Mengapa Saya Membaca

Akar budaya baca

Apabila keluarga diibaratkan sebagai akar, saya bersyukur kepada Tuhan karena diakarkan kepada keluarga yang memiliki minat baca cukup tinggi. Sejak kecil saya tumbuh dengan buku-buku bacaan, hasil curahan kakak-kakak saya tentunya, mulai dari Petualangan Lima Sekawan dari Enid Blyton yang selalu membuat saya berdebar dalam setiap petualangannya, Matilda dari Roald Dahl yang membuat saya bergidik dan ngeri dengan kelakuan Miss Trunchbull, sampai dengan komik-komik pewayangan Mahabharata dari R.A. Kosasih. Dari ingatan saya yang semakin samar tentang almarhum Papa pun yang selalu paling saya ingat dari almarhum adalah sosoknya di depan TV dengan TV menyala tapi matanya menunduk membaca buku-buku tebal yang tidak pernah saya pahami, kacamatanya selalu diletakkan di ujung hidung lebarnya yang saya warisi. Mama lain lagi, ia rajin sekali beli-beli buku Agama Islam dan paling girang kalau saya minta dibelikan buku-buku kisah nabi atau sahabat nabi. Saya ingat Mama belikan saya buku kisah 25 Nabi dan Rasul dan cerita favorit saya adalah Nabi Yusuf yang dibuang saudara-saudaranya kemudian menjadi pembesar Mesir dan tentang Nabi Yunus yang dilahap ikan paus.

Kegemaran membaca tidak hanya datang dari Papa, Mama, Kak Mita, dan Kak Vika, tetapi juga dari keluarga besar saya. Saya pertama kali mengenal serial Harry Potter dari sepupu saya yang cuma berjarak sebulan umurnya dari saya, Dea. Mamanya Dea, Tante Okki, memang penggemar buku, saya selalu terkagum-kagum lihat koleksi buku di rak buku mereka yang terletak antara ruang TV dan ruang makan. Lalu, ada juga Om Adok dan Tante Ika yang selalu mewajibkan ketiga sepupu saya, Yubi, Yufi, dan Taralia, untuk memilih buku kesukaan mereka setiap minggu untuk dibaca. Di rumah mereka yang asri di Pupuk Baru, mereka punya satu ruangan yang berfungsi jadi musala dan dikelilingi dengan rak buku yang menyimpan berbagai macam jenis buku.

Minat baca saya semakin meluap-luap setelah saya cukup beruntung untuk pergi ke Amerika Serikat selama setahun untuk pertukaran pelajar. Saya kagum luar biasa dengan pembelajaran Bahasa Inggris di sana yang mewajibkan murid-muridnya untuk membahas mengenai karya sastra yang berpengaruh. Selama setahun dalam kelas Bahasa Inggris untuk murid kelas 11, saya membaca Hamlet dari Shakespeare, The Great Gatsby dari F. Scott Fitzgerald, Of Mice and Man dari John Steinbeck, dan 1984 dari George Orwell. Kami diajak menganalisa simbolisme, motif, dan tema dari karya sastra tersebut serta melihat era ketika sastra itu diterbitkan dan kenapa itu menjadi sangat penting bagi dunia. Pembelajaran yang bagai oase mengingat pelajaran Bahasa Indonesia saya sebagai murid SMA sangat berfokus pada hal-hal teknis seperti struktur kalimat SPOK, majas, metafora dan lain-lain. Metode pembelajaran yang saya dapatkan di sana membuat saya merasa membaca adalah sesuatu yang menyenangkan, selalu ada hal baru tentang kehidupan yang bisa saya dapatkan dari membaca.

Ketika saya kuliah, saya bertemu dengan sahabat-sahabat yang juga senang membaca buku. Tami dan Dine dengan pencarian spiritual mereka mengenalkan saya kepada Paulo Coelho yang buku-bukunya sarat tema spiritual. Dara mengenalkan saya kepada salah satu buku yang cukup berpengaruh dalam hidup saya hingga sekarang, The Little Prince. Diah yang menyukai cerita-cerita dark dan twisted  membuat saya membaca lebih banyak karya Chuck Palahniuk. Teman-teman saya di jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM pun juga orang-orang yang hari-harinya dipenuhi dengan buku, piawai pula dalam menulis. Dari mereka saya jadi memperluas topik bacaan dengan sesekali membaca buku-buku bertema politik, selain karena tuntutan kuliah, tapi juga untuk menambah-nambah pengetahuan karena banyak sekali ilmu yang luput diketahui oleh saya. Tumbuh di lingkungan seperti ini membuat pertanyaan ‘Mengapa Saya Membaca’ menjadi sesuatu yang absurd, justru yang lebih masuk akal adalah ‘Mengapa Saya Tidak Membaca’.


Mengapa kita tidak membaca?

Saya kaget bukan kepalang ketika tahun 2016 kemarin dikeluarkan sebuah survey yang menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 dalam minat baca, hanya 0,0001 persen orang Indonesia yang memiliki minat baca, itu berarti dalam seribu orang hanya ada satu yang memiliki minat baca. Saya benar-benar penasaran kenapa minat baca sebegitu rendahnya? Apakah karena akses terhadap buku yang kurang? Infrastruktur yang kurang memadai? Atau karena kurikulum pendidikan? Apakah budaya membaca memang tidak tertanam kuat di masyarakat Indonesia? Saya ingat empat buku yang saya baca minggu kemarin, seri tokoh-tokoh Indonesia dari Tempo. Saya membaca biografi tentang Wahid Hasyim, Natsir, Musso, dan Njoto – keempat tokoh ini dengan perbedaan ideologinya yang bagaikan langit dan bumi memiliki satu kesamaan: mereka semua pembaca akut, setengah hidup mereka mungkin dihabiskan untuk belajar dan membaca.

 

dscf4376
POST. Toko buku independen di Pasar Santa. Toko buku independen seperti POST adalah gerbang pembuka yang menyenangkan untuk yang mau mulai baca-baca buku. Saya suka POST karena kehangatannya dan perasaan personal dalam pemilihan buku. Pemiliknya, Maesy dan Teddy, ditemani Nisa, selain sangat informatif, juga piawai memilihkan buku-buku bagus berdasarkan buku-buku yang kita suka.

 


Lantas, mengapa saya membaca?

Kosa kata belajar memantik perasaan bosan. Tapi, buat saya membaca adalah proses pembelajaran juga. Apapun yang dibaca, ada informasi baru yang terkandung di sana dan membaca adalah proses pembelajaran yang menyenangkan. Selain itu ada beberapa alasan juga mengapa saya membaca.

1.Membaca melatih saya berpikir
Ada ungkapan bahwa buku adalah jendela dunia, sebuah ungkapan yang tidak berlebihan menurut saya karena dari setiap penulis dengan budaya yang berbeda-beda dan masa hidup yang berbeda, saya dapat menengok dan mengetahui banyak tentang hidup di masa itu dan budaya di negara-negara lain yang belum pernah saya kunjungi. Membaca The Great Gatsby, This Side of Paradise, Beautiful and the Damned, Tender is the Night dari Fitzgerald membuat saya bisa mengintip dan mengetahui kehidupan di Amerika Serikat di tahun 1920-an. Membaca 1984 membuat saya bisa berimajinasi tentang hidup di bawah pemerintahan totaliter dan tentang kebebasan yang dibatasi – ini pun membuat saya berpikir tentang sisi buruk dari sebuah pemerintahan totaliter dan pada akhirnya menumbuhkan minat saya untuk mempelajari sistem-sistem pemerintahan di dunia. Lalu dari buku seperti To Kill of a Mockingbird saya jadi mengetahui tentang masalah rasial di Amerika Serikat yang kemudian membuat saya penasaran tentang kehidupan di Amerika Serikat masa itu, saya jadi penasaran tentang aktivis-aktivis seperti Martin Luther King Jr., Malcolm X, Rosa Parks. Dari dalam negeri, buku-buku Pramoedya Ananta Toer membuat saya berpikir apakah saya adalah perulangan dari produk intelektual didikan barat seperti Minke? Yang tidak tahu akan bangsanya sendiri tapi buta akan ketidaktahuannya?

2. Membaca mengajarkan saya berempati
Catatan Seorang Demonstran tulisan Soe Hok Gie dan Senja di Jakarta tulisan Mochtar Lubis sukses membuat saya menangis karena deskripsi mereka tentang orang-orang yang kurang beruntung dan terlupakan di Jakarta. Saya tersindir hebat karena hidup dalam kenyamanan memang membuat orang terbutakan akan ketidakadilan yang berada di sekitarnya. Saya jadi malu mengeluh karena buku-buku mereka menunjukkan kehidupan yang memprihatinkan dan seperti jauh dari realita padahal hal tersebut terjadi di sekeliling saya setiap harinya. Lain lagi dengan Harry Potter, pengungkapan tentang jati diri Professor Snape mencengangkan setiap pembaca tapi di satu sisi pembaca seakan diingatkan bahwa dibalik kedinginan dan kelakuan Snape kepada Harry ada latar belakang cerita yang sangat menyedihkan. Bahkan, dari tokoh seperti keluarga Malfoy pun pembaca seakan diajak untuk berempati kepada keluarga tersebut yang hidup dalam ketakutan dan tekanan dari Lord Voldemort sekalipun hati kecil mereka mulai mempertanyakan kebenaran-kebenaran dari kelakuan Voldemort.

3. Membaca mengajarkan saya berbagai kosa kata baru, dan membantu saya untuk menulis 
Selama 24 tahun hidup saya selalu gagal les Bahasa Inggris karena kemalasan saya. Tapi, beruntung saya juga avid gamer dan pembaca akut yang kemudian belajar kosa kata Bahasa Inggris secara otodidak karena dipaksa untuk membuka kamus setiap saya stuck dalam memahami perintah di video game atau tidak paham tentang alur cerita di buku. Kosa kata saya, terutama dalam Bahasa Inggris, diperkaya karena berbagai macam buku yang saya baca. Saya juga jadi  belajar melihat pola seorang penulis, kata-kata apa yang sangat sering muncul dalam  buku-buku mereka – Haruki Murakami seringkali menggunakan kosa kata loneliness, pain, solitude – dan, saya jadi keranjingan lihat Thesaurus, berusaha mencari alternatif lain dari kata-kata yang biasa dipakai.

4. Membaca membentuk karakter dan punya kekuatan mengubah hidup saya
Biografi tokoh-tokoh besar selalu menginspirasi saya, membuat saya mengenal mereka lebih dalam dari sekedar foto-foto mereka atau artikel-artikel di internet tentang kesuksesan mereka. Melihat perjuangan mereka menyadarkan saya bahwa dibalik kebesaran dan kesuksesan mereka, ada proses yang membentuk pikiran dan karakter mereka – dan kebanyakan hal tersebut adalah buku-buku yang mereka baca. Soe Hok Gie dan George Orwell adalah salah dua dari penulis yang saya kagumi karena keberanian mereka dalam mengungkapkan kebenaran yang dengan piawai mereka tumpahkan ke dalam tulisan yang bisa menggerakkan hati. Dari proses-proses tokoh besar saya belajar untuk memperbaiki diri dan berani bermimpi untuk suatu saat bisa menginspirasi orang-orang melalui tulisan sebagaimana mereka menginspirasi saya melalui tulisan.

5. Membaca membangunkan alam bawah sadar yang tertidur
Ketakutan terbesar saya adalah hidup otomatis, seperti robot, living an automated life and not fully conscious. Jika bukan karena buku dan penulis-penulis seperti Albert Camus, Henry David Thoreau, Franz Kafka, F. Scott Fitzgerald, Haruki Murakami, mungkin saya tidak akan terpancing untuk berpikir suatu pertanyaan mendasar “What is the purpose of my life? What roles do I’ve to fill in my short time on Earth?”. Jika bukan karena penulis-penulis seperti Pramoedya Ananta Toer, Soe Hok Gie, Mochtar Lubis, Multatuli, mungkin saya tidak akan pernah terpancing untuk belajar menulis Bahasa Indonesia dengan baik dan benar dan mungkin selamanya saya tidak akan sadar bahwa pendidikan adalah suatu keberuntungan yang harus saya gunakan untuk membuat kehidupan, dan bukan hanya kehidupan saya saja, lebih baik.

Masih banyak alasan lain mengapa saya membaca dan daftar ini bisa menjadi sangat panjang kalau diteruskan. Dengan segala deretan manfaat dari membaca, mengapa pula saya tidak membaca? Waktu-waktu yang saya habiskan untuk membaca tidak pernah menjadi waktu sia sia.

Jadi, mengapa kamu membaca?

Judul tulisan ini terinspirasi dari esai George Orwell ‘Why I Write’ yang diterjemahkan menjadi ‘Mengapa Saya Menulis’.


4 thoughts on “Mengapa Saya Membaca

  1. Halo Rinta, salam kenal.

    Saya lihat blog ini setelah random blogwalking. Senang rasanya tahu ada yang suka juga dengan George Orwell dan Murakami, walaupun saya sendiri baru-baru ini lebih sering baca sastra gara-gara sebal karyanya nggak masuk Sayembara DKJ 2017 *abaikan*

    Saya juga sempat kaget pas tahu bahwa minat baca di Indonesia rendah (pernah dibahas di Pikiran Rakyat, 2016). Tapi kalau dilihat dari akar sejarah *ceilah*, kayaknya sih pengaruh penjajahan juga, yang bisa mengakses buku-buku itu biasanya priyayi atau orang berduit.

    Sekarang bisa dibilang, OKB banyak bermunculan, tapi bukan berarti ini menumbuhkan minat untuk baca. Jadi ya, beruntunglah yang memang terlahir di keluarga yang memang suka membaca, karena pengaruh keluarga pasti sangat besar. Saya juga sama, berasal dari keluarga yang suka baca dan nulis, dan ini yang bikin saya bersyukur. Nggak banyak orang yang suka baca di sekeliling saya, kalau suka juga biasanya cerita unyu ringan macam teenlit, young adult, dll. Itu juga alasan kenapa saya sekarang lebih giat lagi baca karangan rumit sastrawan, supaya otaknya nggak tumpul 🙂

    1. Halo Azzahra Kamila, saya panggilnya apa nih? Zahra? Terima kasih ya sudah mau datang, membaca, dan meninggalkan jejak di tulisan ini. Saya selalu senang kalau bertemu sesama book lovers. George Orwell salah satu penulis kesukaan saya, kalau butuh rekomendasi buku-buku serupa George Orwell saya ada beberapa 😀

      Jangan patah semangat ikutan Sayembara DKJ-nya, kalau udah ikutan kan at least berarti sudah mulai nulis. Daripada saya, cuma berandai andai mau nulis buku terus haha.

      Tentunya kedepannya berharap bisa lebih banyak orang Indonesia yang semakin suka baca dan diskusi tentang buku-buku.

      Sekali lagi salam kenal dan semoga bisa terus aktif menulis dan membaca!

  2. Pingback: LONE WOLF GIRL
  3. Terima kasih, saya cukup menikmati beberapa tulisan yang ada di blog ini.

    Saya mulai tertarik membaca dari majalah bobo saat menunggui warung kelontong kecil di depan rumah. Belakangan saya tahu, Ibu sengaja membuat warung kecil agar belajar mandiri dan tidak keluyuran. Sekali dua bulan kami disuplai dengan bahan bacaan anak dari pengepul koran –buku bekas yang dibeli secara kiloan. Buku cerita pertama yang saya baca oliver twist yang terselip di antara majalah bobo bekas, mendapatkannya saat itu adalah suatu kemewahan tak tergantikan.

    Setelah hijrah ke Bandung saya mulai mengikuti unit kegiatan mahasiswa dan berinteraksi dengan orang-orang unik. Sebagian besar penulis yang disinggung di atas memang pernah saya baca, meski sebagian dia antaranya tak tuntas.

    Gie, Pram,Orwell, dkk memang pembaca ulung, saya sepakat bahwa itu akan berpengaruh dengan daya analitik dan kritis, namun sedikit banyak diperlengkapi dengan pengelamana realitas yang rill di kehidupan nyata. Advisku, perpaduan keduanya yang saling mengisi.
    Misalnya, sulit saya membayangkan apabila Pram tidak mengalami kerja paksa di Pulau Buru akan bisa menuliskan karya legendarisnya tersebut, begitu juga Orwell, Gie dan lainnya.

    Salah seorang blogger yang memacu semangat saya untuk membaca adalah alm. Mula Harahap (mungkin tak terlalu dikenal), https://mulaharahap.wordpress.com/2007/04/16/tentang-sastra-anak-anak/
    lewat tulisan-tulisannya yang ringan, memacu saya untuk terus menyempatkan membaca disela tanggung jawab mendalami keilmuan.

    Oh ya, khusus untuk Gie, buku disertasi John Maxwell ‘Pergolakan Pemikiran Seorang Intelektual Muda Melawan Tirani’ mungkin perlu dibaca sebagai bahan penyeimbang agar tidak terjebak pengultusan.

    Salam hangat, dari Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s