Media Sosial dan Cara Baru Bersentuhan dengan Seni

20 tahun lalu di bulan Februari 1986, Mochtar Lubis menuliskan dalam esainya:

“Kegagalan banyak birokrat dalam melihat hubungan langsung antara seni dengan pembangunan sebenarnya mengherankan. Karena pembangunan dilakukan oleh manusia. Agar pembangunan sungguh-sungguh manusiawi dan untuk perbaikan kualitas hidup manusia, makan manusia yang terlibat dalam pembangunan perlu memiliki nilai-nilai manusia yang baik. Di sini seni dan sastra dapat berperan yang bermakna. Karena seni dan sastra dapat membantu manusia mencapai tingkat budaya dan peradaban yang lebih manusiawi.” – Mochtar Lubis dalam Seni untuk Membudayakan di buku kumpulan esai Manusia, Budaya, Masyarakat dan Manusia Indonesia.ย 

Sejak bulan Desember 2015 kemarin, saya semakin akrab dengan dunia yang pada awalnya saya anggap sebagai dunia yang eksklusif dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang cukup pintar untuk mengerti makna dibalik sebuah karya. Saya kemudian mendatangi perhelatan seni besar yang diadakan di Jakarta di bulan Desember kemarin: Jakarta Biennale. Di Jakarta Biennale saya melihat pemandangan yang menarik, di mana banyak sekali pengunjung-pengunjung yang datang bukan hanya dari lingkaran penggiat seni tapi pengunjung umum. Mungkin mereka memang datang hanya untuk foto – foto kemudian dibagikan di media sosial seperti Instagram atau Facebook, tapi bagi saya ini merupakan suatu fenomena yang cukup menarik. Bagaimana pameran seni seperti Jakarta Biennale bukan lagi jadi perhelatan seni yang membuat orang-orang di luar lingkaran seni merasa segan untuk datang karena takut tidak mengerti apa yang dipertunjukkan. Pameran seni seperti Jakarta Biennale menawarkan objek foto menarik yang memungkinkan pengunjungnya untuk mendapatkan puluhan likes di Facebook atau loves di Instagram. Dan mungkin memang mereka hanya datang untuk sebuah pengakuan dunia maya melalui media sosial tapi setidaknya apapun alasan dibalik kedatangan mereka, ataupun saya, kami semua telah bersentuhan dengan seni. Mungkin belum sampai ke akar tapi setidaknya sedikit sentuhan dengan seni lebih baik daripada tidak sama sekali.

Jika Anda cari di Instagram sekarang, tagar #majukenamundurkena yang merupakan tagline dari Jakarta Biennale 2015 sudah memiliki 3,579 foto di Instagram, sebuah angka yang cukup fantastis untuk perhelatan seni. Sementara itu, ada 11,719 foto di Instagram dengan tagar #JakartaBiennale2015.

Screen Shot 2016-06-25 at 15.46.08Screen Shot 2016-06-25 at 15.46.39

Ini menunjukkan betapa media sosial telah sangat mengubah apresiasi dan persentuhan seni di Indonesia kepada masyarakat umum. Hal ini diungkapkan pula di ย artikel ‘how social media is changing art’ yang ditulis oleh Emily Barasch di VICE: “You’ve read it, I’ve read it: social media is profoundly changing culture. But wandering around the Frieze Art Fair in New York last month (and simultaneously looking at images of the very same works on my phone), it was impossible to ignore the Instagram explosion that art fairs have recently become.”

“You’ve read it, I’ve read it: social media is profoundly changing culture. But wandering around the Frieze Art Fair in New York last month (and simultaneously looking at images of the very same works on my phone), it was impossible to ignore the Instagram explosion that art fairs have recently become.”

Indonesia merupakan salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia yang masyarakatnya merupakan masyarakat yang sangat melek digital. Teknologi dan internet telah menjadi kawan akrab dari banyak masyarakat Indonesia dan dengan cara unik, teknologi dan internet juga telah mengubah persentuhan antara seni dengan penikmatnya atau dengan yang ingin dan sedang berusaha untuk menikmati seni. Pada awalnya banyak perhelatan seni yang hanya eksklusif untuk orang-orang dalam lingkaran seni, tapi media sosial memungkinkan perhelatan-perhelatan ini untuk hilir mudik secara visual di media sosial dan pada akhirnya menjadi cara edukasi dan promosi bagi orang-orang lain yang berada di luar lingkaran.

Saya selalu meyakini bahwa media sosial sebagai hal yang sangat terinkorporasi di kehidupan manusia modern saat ini, terutama di Indonesia, dapat menjadi alat edukasi yang tepat guna dan menjangkau banyak orang. Sebagai sebuah alat, media sosial dapat digunakan oleh siapapun dan apapun, termasuk untuk edukasi seni. Hal ini sudah banyak dilakukan di dunia barat dengan banyaknya media-media digital yang membahas mengenai seni dengan cara lebih membumi. Selain itu, di barat sana, sudah cukup banyak pula museum atau ruang kreatif yang menggunakan media sosial untuk menarik orang-orang untuk datang ke perhelatan mereka. Manusia Indonesia saat ini berinteraksi dan menyerap banyak informasi dari media sosial, alangkah baiknya seni sebagai cara membudayakan manusia dikomunikasikan secara baik melalui media yang telah merasuk kedalam tubuh masyarakat Indonesia.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s