“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.”

 

DSCF0625.jpg
“Good thing comes to those who wait.”

 

Saat ini saya sedang mencuri waktu untuk diri sendiri di tengah perjalanan ke luar kota untuk acara kantor yang diadakan di Bandung. Bandung sedang dingin-dinginnya karena guyuran hujan yang terus-menerus, tapi, saya memutuskan untuk tetap setia dengan Iced Cafe Latte karena saya orang yang membosankan dan sering ragu untuk mencoba hal baru.

Jadi, seperti yang sudah saya katakan tadi, saya sedang berada di Bandung untuk urusan kantor. Kantor saya tengah mendatangkan tujuh pelaku seni dari Britania Raya untuk datang ke Indonesia dan bertemu dengan pelaku seni di Indonesia dalam acara Digital Culture Visit (https://www.britishcouncil.id/program/seni/ekonomi-kreatif/digital-culture-visit). Ketujuh orang ini sudah berada di Indonesia hampir satu minggu sejak 29 Februari 2016 dan acara terakhir akan diadakan di Bandung. Saya bertemu dengan mereka di dua hari pertama mereka di Jakarta, makan malam di Sate Senayan, menemani mereka mengunjungi Kota Tua dan melihat lokakarya wayang, dan mengunjungi Lab Laba-Laba di Kinosaurus. Setelah itu, saya kembali bertemu mereka di Bandung hari Minggu kemarin, kali ini mereka datang dengan tuan rumah residensi mereka: para pelaku seni di Indonesia. Dalam waktu singkat saya bertemu banyak orang dari sektor seni yang dipenuhi orang-orang unik dengan pemikiran yang menarik. Saya selalu melihat seniman dan orang-orang yang bekerja dalam bidang kreatif sebagai orang yang membawa sosok anak kecil yang penuh keingintahuan kedalam tubuh dewasa mereka. Inilah orang-orang yang saya kagumi, orang yang merayakan kehidupan dengan terus bertanya karena saya selalu melihat kreativitas sebagai proses pemecahan masalah dan memecahkan masalah dimulai dengan bertanya tentang berbagai hal.

Singkat cerita, pengalaman ini mengingatkan saya pada masa-masa awal saya bekerja di GEPI (Global Entrepreneurship Program Indonesia). Itulah pengalaman pertama saya bekerja secara nyata di mana saya berinteraksi dengan banyak orang dan menemui banyak pemikiran yang berbeda, membentuk sisi diri saya yang haus akan cerita-cerita tentang kesuksesan memecahkan masalah dengan ide brilian. Teringat masa tersebut, saya menjadi teringat bahwa menjelang kelulusan saya, saya sebenarnya tidak tahu ingin menjajaki profesi apa. Saya tahu saya tidak ingin bekerja untuk korporat, saya tahu bahwa saya ingin bekerja di mana setidaknya visi dan misi perusahaan tempat saya bekerja adalah untuk kebaikan yang lebih luas.  Dengan ketidaktahuan, saya memutuskan bahwa saya ingin bekerja untuk Non-Profit Organization atau Non-Government Organization, organisasi dengan visi dan misi untuk kebaikan yang luas, yang paling tidak, secara tertulis berusaha untuk membantu meningkatkan kesejahteraan khalayak luas entah dengan cara apa. Di masa awal saya di GEPI, saya diperbantukan untuk mengurus media sosial GEPI, menulis newsletter dan berbagai kegiatan menulis lainnya yang kemudian akan dipublikasikan melalui medium digital. Tapi, saya kemudian ditugaskan hal lain yang kurang cocok dengan saya. Hal-hal administratif yang membutuhkan ketelitian dan pada akhirnya keteledoran saya tidak berjalan sesuai dengan ekspetasi dari pekerjaan. Saya pun melompat atau bisa dibilang saya took a leap in the dark dan bekerja untuk agensi periklanan digital.

Took a leap in the dark: something you do without being certain what will happen as a result

Dengan sejujur-jujurnya, kehidupan saya selama menjadi pekerja agensi merupakan paradoks karena saya selalu merasa ada ketidakcocokan namun disaat bersamaan merasa luar biasa nyaman. Pertama, saya tidak pernah bisa dan suka berjualan. Kedua, saya orang yang banyak membutuhkan waktu sendiri (hal yang cukup susah didapatkan di budaya agensi terutama agensi tempat saya bekerja yang sangat kekeluargaan dan sering menghabiskan waktu paska kantor untuk sekedar ngobrol). Ketiga, saya tidak pernah membayangkan akan membantu orang mengiklankan produk yang tidak ingin saya pakai. Namun, dibalik alasan pertama, kedua, dan ketiga, saya mendapatkan banyak sekali ilmu praktis yang tidak pernah dan tidak mungkin saya dapatkan dari jurusan yang saya ambil di universitas. Saya diajarkan membuat editorial plan media sosial, membuat copy untuk Facebook ads, Twitter cards, GDN (Google Display Network) dan membuat presentasi untuk menjelaskan konsep aktivitas yang akan dijalankan di media sosial. Dengan banyaknya pelajaran, saya bertahan hampir satu tahun di agensi periklanan. Tapi, pada akhirnya saya merasa tidak cukup kuat untuk terus bekerja di agensi periklanan dan saya tidak melihat masa depan saya di industri ini. Meskipun dikelilingi suasana hangat di kantor tersebut, saya merasakan beban yang semakin hari semakin menyiksa karena saya benar-benar merindukan waktu sendiri di mana saya bisa bernafas tenang dan membaca buku dengan santai ataupun sekedar menulis jurnal harian.

Di waktu-waktu akhir saya di agensi, saya tengah dirundung kedukaan yang cukup mendalam karena beberapa teman saya mulai meninggalkan saya satu per satu. Saya merasa terombang-ambing dalam keputusasaan antara keinginan saya untuk tetap tinggal namun dengan konsekuensi produktivitas saya akan semakin berkurang drastis atau memberanikan diri untuk mempercayai Tuhan dengan janjinya bahwa sesungguhnya “Beserta kesulitan itu ada kemudahan.”

Saya adalah seorang hipokrit ketika masuk dalam ranah spiritualitas dan keagamaan. Saya sering berbicara tentang bersyukur namun jarang berkomunikasi dengan Tuhan melalui ritual keagamaan yang saya pilih. Dan, setiap kali saya dirundung duka yang mendalam, barulah saya berlari berlutut pada Tuhan memohon pertolongan untuk dikeluarkan dari rundung duka yang tidak berkesudahan. Telah berkali-kali Tuhan mendengar janji-janji palsu saya sampai saya menjadi sangsi akankah dia mendengar ratapan pertolongan saya kali itu? Tapi, Tuhan memang Maha Mendengar, Maha Pengasih, Maha Penolong, dan Maha Pemurah. Atau mungkin, yang dia dengar bukan ratapan pertolongan saya tapi doa dan pengharapan ibu saya yang saya tau akan sangat hancur hatinya kalau tahu kehidupan kerja yang tengah saya jalani. Pada akhirnya, Tuhan menjawab doa saya dan saya dibukakan jalan menuju sesuatu yang dulu hanya bisa saya bicarakan kepada teman-teman terdekat saya: tentang mimpi dapat menyebarkan kebaikan melalui media sosial, tentang media sosial sebagai medium untuk berbagi cerita yang menginspirasi dan mungkin, mungkin saja, mengubah hidup orang sebagaimana banyak kisah yang diceritakan Brandon Stanton melalui Humans of New York dan tulisan Maria Popova di Brainpickings telah mengubah hidup saya.

Dan sampailah saya di sini, di Bandung yang sedang dingin-dinginnya, diingatkan kembali pada ayat yang paling saya suka:

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (Al-Insyirah ayat 5 – 6).

Dan di Bandung yang sedang dingin-dinginnya, ditemani segelas Iced Cafe Latte yang es-nya perlahan mencair, saya pun diingatkan pada ayat lain yang sangat saya sukai dan diulang sebanyak 31 kali di surat Ar-Rahman:

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Two Cents, Bandung.

7 Maret 2016.

Iklan

2 thoughts on ““Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s