Review Buku: Bagaimana si Miskin Mati – George Orwell

bagaimana-si-miskin-mati
George Orwell, Bagaimana si Miskin Mati (2016).

Judul Buku : Bagaimana si Miskin Mati
Pengarang : George Orwell
Penerjemah : Widya Mahardika Putra
Penerbit : Penerbit OAK
Tahun Terbit : 2016
Tebal Buku : 216 halaman
Harga Buku : Rp 68.000

Dari sekian banyak buku dan penulis yang saya kagumi, pada akhirnya saya akan terus kembali kepada lima nama yang selalu saya bawa dalam setiap percakapan mengenai buku: F. Scott Fitzgerald, Haruki Murakami, Jack Kerouac, Albert Camus dan tentu saja, George Orwell.

Perkenalan pertama saya dengan George Orwell terjadi hampir sembilan tahun lalu. Di kelas dengan suhu yang terlalu dingin dan bangku yang tidak nyaman bukan main, saya mengernyitkan dahi berusaha mencerna kata-kata dari Mr. Fendrick, guru Bahasa Inggris untuk kelas 11 di Fremont High School, Utah. Saya yang pada masa itu masih sangat buruk dalam mendengarkan, membaca, menulis dan berbicara dalam Bahasa Inggris (hingga sekarang pun kemampuan mendengar saya masih cukup buruk dibandingkan kemampuan lainnya), harus berkonsentrasi penuh ketika Mr. Fendrick membahas karya dari George Orwell yang berjudul 1984. Untuk pembaca yang candu dengan kisah-kisah seperti Brave New World dari Aldous Huxley, Cat’s Cradle atau Slaughterhouse Five dari Kurt Vonnegut, Fahrenheit 451 dari Ray Bradbury, pasti akan jatuh cinta bukan main dengan 1984 dan ketika sudah jatuh cinta dengan 1984, pasti kemudian akan jatuh cinta dengan kepiawaian George Orwell dalam mengawinkan politik dan sastra menjadi satu. Berangkat dari tugas sekolah yang tidak bisa dihindari, saya pun membaca buku dari George Orwell yang lain, Animal Farm, sebuah karya sastra yang selalu santer dibicarakan karena gebrakannya dalam membicarakan politik melalui cerita fabel. Tapi, George Orwell yang juga berprofesi sebagai jurnalis juga dikenal sebagai seorang esais yang handal. Bahkan, apabila Anda cari di Google mengenai esai-esai George Orwell, Anda akan banyak menemukan review yang mengatakan bahwa George Orwell adalah salah satu esais Bahasa Inggris paling baik yang pernah ada.


Perjumpaan saya dengan buku ini berawal dari kunjungan pertama saya ke POST Santa, toko buku independen yang dimiliki oleh Teddy dan Maesy yang juga piawai merangkai kata dalam blog mereka: The Dusty Sneakers. Teman saya membeli buku Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London (Down and Out in Paris and London) yang juga karangan George Orwell dan saya mengambil Bagaimana si Miskin Mati yang merupakan terjemahan dari Fifty Orwell Essays. Dari perbincangan singkat dengan Teddy dan Maesy, mereka memberitahu saya bahwa dengan membaca esai-esai ini, maka saya dapat melihat dan memahami latar belakang dari kenapa George Orwell menulis buku seperti 1984 dan Animal Farm.

Esai-esai dalam buku ini memiliki tema variatif yang sedikit banyak membuat pembaca dapat mengintip pemikiran-pemikiran politik, sastra, dan kehidupan dari kacamata seorang George Orwell. Meskipun di Indonesia ia lebih banyak dikenal sebagai penulis sastra dengan karya 1984 atau Animal Farm, George Orwell sebenarnya banyak menulis esai-esai terutama dengan tema politik. Ia adalah penulis yang sangat melek politik dan bukan hanya melek dalam artian mengetahui berita politik pada masanya, tapi ia pun memiliki sikap politik yang cukup tegas dan dalam berbagai bahasan mengenai sejarah hidup Orwell, dapat dipastikan bahwa ia selalu diasosiasikan sebagai seorang sosialis dan orang yang anti totalitarian. Dalam buku ini, salah satu sikap politiknya yang paling terlihat adalah antipatinya terhadap imperialisme Inggris. Sikap politiknya itu dia tuliskan melalui beberapa esai dalam buku ini seperti esai ‘Menembak Seekor Gajah’ (Terjemahan dari esai ‘Shooting an Elephant’) yang mengambil sudut pandang polisi imperial Inggris yang ditugaskan di Burma dan diharuskan menembak gajah yang berbuat kekacauan di perkampungan. Dalam esai tersebut Orwell mengisahkan bahwa si narator sebenarnya enggan untuk membunuh seekor gajah.

“Tapi saya tetap tidak ingin menembak si gajah. Saya menyaksikannya membersihkan rumput dengan lututnya, dengan karisma ala nenek bijak yang dimiliki oleh para gajah. Bagi saya, membunuhnya sama kejamnya dengan membunuh manusia.” 

Namun, si narator merasa tertekan dengan para pribumi yang mengelilingnya dan bersorak sorai mendukungnya untuk membunuh si gajah dan dari narasi ini Orwell pun menceritakan pandangannya mengenai imperialisme dari Inggris dan negara-negara kolonial lain yang ia anggap ‘sia-sia’.

“Mereka berharap saya menembak si gajah dan saya harus menembak si gajah; saya bahkan bisa merassakan kehendak dua ribu kepala yang mendorong saya maju tanpa bisa ditentang. Dan pada saat itulah, ketika saya berdiri di sana dengan senapan di tangan, saya memahami betapa tidak berarti dan sia-sianya penjajahan yang orang kulit putih lakukan di Asia. Dan di sini saya, seorang kulit putih bersenapan, berdiri di depan kerumunan orang Burma yang tak bersenjata, bagaikan bintang utama sebuah drama; tapi kenyataannya, saya hanyalah sebuah boneka konyol yang didorong ke sana kemari oleh kehendak wajah-wajah kuning di belakang saya. Pada saat itulah saya mengerti bahwa ketika orang kulit putih menjadi seorang tiran, sebenarnya kemerdekaannya sendirilah yang ia binasakan. Ia menjadi semacam boneka murahan tak berisi. Karena sudah menjadi syarat dalam kekuasaannya untuk membuat para pribumi terkesan sepanjang hidupnya, sehingga di setiap masa genting ia harus melakukan apa yang para pribumi harapkan darinya. Ia memakai sebuah topeng, dan wajah asilnya menyesuaikan bentuknya dengan bentuk topeng itu. Saya wajib menembak si gajah.”

Di lain esai, Orwell memperlihatkan sisi kesusastraannya melalui dua esai Orwell yang paling populer: Politik dan Bahasa Inggris (Politics and the English Language) dan Mengapa Saya Menulis (Why I Write). Mengapa Saya Menulis adalah esai yang paling saya suka dari Orwell dan juga esai Orwell yang pertama kali saya baca. Dalam esai tersebut, Orwell menjelaskan empat motif dari seorang penulis, yaitu:

  1. Egoisme
  2. Antusiasme Estetik
  3. Dorongan Historis
  4. Tujuan Politik

Orwell kemudian menjelaskan bahwa setiap penulis pastilah memiliki setidaknya satu dari empat motif tersebut, tapi tidak memungkinkan bahwa motif yang dimiliki bisa lebih dari satu pula dan berganti-ganti selama masa hidup sang penulis. Sebagai penulis yang hidup dalam masa-masa peperangan, Orwell menyatakan bahwa sebenarnya ia terdorong untuk menulis karena tiga motif pertama, namun, karena keadaan zaman yang ia hidupi, ia terpaksa harus menulis dengan motif keempat juga. Dalam esai ini juga, Orwell kembali menegaskan sikap politiknya dengan kalimat, “Perang Spanyol dan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi pada tahun 1936-1937 menjadi penentu, dan setelah itu saya mengerti posisi saya. Sejauh yang saya tahu, tiap baris dari karya-karya serius yang saya tulis sejak 1936 saya tulis, baik secara langsung maupun tidak, untuk melawan totaliterisme dan untuk mendukung sosialisme demokratis.” 

Kalimat di atas kemudian menjelaskan mengenai tema utama dari 1984, begitu pula pengalaman-pengalaman Orwell terutama dalam Perang Spanyol dan keadaan di masa itu dimana fasisme tengah menyeruak.


Lalu kemudian, setelah membaca keseluruhan esai George Orwell, dan terutama esai ‘Mengapa Saya Menulis’, saya menyadari bahwa kekaguman saya terhadap Orwell berasal dari kesadaran akut Orwell bahwa penulis menulis untuk suatu tujuan dan tujuan Orwell adalah membangkitkan kesadaran sebagaimana kepercayaan saya bahwa buku dan karya tulisan sastra memang sudah seharusnya membangkitkan kesadaran-kesadaran yang tertidur. Saya pun tersadar juga bahwa Orwell merupakan penulis yang berhasil tidak melupakan sisi estetik dari sebuah tulisan, karena pada dasarnya sastra juga adalah karya seni, namun tidak kemudian terjebak pada tulisan-tulisan kosong yang hanya dipenuhi kata berbunga-bunga yang indah dibaca dan dikutip namun tidak menyentuh hati terdalam manusia. Dalam bahasanya sendiri, Orwell menyatakan bahwa ia adalah penulis yang menulis karena motif-motif kemasyarakatan.

Hal lain yang menarik dari esai ini adalah pemikiran Orwell yang visioner dan sisi sentimentalnya sebagai seorang ‘seniman’. Orwell, sebagaimana penulis-penulis hebat lainnya adalah seorang yang sangat perasa dan memiliki kesadaran tinggi terhadap hal-hal yang seringkali terlewat. Sebagaimana penulis-penulis lain yang saya kagumi, dan orang-orang yang saya kagumi lainnya dalam kehidupan, Orwell melihat dunia dengan kacamata seorang pemimpi yang imajinatif, karakteristik dari manusia-manusia yang selalu saya kagumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s