sangat tertutup dan menyimpan misteri besar akan latar belakang hidupnya.

Pada awalnya, buku ini menyita perhatian saya dengan betapa kuatnya karakter dari Willem, Malcom, JB, dan Jude dengan perjuangan mereka masing-masing setelah mereka lulus kuliah dan berusaha menemukan tempat mereka di tengah hantaman kuatnya kompetisi di New York. Fase yang sangat familiar dalam kehidupan saya sekarang, di mana banyak teman-teman saya tengah berjuang mencari ‘Tempat’ mereka di hutan beton bernama Jakarta.

“But these were days of self-fulfillment, where settling for something that was not quite your first choice of a life seemed weak-willed and ignoble. Somewhere, surrendering to what seemed to be your fate had changed from being dignified to being a sign of your own cowardice. There were times when the pressure to achieve happiness felt almost oppressive, as if happiness were something that everyone should and could attain, and that any sort of compromise in its pursuit was somehow your fault.”
Hanya Yanagihara, A Little Life

Menurut JB, New York dipenuhi oleh manusia-manusia ambisius, di mana kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang New York adalah ambisi dan ateisme.

Tapi semakin dalam saya membaca A Little Life, semakin terlihatlah bahwa buku ini bukan hanya sekedar versi tragedi gelap dari “How I Met Your Mother” mengenai pertemanan sekelompok orang di New York dan mengenai kehidupan dan drama mereka sehari-hari. Hal ini seharusnya sudah saya antisipasi, mengingat buku ini memiliki tebal lebih dari 700 halaman dan tidak mungkin dalam buku setebal ini hanya berkisar pada cerita mengenai perjuangan seseorang dalam mencari tempat yang sesuai untuk mereka dalam kehidupan. Buku ini berambisi lebih, dan pada akhirnya, semakin saya membuka halaman semakin mengertilah saya bahwa buku ini mengeksplorasi hal-hal yang benar-benar…heartbreaking, menghancurkan hati, membuat saya bertanya-tanya mengenai orang-orang terdekat di sekitar saya dan apakah saya memiliki Jude versi saya di kehidupan pertemanan?

Kenapa Jude yang saya pertanyakan? Karena seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, buku ini berpusat pada Jude dan latar belakang misterius dari Jude. Jude St. Francis, belum ada tokoh dari buku, yang penderitaannya begitu menghantui saya dan membuat saya bertanya-tanya apakah penyiksaan secara mental dan fisik benar-benar bisa menimbulkan trauma sangat mendalam yang tidak bisa disembuhkan? Penyiksaan Jude terhadap dirinya sendiri didokumentasi dengan sangat detail dan menyiksa karena penyiksaan Jude pada dirinya adalah fondasi utama dari karakter Jude yang selalu merasa dirinya tidak bernilai meskipun dia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintai dia dan melihat dia bukan hanya dari fisiknya. Tetapi, sejarah kelam Jude membuat Jude tidak pernah bisa melihat kebaikan pada dirinya ataupun memaafkan dirinya dan membiarkan kebaikan orang-orang dalam hidupnya.

Buku ini berbeda dengan buku-buku lain mengenai penyiksaan yang pada akhirnya berakhir dengan baik dimana si penyiksa mendapatkan hukuman yang setimpal dan yang disiksa akhirnya berhasil sembuh dari traumanya. Jude membawa traumanya seumur hidup, dan bahkan hubungan platoniknya dengan Willem dan kasih sayang dari mentornya, Harold dan Julie, yang kemudian mengadopsinya tidak dapat menyembuhkan luka Jude yang begitu mendalam.

Buku ini mengeksplorasi hal-hal mengerikan yang masih tabu di Indonesia, mengenai menyakiti diri sendiri, trauma akibat penyiksaan mental dan fisik dan juga penyiksaan seksual yang membekas pada diri orang yang tersiksa. Membaca kisah Jude membuat saya bergidik, takut bahwa saya terlalu tidak sensitif untuk melihat penderitaan orang disekitar saya atau bahkan saya menyadari penderitaan dari orang disekitar saya namun saya memilih diam sebagaimana Willem memilih diam karena Willem tau Jude akan menghindari Willem apabila Willem berusaha untuk “menyembuhkan luka” Jude.

Saya teringat pada seseorang yang saya kenal, yang setiap kehadirannya membuat saya selalu ingin bertanya apakah dia baik-baik saja dan apakah ada hal apapun yang bisa saya lakukan untuk membuatnya berhenti melukai dirinya. Tapi pada akhirnya, saya adalah Willem, saya takut usaha saya untuk menggapai dirinya malah membuat dia semakin jauh dan semakin tidak bisa saya pahami dan membuatnya jatuh semakin dalam di penyiksaan akan dirinya sendiri. Saya memilih diam dan tersiksa sendiri melihat penderitaan dia yang begitu terlihat jelas dan acap kali diadili oleh orang-orang sebagai “kesedihan tidak berujung”namun tidak dipahami secara literal bahwa memang benar adanya kesedihan tersebut tidak pernah ada ujungnya.

“A Little Life”adalah buku yang menyiksa, namun disaat bersamaan membuka mata saya tentang hal-hal tabu yang masih tidak begitu dipahami oleh orang Indonesia yang begitu entengnya melihat penyakit mental sebagai sesuatu yang dapat dibuat sembuh begitu saja.

“I have become lost to the world
In which I otherwise wasted so much time
It means nothing to me
Whether the world believes me dead
I can hardly say anything to refute it
For truly, I am no longer a part of the world.”
Hanya Yanagihara, A Little Life

 

Iklan

One thought on “Review Buku: A Little Life – Hanya Yanagihara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s