Tentang menjadi Minoritas, dan kembali menjadi Mayoritas.

Menjadi minoritas

Tujuh tahun lalu saya merasakan menjadi minoritas untuk pertama kalinya. Masih bau kencur dan penuh prasangka, saya berangkat ke Ogden, Utah dan hidup bersama keluarga beragama Kristen Mormon. Utah sendiri memang didominasi oleh agama Mormon, 90% dari penduduk Utah memeluk agama Mormon dan gereja utama dari agama ini berada di ibu kota Utah di Salt Lake City. Tapi, Mormon sendiri sebenarnya agama minoritas di antara aliran-aliran Kristen lainnya di Amerika Serikat, bahkan mereka sering kali diolok-olok dan dilabeli banyak hal! Coba dicari di internet mengenai Mormon dan banyak orang yang bertanya apakah Mormon masih mempraktikan poligami, bertanduk (?), membenci komunitas Afrika-Amerika dan LGBT, memiliki celana dalam khusus (?), tidak boleh minum hal yang mengandung kafein (soda, kopi, teh, apalagi alkohol), memiliki keluarga sangat besar yang beranak-pinak begitu banyak (sedikit benar), memiliki agenda Kristenisasi karena misionaris-misionaris yang dikirim ke berbagai belahan dunia dan masih banyak label-label lainnya. Jujur saja saya yang penuh prasangka pada saat itu sangat takut. Banyak hal tentang Amerika Serikat sebagai sebuah negara dan tentang agama Mormon sendiri yang hanya saya ketahui melalui internet dan omongan orang-orang, tidak langsung dari sumbernya sendiri. Saya takut saya tidak diperbolehkan menjalankan ritual keagamaan saya, dianggap teroris karena agama saya, dipaksa untuk ke gereja dan perlahan-lahan diKristenisasi dan banyak hal lain yang terbentuk di pikiran simply karena omongan orang-orang dan sumber yang beredar luas di internet, tidak ada hal valid yang saya ketahui. Semua yang saya tahu cuma pre-konsepsi tentang betapa taatnya Mormon dan betapa mereka akan berusaha mengubah Anda untuk memeluk agama mereka.

Tapi, apa yang kemudian terjadi ketika saya akhirnya pergi dan tinggal selama setahun penuh di Utah? Saya kembali tetap sebagai Islam tapi saya belajar banyak tentang Mormon dan walaupun banyak ajaran mereka yang saya anggap lucu tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran saya bahwa mereka adalah kaum-kaum tersesat yang harus ‘diselamatkan’, bahwa mereka adalah orang-orang kafir yang membenci agama Islam dan memaksa saya untuk pindah agama menjadi Mormon (satu teman saya, dari Ukraina, memang akhirnya memeluk agama Mormon. Sebelumnya ia beragama Kristen Orthodox tapi dengan sukarela memeluk agama Mormon setelah menemukan jawaban-jawaban keagamaan dan keTuhanan yang ia pertanyakan). Sekembalinya saya dari sana, setiap orang bertanya kemana saya pergi untuk pertukaran pelajar dan saya berikan jawaban Utah, hampir semuanya bertanya bagaimana hidup di tengah-tengah Mormon – apakah saya dipaksa ke gereja? Apakah saya dilarang untuk sholat? Apakah saya didebat mengenai pemilihan agama saya? Apakah saya didakwa sebagai pengikut agama yang menghalalkan terorisme?. Tidak ada satupun hal tersebut yang terjadi, malah semua pre-konsepsi saya terhapus dengan pengalaman menghangatkan yang saya alami bersama mereka selama setahun. Bagi saya, mereka adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, ikatan keluarga sangat penting bagi mereka. Mereka juga orang yang penuh kasih dan sangat menghargai ajaran agama saya, selalu mengingatkan setiap ada makanan yang seharusnya tidak saya makan (saya selalu dibuatkan satu sandwich khusus yang berisi daging kalkun setiap piknik), dan bersimpati dengan saya ketika saya sedang berpuasa. Ketika saya menyatakan ingin mencoba ikut ke gereja karena saya penasaran, mereka memastikan bahwa ibu saya akan membolehkan saya pergi ke gereja. Bahkan, Janet Allen, ibu angkat saya yang selalu rajin ke gereja dengan halus menolak misionaris yang datang mengetuk pintu rumah keluarga Allen untuk berbicara dengan saya tentang The Book of Mormon. Janet berkata kepada dua misionaris muda Mormon dengan baju seragam khas mereka, kemeja putih lengan pendek dasi hitam dan celana hitam, bahwa mereka hanya boleh berbincang dengan saya apabila Janet sudah mendapatkan izin dari ibu saya. Ketika akhirnya saya ke gereja pun tidak pernah saya mendengar pendeta-pendeta mereka sibuk membicarakan agama lain, membandingkan agama Mormon dengan agama lain ataupun mengadili ajaran agama lain sebagai sesuatu yang lesser than Mormonism. Kebanyakan pendeta-pendeta membahas ajaran-ajaran dalam agama Mormon yang mengandung nilai kemanusiaan yang universal, mulai dari mengasihi satu sama lain sebagai manusia, membangun keakraban dengan keluarga, dan lain-lain. Tidakpun mereka mengadili pemeluk-pemeluk Mormon yang jarang ke gereja, mereka berbahagia ketika sesama Mormon yang jarang datang kemudian datang ketika Natal atau Paskah. Tapi, tidak ada sindiran-sindiran atau kata nyinyir terlontar karena keabsenan mereka di gereja. Agama tidak dibuat sebagai kompetisi, siapa yang paling beriman dan paling mencintai Tuhan.

Menjadi mayoritas

Lantas saya pulang setelah setahun, menjadi manusia yang cukup berbeda. Saya berusaha keras untuk tidak lagi takut pada hal-hal yang tidak saya ketahui, untuk tidak lagi mengadili yang berbeda pandangannya dengan saya, untuk tidak lagi beropini sebelum mengenal benar-benar suatu ajaran, baik ajaran agama, pandangan politik, dan hal-hal lain, untuk tidak membenci sebelum mengenali. Saya berjanji untuk melihat manusia sebagai manusia, bukan afiliasi dibelakangnya, apakah dia seorang Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu, Yahudi, dll, dan apakah dia seorang komunis, liberal, demokrat, borjuis, dll. Saya punya mimpi, sama seperti Soe Hok Gie mimpi tentang dunia di mana “Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik”. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya terdengar sangat naif, tapi saya selalu berbangga hati menjadi manusia penuh pengharapan dan saya akan terus berharap bahwa suatu saat nanti dunia seperti itu dapat benar-benar terjadi dan saya akan menyuarakan ketidakadilan di mana saya melihatnya, melalui tulisan, hal paling sederhana yang bisa saya lakukan. Hari ini saya bersedih, sampai mual dan nasi kuning yang biasa saya lahap habis jadi terasa hambar karena berita tentang pembubaran acara Natal di Bandung oleh segelintir organisasi masyarakat yang mengatasnamakan masyarakat Muslim Jawa Barat.

“Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.” – Soe Hok Gie.

Saya teringat junior saya, dia non-muslim dan keturunan Cina, kemarin dia menulis sederetan tweet yang menyatakan ketakutannya akan mayoritas yang semakin menekan minoritas, akan intoleransi yang semakin merajalela. Ulu hati saya seperti diremas, saya tidak mau hidup di negara yang minoritasnya merasa disudutkan, merasa tidak aman, bukankah kita sudah lewat tahun 1998? Sudah lebih dari 10 tahun berlalu sejak 1998 dan masihkah orang merasa takut? Lalu ada sahabat saya, yang sering saya temani ke gereja saat Natal, ia posting di Facebooknya sebuah kutipan dari Charles Bukowski dengan kata-kata ‘Indonesia 101: tyranny of the majority’. Apakah status sebagai mayoritas melegalkan kesewenang-wenangan? Apakah mayoritas lain yang diam dan tidak setuju akan aksi pembubaran acara tersebut akan tetap diam dan membiarkan, menganggap hal tersebut hal yang lumrah? Apakah status sebagai mayoritas mewajarkan golongan mayoritas untuk marah ketika masjid dibakar, Al Qurán dinistakan tapi diam seribu Bahasa melihata sesama mayoritasnya membabi buta menyerang minoritas agama lain? Kita marah melihat Muslim diperlakukan kasar di Amerika Serikat, kita hina Amerika Serikat sebagai negara kafir dan tiran. Kita marah melihat umat di Palestina diperangi oleh Israel, mengirim ribuan doa ke pengungsi-pengungsi Rohingya. Tapi di dalam negeri kita diam melihat gereja dibom, acara Natal dibubarkan, di dalam negeri kita bertindak seperti Amerika Serikat dan Israel.

Pernahkah terlintas bahwa suatu saat mungkin kita yang akan hidup sebagai minoritas? Dan apabila saya diperlakukan sebagaimana minoritas diperlakukan di negara saya yang tercinta ketika saya di Utah, betapa sedih dan hancurnya keluarga saya. Saya mungkin akan pulang ke Indonesia dengan kebencian mendalam tentang Mormon, menghujat Mormon dan membicarakan yang buruk-buruk tentang agama itu kepada siapapun yang saya temui. Tapi, sebagai minoritas, saya dihargai, saya diterima sebagai seorang manusia bukan dengan embel-embel agama saya, sesederhana sebagai manusia yang diperlakukan dengan penuh kasih dan diterima dalam komunitas walaupun saya memeluk agama yang berbeda. Dan pada akhirnya, di atas semua perbedaan, semua agama menganjurkan saling mengasihi sesama manusia, tidak cukupkah apa yang Tuhan telah beritakan kepada semua hambanya? Apakah ritual-ritual keagamaan dan kompetisi tentang agama mana yang paling benar jauh lebih penting dari wahyu Tuhan untuk mengasihi sesama?

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok olok kaum yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” Al Hujurȃt ayat 11

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13:13

“Hendaknya hati kita Dalam kesederajatan dan persatuan” Rig Veda 10/191/4

“Sabbe satta bhavantu sukhitatta sabbe satta avera hontu
semoga semua makhluk hidup berbahagia semoga semua makhluk terbebas dari permusuhan dan bahaya”

Iklan

4 thoughts on “Tentang menjadi Minoritas, dan kembali menjadi Mayoritas.

  1. Salam mba Azarine atau mba kyla. Aduh maaf kalau salah sebut nama. Saya suka sekali baca tulisan mba ini. Semoga harapan mba lewat tulisan ini bisa menjadi harapan semua orang di Indonesia sampai Dunia dan terwujud. Amin

  2. Thanks….dunia sedang membutuhkan apa yg ada tuliskan…..semoga Tuhan melindungi anda dan semua kita untuk hidup dalam kasih…sebab ALLAH atau TUHAN tidak dapat kita kecilkan dengan mengurungnya menjadi milik satu agama atau satu orang…DIA adalah MAHA BESAR..mekampaui semua agama..semua budaya…dan semua ciptaan… DIA ada untuk semua ciptaanNya…dan semua ciptaanNya ada untuk memuliakanNya dalam keragaman yang DIA ciptakan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s