Merindukan Ruang Publik di Jakarta

“Ada nggak sih tempat nongkrong di Jakarta yang bukan mall atau kafe?”

Kalimat tersebut terlontar dari teman saya yang pernah menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun di Bandung. Sembari menyeruput Iced Caffe Latte dengan es yang sudah hampir separuhnya mencair, saya memutar otak, mencoba menjawab pertanyaan dari seseorang yang punya pilihan seperti Taman Hutan Raya Juanda atau Teras Cikapundung untuk nongkrong.

3414736640_e57f87f834_b
Taman Hutan Raya Juanda (Tahura), kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman yang terletak di Kota Bandung, Indonesia. Luasnya mencapai 590 hektare. Tahura buka setiap hari dari pukul 08:00 – 18:00 dan hanya perlu biaya masuk Rp 11.000 untuk dapat melihat objek wisata alam seperti goa Belanda atau Jepang, curug, konservasi Rusa, dan lain-lain yang membentang dari Dago Pakar sampai Maribaya.
Ruang Publik Bandung Teras Cikapundung
Teras Cikapundung. Menurut wisatabdg.com, lokasi ini merupakan ruang publik dengan konsep urban dan ekologi di sekitar aliran Sungai Cikapundung. Salah satu fasilitas di sini adalah Amfiteater yang dapat dijadikan tempat pemutaran film, konser, ataupun pertunjukan lain. © Detik.com

“Maksudnya, ruang publik kayak taman kota gitu?” saya bertanya kembali, berusaha membeli sedikit waktu untuk datang dengan jawaban yang ternyata cukup susah.

Teman saya mengiyakan, dan otak saya mulai sedikit berjalan dengan bantuan kafein,”Ya, selain taman kota, di mana yang cukup decent palingan cuma ada Taman Suropati atau Taman Menteng, palingan ruang publik kayak Kota Tua dan Lapangan Monas gitu. Atau… Ancol.”

Saya mengakui jawaban saya sangat seadanya walaupun saya sudah cukup lama menghabiskan waktu di Jakarta, sudah hampir 16 tahun. Tapi, saya merasa pengetahuan saya cukup minim mengenai apa yang teman saya sebut sebagai ‘tempat nongkrong’ di Jakarta yang bukan mall atau kafe.

Pertanyaan tersebut, dan perjalanan kami yang akhirnya berakhir di Ancol Lagoon, membuat saya tersadar betapa minimnya ruang publik di Jakarta dan betapa menyedihkannya nasib sebagai orang Jakarta yang pilihan untuk nongkrongnya sebenarnya sangat minim dalam bentuk ruang walaupun hadir dalam banyak varian nama. Tempat-tempat nongkrong kami adalah sederetan mall, kafe, dan restauran yang mendorong konsumerisme. Saya lalu melihat bahwa tempat nongkrong di Jakarta menyalahi hakikatnya sebagai tempat, di mana kafe dan restauran dicari sebagai ‘tempat trendi untuk foto-foto’ dan bukan tempat makan atau minum sebagaimana fungsi dari kafe dan restauran. Kontemplasi singkat kurang bermakna saya kemudian menarik pikiran penuh distraksi saya ke sebuah lagu oleh Sore yang berjudul ‘Para Plesirs Semu’ dan ‘Plastik Kita’. Dalam wawancaranya dengan Rolling Stones, Ade Paloh bercerita bahwa ‘Plastik Kita’ merupakan lagu tentang “dekadensi konsumerisme dan jiwa-jiwa yang ikut terjual bersamanya. Semuanya plastik”. Sementara itu, ‘Para Plesirs Semu’ yang ditulis oleh gitaris Sore, Reza Dwiputranto, adalah lagu riang yang bercerita tentang “Orang-orang yang hura-hura, senang-senang terus. Pada akhirnya nanti dia berpikir, kan? ‘Yang gue lakukan kemarin bermanfaat nggak?'”.

Kembali lagi ke ruang publik, pada awalnya saya mengira bahwa tempat nongkrong seperti kafe, mall, restauran yang masuk dalam daftar-daftar Zomato adalah ruang publik. Tapi, dari penjelasan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), saya baru mengetahui yang dimaksud dengan ruang publik adalah

“an area or place that is open and accessible to all peoples, regardless of gender, race, ethnicity, age or socio-economic level”

Ini tentunya menyalahi deskripsi mengenai tempat-tempat nongkrong, terutama di daerah-daerah seperti Sudirman, yang tidak dapat diakses semua kalangan sosial. Tapi, tempat seperti Kota Tua, Ancol, dan Taman Suropati memenuhi apa yang dimaksud sebagai ruang publik oleh UNESCO. Semua orang, tidak peduli latar belakangnya apa, dapat bergembira dengan jajanan pasar di Kota Tua, berjalan dengan santai menikmati angin pantai Ancol, dan makan nasi goreng gila di Taman Suropati. Di tempat-tempat seperti itu, ada sebuah kebahagiaan yang didapat secara sederhana tanpa perlu dipamerkan. Sebuah pengalaman berada di ruang terbuka juga membuat kami tidak perlu sibuk cari colokan listrik untuk charge telepon genggam dan sibuk eksis di dunia virtual tapi tidak di kehidupan nyata.

 

Tapi, sebuah ruang publik bukan hanya ruang dalam artian harafiah, sebuah tempat dengan fungsinya masing-masing. Komunitas yang berada di dalamnya lah yang dapat memberikan arti bagi sebuah ruang publik dan menyadarkan warga kota mengenai pentingnya ruang publik. Ruang publik dapat dijadikan sebagai ruang kreatif juga, sebuah tempat alternatif, di mana publik dapat menggunakan ruang tersebut untuk berkarya, berkenalan dengan karya, atau bergabung dengan komunitas yang mereka sukai. Lalu, ruang publik juga sebenarnya berkaitan erat dengan kesehatan mental dari warga sebuah kota, terutama di kota berkehidupan keras seperti Jakarta dengan tingkat stres yang sangat tinggi. Selama ini warga Jakarta berusaha melepas stres dengan datang ke mall, kafe, atau restauran dan pulang dengan stres lagi karena telah menghabiskan uang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan tapi kemudian terbeli akibat godaan diskon atau demi eksistensi media sosial. Ruang publik seperti taman kota, contohnya Taman Suropati di Jakarta, bisa menjadi tempat melepas penat, duduk di pinggir menikmati makanan dan mendengarkan musik dari komunitas musik yang tengah belajar di sana. Ide menarik lain yang terlintas di pikiran saya untuk suatu ruang publik adalah sebagai tempat untuk berkenalan dengan seni, misalnya, pemutaran film seperti di Taman Film, Bandung, atau instalasi di mana publik dari latar belakang apapun dapat lebih mengenal kota-nya melalui karya seni.

Pemikiran ini kemudian membuat saya merindukan Yogyakarta, tempat di mana saya bisa melepas stres kuliah dengan jalan ke Alun-Alun Utara atau Selatan atau ke Titik Nol dan melihat warna lain dari kota Yogyakarta. Alangkah menyenangkannya apabila Jakarta adalah kota yang berbudaya seperti Yogyakarta, alangkah menyenangkannya apabila Jakarta tidak mematikan kreativitas tapi malah mendorong kreativitas, alangkah menyenangkannya melihat warna lain dari warga kota Jakarta di ruang publik, alangkah menyenangkannya melihat bahwa Jakarta bukan hanya dipenuhi kumpulan warga yang sibuk dengan telepon genggam masing-masing, tapi dengan diskusi tentang buku, film, dan kehidupan atau berbagi cerita dengan bekal yang dibawa dari rumah.

Baca juga: Top Five Reasons why Public Space is Important.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s