Bulan Agustus di Galeri Nasional Indonesia

Baru-baru ini saya mengunjungi Galeri Nasional Indonesia untuk melihat pameran koleksi istana yang baru pertama kali diadakan di Indonesia. Saya kemudian pulang dengan bertanya-tanya apakah Bung Karno menyadari dari awal tentang pentingnya seni bagi sebuah bangsa ataukah dia memang hanya seseorang pecinta dan pengapresiasi seni? Apakah motivasi dari Bung Karno sebagai seorang kolektor karya seni? Pertanyaan saya tersebut belum terjawab dan kemungkinan besar setiap orang yang membawa jawaban akan datang dengan jawaban yang berbeda-beda.

1717

Tulisan ini bukan untuk mengupas mengenai motivasi Bung Karno menjadi seorang kolektor apalagi mengupas interpretasi visual dari setiap karya-karya seni rupa yang dipamerkan di pameran “17|71: Goresan Juang Kemerdekaan” yang tengah berlangsung di Galeri Nasional sampai dengan tanggal 30 Agustus 2016 nanti. Saya tidak memiliki pemahaman seperti itu. Sebagai seseorang yang menyukai karya Affandi tanpa tahu teknik apa yang digunakan Affandi dalam melukis ataupun alasan intelektual dibalik kesukaan saya terhadap karya Affandi, tulisan saya mengenai pameran ini sebatas untuk membagikan pengalaman dan berharap siapapun yang membaca dapat meluangkan waktu untuk mengunjungi pameran ini. Anggaplah tulisan ini semacam promosi sukarela yang saya lakukan dengan semangat agar orang-orang tidak menyia-nyiakan kesempatan luar biasa untuk melihat mahakarya dari maestro Indonesia yang dimiliki oleh Istana Negara. Kapan lagi bisa melihat secara dekat karya legendaris ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ yang dilukis oleh Raden Saleh di tahun 1857? Ada sesuatu yang menggetarkan hati ketika melihat secara langsung karya ini, sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan dengan baik karena kurangnya pemahaman seni saya dan mungkin juga karena saya sudah terlalu bias dengan pendapat mengenai kehebatan karya ini. Tapi, sudah bisa dipastikan bahwa sekali saja seumur hidup, sebagai seorang Indonesia, Anda harus melihat karya ini. Bahkan sastrawan Taufiq Ismail sampai membuat sajak ketika ia melihat karya ini.

Menatap lukisan Penangkapan Diponegoro, aku berdiri dan termangu
Di depan kanvasmu, lewat jendela bingkaimu kau undang aku
Meluncur masuk lorong sejarah. Kau beri kami langit Magelang
Tiada awan menggulung atau terbentang

Cuma ada dua puncak gunung dan bukit kabut tipis tergenang
Kau beri kami adegan abad sembilan belas, yang begitu tegang
Seorang Pangeran, panglima pertempuran telah ditangkap

Dia mengenakan serban hijau, jubah putih tanpa alas kaki
Badannya kecil, tapi wajahnya menantang dengan sikap berani
Aku tidak membaca rasa sesal atau menyalahkan nasib
Pada perincian wajahnya yang diguratkan dengan cat minyak
Seratus tiga puluh delapan tahun yang lalu
Raden Saleh Sjarif Bustaman, betapa padat isyarat lukisan tuan”

13902719_10208953903117385_4035523962916425414_n
Penangkapan Pangeran Diponegoro (The Arrest of Pangeran Diponegoro) dilukis oleh Raden Saleh di tahun 1857.

 

Lalu, ada juga lukisan dari Basoeki Abdullah yang juga sudah akrab kita lihat di buku-buku sekolah yang berjudul ‘Pangeran Diponegoro Memimpin Perang’. Lukisan Basoeki Abdullah ini merupakan salah satu lukisan pertama yang dapat kita lihat begitu memasuki ruang pameran. Tidak jauh dari situ tampak lukisan ‘Potret H.O.S. Tjokroaminoto’ karya Affandi yang sudah langsung bisa saya kenali dari jauh karena gaya serta warna dari lukisan Affandi yang khas. Di luar lukisan ‘Potret H.O.S. Tjokroaminoto’, lukisan Affandi lainnya yang ada dalam pameran ini adalah ‘Laskar Rakyat Mengatur Siasat’. Selain nama-nama seperti Raden Saleh, Basoeki Abdullah, dan Affandi, dan ada juga karya dari pelukis yang merupakan pelukis istana di masa Bung Karno, yaitu Dullah dan Lee Man Fong. Salah satu lukisan yang menarik perhatian saya adalah lukisan karya Harijadi Sumadidjaja yang berjudul ‘Awan Berarak Jalan Bersimpang’. Dalam teks kuratorialnya dijelaskan bahwa visual dari lukisan ini menggambarkan masa-masa revolusi dengan gambar awan gelap yang berarakan, penjelasan yang langsung mengingatkan saya pada karya sastra Mochtar Lubis yang juga berlatar belakang masa-masa revolusi.


Tentang koleksi di gudang istana.

 

12472511_10208953808715025_5882175006001953548_n1
Lukisan bertajuk ‘Rini’, karya dari sang proklamator sendiri, Bung Karno.

 

Di salah satu tulisan yang ditulis oleh Arie C. Meliala di Pikiran Rakyat, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa terdapat kurang lebih 3000 lukisan yang dimiliki oleh istana. Kebanyakan atau mungkin semua koleksi lukisan tersebut adalah hasil peninggalan Bung Karno. Bung Karno memang terkenal dengan jiwa seninya yang tinggi, berbanding terbalik dengan Soeharto yang masa pemerintahannya seakan mematikan seni dan dengan matinya perkembangan seni, mati pulalah perkembangan karakter sebuah negara. Di artikel yang ditulis oleh International Institute for Asian Studies (IIAS) tentang koleksi karya seni Bung Karno, dinyatakan bahwa Bung Karno memiliki visi ambisius mengenai koleksi seni-nya. Dia membeli karya untuk ditinggalkan kepada bangsa Indonesia, mungkin pernyataan ini secara sederhana dapat sedikit menjawab pertanyaan yang saya ajukan di atas mengenai motif dari kegemaran Bung Karno untuk mengkoleksi karya seni. Lalu kemudian, masih dari tulisan yang sama dari Pikiran Rakyat, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa dia berharap melalui pameran ini bangsa Indonesia dapat belajar sesuatu, dapat terinspirasi melalui goresan perjuangan dari sebuah karya seni, agar kemudian Indonesia dapat menjadi bangsa yang berkarakter.

“Mereka bisa membangun, bisa membayangkan, membangun imajinasi yang indah tentang bangsa Indonesia, tentang tumpah darah Indonesia, tentang sopan santun dan kehalusan budi masyarakat Indonesia dan tentang peradaban kita Indonesia,” katanya.

Dia berharap pameran lukisan koleksi istana ini bisa menginspirasi semua pihak, bisa memicu, memacu semangat, dan bisa memperkuat karakter bangsa agar nantinya Indonesia menjadi bangsa pemenang. Soalnya, kata Jokowi, tantangan ke depan semakin berat dan tidak mudah. ” Tanpa optimisme, tanpa semangat gotong royong, tanpa semangat kerja keras, tanpa kreativitas yang tinggi bangsa ini akan digulung oleh arus sejarah dan ini kita tidak mau,” katanya.

Presiden Joko Widodo kemudian berjanji menampilkan koleksi seni istana semakin sering kedepannya. Untuk pertama kalinya, selama dua tahun masa pemerintahan Joko Widodo dan satu tahun masa kampanye sebelumnya, saya mengamini perkataan dari bapak Presiden.


Seni dalam proses pembangunan bangsa

Beberapa bulan kebelakang ini saya semakin menyadari dan mengamini pentingnya seni, mulai dari seni rupa, sastra, film, dan karya-karya seni lainnya dalam menguatkan karakter suatu bangsa. Bahwa, seseorang dapat belajar dari medium menyenangkan seperti seni dan kemudian mengambil pelajaran dari setiap karya yang ia lihat, baca, dan tonton dan pada akhirnya membentuk seseorang dengan kepribadian yang kuat, seseorang yang belajar tentang moral dan karakter bukan hanya dari buku Kewarganegaraan atau dari pelajaran Pancasila tapi juga dari karya-karya seni yang punya kekuatan untuk menyentuh hati. Lantas kenapa seni memiliki peranan yang besar bagi pembentukan karakter? Pertanyaan yang saya pun tidak memiliki jawaban konkret tapi mungkin apabila saya dapat menjawab pertanyaan tersebut saya akan menjawab karena seni berbicara bahasa yang universal bahwa tanpa harus mengerti konsep dan teori pun seseorang dapat bersenang-senang dengan menikmati seni dan kemudian sedikit demi sedikit seperti tetesan air yang memotong batuan, terpahatlah pula sebuah karakter.

Di ujung tulisan ini, sebagaimana sudah saya tuliskan di atas, saya ingin mengajak semua orang, terutama yang tinggal di Jakarta, untuk menyempatkan waktu datang ke Galeri Nasional dan mengunjungi pameran 17|71: Goresan Juang Kemerdekaan. Dengar-dengar dari berbagai berita yang seliweran di media sosial, pameran ini sangat ramai karena proses registrasi di mana kita harus mengambil nomor antrian dan menitipkan barang. Kamera profesional ataupun mirroless tidak diperbolehkan, hanya boleh kamera saku dan handphone. Untuk menghindari antrian, mungkin bisa dicoba anjuran dari Bapak Triawan Munaf yang membagikan link untuk registrasi melalui internet: https://t.co/rlZz16Y2oX

“A nation devoid of art and artists cannot have a full existence.” – Kemal Attaturk. 

Lihat katalog pameran di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Bulan Agustus di Galeri Nasional Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s