Review Buku: Perjuangan Melawan Ketakutan adalah ‘Jalan Tak Ada Ujung’

 

jalan-tak-ada-ujung
Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung (1952).Β 

Judul Buku : Jalan Tak Ada Ujung
Pengarang : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun Terbit : 1952
Tebal Buku : 166 Halaman
Harga Buku : Rp 40.000

 

Secara gamblang dari awal Β Mochtar Lubis telah mengenalkan pembaca dengan tema utama dari buku ini: ketakutan manusia. Dalam pembukanya, Mochtar Lubis mengutip kata-kata dari Jules Romains: ‘Apakah yang harus kita punyai, agar kita bebas dari ketakutan?’

Tema ini semakin dipertegas dengan paragraf pembuka dari buku yang menggambarkan suasana mencekam di Ibu Kota Jakarta selepas proklamasi kemerdekaan. Mengambil latar belakang kota Jakarta di tahun 1946, Mochtar Lubis menggambarkan kekacauaan yang terjadi pasca kemerdekaan di mana bentrokan kekerasan digambarkan sebagai makanan sehari – hari dari warga Jakarta yang hidup dalam tekanan tidak hanya tekanan akan ancaman kekerasan tetapi juga tekanan sosial seperti krisis pangan dan ekonomi yang semakin merajalela.

“Jalan – jalan kosong dan sepi. Beberapa orang bergegas lari dari hujan. Dan lari dari ancaman yang telah lama memeluk seluruh kota.” – Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung, halaman 1.

Setelah menggambarkan pada pembaca latar belakang dari cerita, Mochtar Lubis kemudian mengenalkan pembaca kepada tokoh sentral dari cerita ini: Guru Isa dan Hazil. Tokoh Guru Isa kembali mengikat pembaca terhadap tema utama dari buku dengan penggambarannya sebagai sosok yang dipenuhi ketakutan. Guru Isa adalah orang yang benci dan anti kekerasan, perilaku yang datang dari ketakutannya akan kematian, masa depan, dan banyak hal. Dia adalah seseorang yang sangat menghindari konflik dan berusaha keras untuk tidak terlibat pada konflik apapun yang terjadi di luar sana. Sementara itu, Hazil, tokoh sentral lainnya, adalah seorang pemuda yang memiliki semangat juang tinggi dan sangat berapi-api untuk memerangi para serdadu – serdadu asing yang berusaha merebut kembali kemerdekaan negara. Kedua tokoh yang saling bertolak belakang ini dipertemukan pada pertemuan gerakan revolusioner bawah tanah, di mana Guru Isa ditunjuk untuk memegang peranan penting karena kedudukan terhormatnya sebagai guru.

Musik menjadi perekat antara Guru Isa dan Hazil meskipun kedua tokoh utama ini memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, Guru Isa dengan ketakutannya akan kematian dan keengganannya terlibat proses revolusi yang tengah bergulir dan Hazil dengan keinginannya untuk mati demi revolusi yang utuh.

“Dan hanya ada Guru Isa dan Hazil, dan musik itu. Musik yang datang dari jagat ke dalam manusia, dan dari manusia ke jagat kembali.” – Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung, halaman 43.Β 

Alur pun bergulir mengikuti perjuangan revolusi yang tengah dijalani oleh Guru Isa, Hazil, dan sederetan tokoh lainnya. Semakin terseret arus revolusi, semakin ciutlah hati Guru Isa, ia semakin terombang-ambing dalam ketakutannya akan kematian untuk revolusi dan ketakutannya untuk tidak ikut dalam proses revolusi ini. Selain itu, alur pun menunjukkan wajah buruk dari revolusi di mana kekerasan dilakukan dan penindasan akan rakyat kecil tetap terjadi atas nama revolusi yang mendambakan sebuah negara ideal. Klimaks dari alur pun terjadi ketika Guru Isa akhirnya ditahan mengikuti penahanan Hazil. Pada akhirnya Guru Isa bisa melawan ketakutannya, atau lebih tepatnya merangkul ketakutannya dan memeluk erat ketakutan tersebut seperti kawan lama.

Ini merupakan kali kedua saya membaca karya dari Mochtar Lubis, sebelumnya saya sudah pernah membaca Senja di Jakarta yang juga kental dengan isu-isu sosial politik. Pembahasan isu-isu sosial politik di buku Mochtar Lubis bukan hal yang mengherankan, mengingat Mochtar Lubis sendiri memang memilikiprofesi jurnalis dan kerap meliput berita-berita yang berhubungan dengan sosial politik. Selain itu, sastrawan-sastrawan Indonesia di era 1940 – 1960 seperti Chairil Anwar, Sanusi Pane, Pramoedya Ananta Toer, dan Mochtar Lubis Sendiri memang seringkali membahas isu-isu sosial politik melalui karya-karya sastra.

Lagi-lagi saya merasakan betapa menyenangkannya mempelajari sejarah bangsa sendiri melalui sebuah karya sastra atau roman, sebagaimana saya sangat menikmati sejarah Indonesia pra kemerdekaan yang diliput secara apik oleh Pramoedya Ananta Toer di Tetralogi Pulau Buru atau mengenal keadaan sosial politik Jakarta di tahun 1960-an (yang ternyata tidak jauh berbeda dengan keadaan sekarang) melalui karya Mochtar Lubis yang lain: Senja di Jakarta.

Secara pribadi saya sangat menyukai buku-buku yang ditulis pada masa itu seperti ‘Jalan Tak Ada Ujung’, di mana sebuah karya sastra bukan hanya rangkaian kata-kata indah belaka atau perjalanan egoistik dari si protagonis denganmasalah-masalahnya sendiri yang terlepas dari masalah kemanusiaan di sekitarnya. Buku-buku pada masa itu merupakan kritik terhadap keadaan sosial dan politik juga, sebuah rangkaian kata yang memiliki maksud untuk membangunkan kesadaran-kesadaran yang tertidur.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s