Catatan Pulang Kampung: Menulusuri Jejak Leluhur Pt. 1

Salah satu hal yang paling saya tunggu setiap tahun adalah perayaan Idul Fitri. Saya tidak menunggu baju baru, ketupat, ataupun makanan dengan santan tumpah ruah yang dipastikan menambah kolestrol, walaupun saya pasti tidak menolak juga apabila disodori baju baru dan satu piring berisi ketupat dan opor ayam. Saya selalu menunggu Idul Fitri karena tradisi tahunan keluarga besar saya untuk mudik dan jalan jalan yang selalu dipenuhi rangkaian acara seru seperti pembagian angpau, games dengan hadiah tambahan, dan juga tentunya bertemu dengan sepupu-sepupu saya yang hampir setiap tahun selalu bertambah.

Jika menurut pada Wikipedia, mudik diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Namun ternyata kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa Ngoko. Kata mudik merupakan singkatan dari ‘mulih dilik’ yang artinya adalah pulang sebentar.

Cerita pulang kampung tahun ini merupakan cerita yang spesial, karena pada akhirnya, saya pulang kampung ke tempat yang menegaskan garis kesukuan saya. Sebuah identitas yang sangat penting bagi warga negara Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku yang tersebar dari Sabang sampai dengan Merauke. Keluarga besar saya memang sudah merantau sejak lama, meninggalkan tanah kelahiran dan menetap di dua kota: Balikpapan dan Surabaya. Sementara, saya sendiri beserta kakak-kakak dan mama telah menetap di Jakarta sejak tahun 2000 setelah almarhum papa dipindah tugaskan ke Jakarta 16 tahun silam. Tradisi mudik memang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia, setiap tahun menjelang Idul Fitri, pasti akan ada pertanyaan apakah saya akan mudik atau tidak disusul dengan pertanyaan tujuan mudik saya. Dan, setiap tahun, setiap kali saya mengatakan tujuan mudik saya, saya akan disangka sebagai orang Jawa Timur atau Dayak mengingat tujuan mudik saya yang berganti-ganti antara Balikpapan atau Surabaya. Padahal, pada kenyataannya saya lahir dari seorang papa yang bersuku Bali dan mama yang bersuku Bugis.

10391777_1253043695419_3160248_n
Pernikahan adat Bali Papa dan Mama di Blayu, Tabanan, tempat kelahiran Papa.(1981)

Bani Hasjim Mahmud

Bani Hasjim Mahmud merujuk pada keluarga besar mama. Mama terlahir dari Opa yang bernama Hasjim Mahmud dan berasal dari Sinjai, Sulawesi Selatan, dan Oma yang bernama Hafsah dan berasal dari Bone, juga di Sulawesi Selatan. Opa sempat tinggal di Sinjai sebagai bagian dari tugasnya sebagai guru di bawah program Pengiriman Tenaga Mahasiswa (PTM), sebuah program yang menginspirasi program dari Anies Baswedan: Gerakan Indonesia Mengajar dan juga mata kuliah wajib di almamater saya: Kuliah Kerja Nyata Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (KKN PPM) Universitas Gadjah Mada. Singkat cerita, yang akan saya ceritakan di kesempatan lain, Opa saya akhirnya merantau ke Surabaya dan Mama beserta sepuluh saudaranya tumbuh besar di Surabaya.

26997_109480405745263_5146708_n
Keluarga Besar Hasjim Mahmud di Balikpapan pada perayaan Lebaran tahun 2010. 

Dari Mama yang memiliki sepuluh saudara di mana saya memiliki lima om dan lima tante, saya juga memiliki 25 sepupu. Setiap tahunnya, kami harus menyewa moda transportasi yang cukup besar untuk bisa menampung semuanya dalam satu kendaraan.

Lebaran2016-1
Mama di depan bis yang kami sewa untuk perjalanan selama di Sulawesi Selatan. (2016)

Perjalanan Menuju Sinjai

Saya tiba di Makassar pada tanggal 6 Juli 2016 setelah tujuh tahun tidak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran Mama. Sesaat setelah melakukan sholat Ied di Jakarta bersama kedua kakak saya, kami terbang ke Makassar dan tiba di Makassar pada pukul 14:00. Perjalanan dari Jakarta ke Makassar menggunakan pesawat terbang memakan waktu kurang lebih dua jam. Kami bertiga adalah rombongan pertama yang tiba di Makassar dan beberapa jam kemudian, rombongan dari Balikpapan tiba dan kami bersiap untuk berangkat ke Sinjai, kampung halaman Opa.

Perjalanan dari Makassar ke Sinjai dapat ditempuh melalui jalur darat selama empat jam, tapi, karena kendaraan yang kami gunakan cukup besar dan jalanan yang biasa dilalui oleh kendaraan pribadi merupakan jalanan yang kecil, kami harus mengambil jalanan lain dan akhirnya kami baru tiba di Sinjai pada pukul 00:00 W.I.T.A setelah enam jam perjalanan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar. Perjalanan cukup melelahkan dan kami tidak berhenti untuk makan, hanya sesekali pemberhentian untuk buang air. Makanan sudah disiapkan oleh Mama dan tante-tante saya, ayam serundeng dan buras. Sepupu-sepupu saya menghabiskan waktu dengan bermain sementara saya yang sudah cukup lelah dengan perjalanan dari Jakarta ke Makassar memilih untuk mendengarkan lagu dan sesekali membaca beberapa buku yang saya bawa dari Jakarta untuk mengisi waktu.

DSCF3199.JPG
Beberapa sepupu saya yang sudah tiba duluan dari Balikpapan bermain di bis untuk mengisi waktu dalam perjalanan dari Makassar ke Sinjai.

Sesampainya di Sinjai, kami menginap di Hotel Grand Rofina. Dari luar, penampilan hotel ini seperti hotel dari tahun 1960-an, klasik dan terkesan sedikit mistik. Tapi, mengingat Sinjai merupakan kota kecil yang tidak terlalu sering dikunjungi wisatawan, saya sudah cukup bersyukur ada hotel yang bisa memuat seluruh keluarga saya. Dari beberapa sumber lain yang saya dapat di Google, Sinjai merupakan perhentian terdekat apabila ingin mengunjungi Pulau Sembilan, sebuah spot snorkling yang cukup belum tersentuh. Apabila suatu saat Anda ingin mengunjungi Pulau Sembilan, saya merekomendasikan Grand Rofina karena saya tidak yakin juga ada hotel lain di Sinjai yang cukup memadai. Untuk mengunjungi Pulau Sembilan, bisa ke Pelabuhan Lappa di Sinjai dan kemudian naik speedboat selama 20 menit menuju Pulau Sembilan.

Tentang Pulau Sembilan bisa dibaca di sini.

Hari pertama di Sinjai

Agenda pertama di Sinjai adalah open house. Keluarga saya memang biasa mengadakan open house setiap Lebaran, dan kali ini meskipun kami tamu, kami juga menjamu tamu dengan mengadakan open house di sekolah yang sedang dibangun oleh Opa di Sinjai.

DSCF3209.JPG
Keluarga besar saya dengan dress code merah menuju sekolah Opa di Mangarabombang, Sinjai. 
DSCF3218.JPG
Sekolah yang sedang dibangun Opa di Sinjai.

Tepat di belakang rumah Opa terhampar pemandangan yang mungkin biasa saja bagi orang-orang di Sinjai, tapi menjadi sesuatu yang luar biasa bagi saya yang sudah hampir tidak pernah melihat sawah yang luas membentang dengan langit yang masih sangat cerah dan biru. Kesempatan melihat pemandangan itu tidak saya sia-siakan, saya dan dua sepupu saya: Dea dan Mas Dicky, memutuskan untuk memanjat tembok untuk foto-foto dengan pemandangan sawah.

DSCF3317
Sepupu x Partner-in-crime. Saya dan Dea lahir berselang sebulan saja, Dea di bulan Juni 1992 dan saya di Juli 1992. 
DSCF3325.JPG
Dea dan Mas Dicky. 

Setelah acara open house, kami semua kembali lagi ke hotel. Para sepupu-sepupu laki-laki saya memutuskan untuk bermain futsal karena hotel yang kami tempati tepat bersebelahan dengan lapangan futsal. Sementara itu, saya beserta mama, kakak saya, dan beberapa sepupu saya memutuskan untuk ke Pelabuhan Larea-rea yang terkenal oleh para wisatawan dengan pemandangan cantiknya terutama saat sunset. Pelabuhan Larea-rea tidak terlalu jauh dari hotel kami menginap, hanya sekitar 10 menit karena memang Sinjai adalah kota kecil. Dalam perjalanan menuju Pelabuhan Larea-rea, saya disambut pemandangan rumah-rumah panggung Bugis, rumah tradisional khas suku Bugis, dan juga hutan bakau.

DSCF3335.JPG
Pelabuhan Larea-rea, Kabupaten Sinjai.
DSCF3360.JPG
Di sebelah timur dari Pelabuhan Larea-rea, kami dapat melihat jejeran pulau yang merupakan bagian dari Pulau Sembilan. 
DSCF3446.JPG
Hutan Bakau tepat sebelum pinta masuk Pelabuhan Larea-rea

 

DSCF3430
Hutan Bakau, Larea-rea, Sinjai. 

Catatan pulang kampung akan saya lanjutkan lagi di tulisan selanjutnya di mana saya akan menulis mengenai falsafah rantau suku Bugis dan juga kunjungan kami sekeluarga ke Tanjung Bira di Bulukumba.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s