Review Buku: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi – Yusi Avianto Pareanom.

dscf5603

Judul Buku : Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit : Penerbit baNANA
Tahun Terbit : 2016
Tebal Buku : 450 halaman
Harga Buku : Rp 70.000

Banyak perasaan berkecamuk dalam diri saya ketika mulai, sedang, dan selesai membaca buku ini. Mulai dari rasa lapar, haru, rindu, kagum, senang, dan akhirnya mual karena jantung terlalu berdebar – campuran dari kemungkinan saya gejala tipus dan terlalu banyak emosi tercurah saat proses membaca buku ini. Di sampul belakang buku memang sudah diberitahu bahwa buku ini adalah dongeng kontemporer – yang tidak saya sadari adalah buku ini malah membuat saya rindu kepada almarhum Papa karena mengingatkan saya pada saya di umur belasan tahun dengan kaos gombrong dan celana pendek di bawah lutut yang tidur-tiduran di lantai membaca serial Mahabharata dari R.A. Kosasih, untuk entah keberapa kalinya, hasil pemberian Papa untuk saya dan kakak-kakak saya.

Sebelum berkoar mengenai perasaan dan pendapat saya mengenai buku ini, saya ingin bercerita singkat mengenai cerita dalam buku ini, seperti sudut pandang narasi, alur, dan tokoh-tokoh di dalamnya. Walaupun memakai nama Raden Mandasia di judulnya, sebenarnya cerita ini diceritakan dari sudut pandang seorang pangeran atau raden lain bernama Sungu Lembu melalui sudut pandang orang pertama. Mudahnya bisa dibayangkan seperti Nick Carraway yang menceritakan mengenai Jay Gatsby di The Great Gatsby. Alur yang digunakan maju – mundur dengan awal buku merupakan potongan cerita dari akhir buku dan bab – bab selanjutnya menceritakan berbagai kisah yang akhirnya berakhir seperti kejadian di awal buku – mulai dari pertemuan Sungu Lembu dan Raden Mandasia, latar belakang Sungu Lembu, Raden Mandasia, dan perjalanan mereka bersama. Sebagaimana sebuah dongeng atau cerita fantasi lainnya, kisah fiksi ini diambil dari potongan-potongan sejarah nusantara – lebih tepatnya Babad Tanah Jawi. Sebagai anak jurusan IPS saat SMA yang pelajaran favoritnya adalah sejarah saya sibuk menebak-nebak bagian mana dari sejarah atau bagian mana dari Indonesia-kah tempat-tempat fiksi yang digunakan di buku ini.

Dari segi cerita digambarkan mengenai Sungu Lembu yang berasal dari kerajaan kecil bernama Banjaran Waru yang dicaplok oleh kerajaan paling berkuasa saat itu, Gilingwesi, di mana Raden Mandasia adalah salah satu pangeran kerajaan Gilingwesi. Sebagaimana juga cerita fantasi berlatar belakang kerajaan, cerita ini penuh dengan intrik-intrik politik dan bumbu-bumbu pendukung sedap seperti pembalasan dendam, peperangan, dan pengembaraan yang dipenuhi pertemuan dengan tokoh-tokoh ajaib. Sungu Lembu yang berasal dari Banjaran Waru menyimpan dendam kesumat terhadap Prabu Watugunung, ayah dari Raden Mandasia, karena Sungu Lembu merasa pendudukan Kerajaan Gilingwesi terhadap Banjaran Waru telah mendatangkan malapetaka bagi dirinya dan keluarganya. Singkat cerita, Sungu Lembu meninggalkan Banjaran Waru setelah pamannya yang membesarkannya, Banyak Wetan, yang juga merupakan tokoh gerakan pemberontakan Banjaran Waru terhadap Gilingwesi, ditangkap akibat tragedi yang terjadi di rumah Banyak Wetan. Sungu Lembu memulai perjalanannya dengan berangkat ke Kotaraja Gilingwesi dan berakhir di rumah dadu (rumah judi) Nyai Manggis dan akhirnya bertemu dengan Raden Mandasia yang mengajak Sungu Lembu menjadi kawan perjalanan ke Kerajaan Gerbang Agung, kerajaan nun jauh dari pulau rempah-rempah tempat Kerajaan Gilingwesi dan Banjaran Baru berada. Pengembaraan Raden Mandasia ke Kerajaan Gerbang Agung sendiri bukan tanpa alasan. Raden Mandasia yang merupakan satu dari tiga belas pasangan kembar pangeran anak dari Prabu Watugunung ini menyimpan misi untuk menggagalkan peperangan antara Gilingwesi dan Gerbang Agung.

Penceritaan dari sudut pandang orang pertama dengan Sungu Lembu sebagai narator menurut saya menjadi daya tarik utama dari buku ini – Sungu Lembu adalah narator yang penuh karakter dan cerita-cerita gilanya sendiri sehingga kadang saya berpikir Raden Mandasia malah menjadi bayang-bayang dalam cerita ini meski nama dia lah yang dipakai di judul. Tapi, selain Sungu Lembu dan Raden Mandasia, begitu banyak karakter menarik dalam buku ini – sebegitu menariknya sampai-sampai saya sebagai pembaca ingin melihat spin off dari karakter-karakter lain mulai dari Nyai Manggis, Loki Tua, dan Prabu Watugunung beserta kedua istrinya. Di situlah daya tarik dari cerita fantasi, begitu banyak karakter dengan cerita-ceritanya sendiri yang menarik sehingga mau tidak mau pembaca menjadi ketagihan dan berkeinginan membaca cerita solo dari karakter-karakter tersebut. Sebut saja cerita fantasi The Lord of The Rings, tentunya pembaca juga ingin tahu cerita-cerita dari karakter bahkan karakter minor seperti Samwise Gamgee, Merry & Pippin, atau cerita persaudaraan Faramir dan Boromir. Atau seperti Game of Thrones, pembaca mungkin banyak yang penasaran dengan cerita hidup dari Lord Varys, Petyr Baelish, dan beberapa karakter lain. Di luar karakter dan sudut pandang, hal yang paling membuat saya bersemangat lagi dalam buku ini adalah diksi-diksi baru yang saya temukan sepanjang membaca buku ini – begitu otentik dengan rasa nusantara, rasa yang saya rindukan dan cukup asing karena proporsi membaca buku Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia yang tidak seimbang.

Akhirnya setelah membaca cerita ini dalam satu hari saking bersemangatnya, saya pun paham kenapa teman-teman seperti Maesy dan Nisa dari POST bilang kepada saya bahwa buku ini seperti Game of Thrones dan bahkan teman dari mereka ada yang sampai menggambar peta karakter karena banyaknya karakter di buku ini. Buku ini luar biasa dengan segala kompleksitasnya, kepiawaian Yusi Avianto Pareanom si penulis dalam menjahit cerita dan mendongengi pembaca, dan rasa sejarah nusantara yang membuat nostalgik.

dscf5602

Jakarta, 14 November 2016, 00:05

Ditulis di Kopi Kina, Tebet. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s