Review Buku: Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer.

dscf6344

Judul Buku : Gadis Pantai
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun Terbit : 2003
Tebal Buku : 280 halaman
Harga Buku : Rp (maaf lupa)

Sebelum menulis review ini, saya sempat membaca ulang esai dari George Orwell ‘Why I Write’. Di esai itu, George Orwell bilang:

“My starting point is always a feeling of partisanship, a sense of injustice. When I sit down to write a book, I do not say to myself, ‘I am going to produce a work of art’. I write it because there is some lie that I want to expose, some fact to which I want to draw attention, and my initial concern is to get a hearing.” – George Orwell, Why I Write.

Jadi, ketika ia menulis, ada perasaan keberpihakan terhadap suatu golongan, ada rasa ketidakadilan yang ia rasakan. George Orwell tidak bilang bahwa ia akan menghasilkan suatu karya seni ketika ia menulis. Ia menulis untuk mengungkapkan kebohongan, menarik perhatian terhadap isu tertentu, dan membuat orang-orang memperhatikan isu tersebut.

Begitupun dengan Pramoedya Ananta Toer, setidaknya itu yang saya tangkap dari lima dari sekian bukunya yang saya baca (Tetralogi Pulau Buru dan Gadis Pantai). Pramoedya kembali mengungkapkan kritik keras terhadap feodalisme Jawa melalui kisah gadis dari desa nelayan di pesisir Pulau Jawa yang dipinang priyayi untuk dijadikan ‘istri’. Kenapa saya gunakan tanda kutip di kata-kata istri? Karena sebenarnya, si priyayi ini selalu dianggap perjaka oleh kalangannya sampai dia mendapatkan istri dari kelas sosial yang sama dengan dia – dan tentunya, Gadis Pantai, putri seorang nelayan bukanlah orang dari kelas sosial sama dengan si priyayi yang sepanjang buku selalu disebut Bendoro ini. (Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bendoro merujuk pada majikan (juga, sebagai bentuk sapaan untuk pejabat tinggi pada zaman kolonial); tuan).

Kekuasaan si Bendoro sudah ditampakkan di awal buku dengan cara peminangannya terhadap Gadis Pantai. Karena ia ‘orang besar’ dan terhormat, kehadirannya cukup diwakili sebilah keris dan berangkatlah iring-iringan Gadis Pantai dan keluarganya ke rumah si Bendoro di kota. Gadis Pantai dari awal sudah menolak untuk dinikahkan tapi apa daya seorang anak nelayan – tidak ada hak untuk menolak pinangan seorang pembesar. Hal ini sendiri saya lihat masih memiliki relevansi hingga sekarang – orang tua yang tidak bisa menolak pinangan dari calon besan dengan status sosial yang lebih tinggi. Tentunya tidak menyalahkan, tentunya orang tua selalu ingin kehidupan yang terbaik untuk anaknya dan menikahkan anaknya dengan seseorang yang sukses dan kaya mungkin bisa menjadi jaminan bahwa anaknya akan hidup dengan bahagia. Tapi apakah iya? Kalau perasaan kasih tidak tumbuh dari pernikahan tersebut – betapa menderitanya hidup tanpa memiliki kemerdekaan dan hak untuk memilih dan menolak.

Gadis Pantai akhirnya pindah ke kota, hidup di rumah yang sangat besar dan segala kebutuhannya dipenuhi. Dia dilayani bagaikan tuan putri dan diberikan julukan ‘Mas Nganten’. Si Bendoro memenuhi kebutuhan-kebutuhan duniawi Gadis Pantai si Mas Nganten, tapi tetap saja ia memandang rendah Gadis Pantai – menganggapnya tidak sederajat dengan Gadis Pantai sebagaimana tanggapan yang ia ungkapkan mengenai kampung nelayan si Gadis Pantai.

“Aku tahu kampung kampung sepanjang pantai sini. Sama saja. Sepuluh tahun yang baru lalu aku juga pernah datang ke kampungmu. Kotor, miskin, orangnya tak pernah beribadah. Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh orang-orang yang tahu agama. Di mana banyak terdapat kotoran, orang-orang di situ kena murka Tuhan, rezeki mereka tidak lancar, mereka miskin.”
– Halaman 41, Gadis Pantai.

Meskipun ia hidup berlimpah kenyamanan dan sedikit demi sedikit mulai luluh terhadap si Bendoro yang jarang pulang – ia tetap merindukan kehidupan di kampungnya. Di buku diceritakan bagaimana bahkan si Gadis Pantai rindu bau amis dari kampung nelayan dan kebebasan yang ia punyai di sana. Di dinding-dinding dingin rumah besar si Bendoro – Gadis Pantai harus selalu berhati-hati, takut salah masuk ruangan, takut salah bicara. Kecerdasan Gadis Pantai dalam beradaptasi membuatnya bisa bertahan di rumah Bendoro, tapi sejatinya memang kemewahan tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan rumah yang sebenarnya di mana seseorang bebas merdeka melakukan apapun tanpa harus terkekang aturan-aturan.

Selain kritik terhadap feodalisme Jawa – tersirat juga bahwa Pramoedya ingin mengangkat isu patriarki. Istri tugasnya adalah menunggu suami di rumah, melayani, mengabdi suami tanpa bisa bebas berpendapat. Harus nurut. Suami masuk jurang, masuk juranglah juga si istri. Suami pergi ke neraka, turut sertalah si istri menggeret koper ke neraka. Lagi-lagi masih cukup relevan dengan keadaan sekarang, pandangan yang masih banyak dianut orang Indonesia bahwa seorang perempuan terlahir untuk menikah, punya anak, dan mengabdi untuk suami. Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘kapan menikah?’ dan ‘kapan punya anak?’ seringkali muncul. Sekali-kali mungkin menyenangkan ditanya ‘kapan sekolah lagi?’, ‘bagaimana pekerjaanmu sekarang? mau berkarya apa lagi?’.

“Ah, lantas apa aku mesti kerjakan di sini?”
“Cuma dua, Mas Nganten, tidak banyak: mengabdi pada Bendoro dan memerintah para sahaya dan semua orang yang ada di sini.”
“Apa aku mesti kerjakan buat Bendoro?”
“Apa? Lakukan segala perintahnya, turutkan segala kehendaknya.”
Halaman 58, Gadis Pantai. Percakapan antara Gadis Pantai dan pelayannya. 

Setelah waktu-waktu manis dan pahit di dalam rumah Bendoro dan intrik-intrik di mana ia berusaha dibunuh oleh relasi jauh Bendoro dari Demak yang gusar melihat Bendoro terus memperistri kalangan bawah dan tidak ‘menikah sesungguhnya’, akhirnya Gadis Pantai kembali kepada hakikatnya: orang kebanyakan. Ia dibuang oleh orang yang telah memperistrinya, dipisahkan secara kejam dari anaknya dan tidak bisa kembali ke kampungnya karena menanggung malu. Sebenarnya, buku Gadis Pantai ini merupakan bagian pertama dari kisah trilogi. Tapi, rezim Orde Baru memberangus dua buku lanjutan Gadis Pantai sebagaimana ditulis di pembukaan buku ini oleh penerbitnya, Lentara Dipantara. Kutipan di awal buku ini adalah penggalan kalimat yang Gadis Pantai sampaikan ke bapaknya setelah ia dibuang si Bendoro.

“Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini… seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi…Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.”
– Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai. 

Jika kolonialisme adalah kebiadaban yang dilakukan bangsa penjajah, feodalisme adalah kebiadaban yang dilakukan oleh bangsa sendiri, suatu yang tidak kurang buruknya malah menurut saya pribadi jauh lebih buruk. Dalam masa-masa penjajahan di mana bangsa Indonesia ditekan dan dikuras habis oleh penjajah, dengan gelar dan pendidikan kaum-kaum priyayi menjadi musuh dalam selimut bagi bangsanya sendiri. Pembesar-pembesar ini memiliki keberuntungan lebih dibandingkan rakyat lain saat itu, tapi mereka melacurkan diri kepada penjajah dan menggunakan kekuasaanya untuk menjajah orang sebangsanya dan bukannya bersatu melawan kaum penjajah. Meskipun pada akhirnya dari kalangan elit-elit ini jugalah lahir tokoh-tokoh pergerakan nasional, tapi tentu kita tidak dapat menutup mata dan mengubur hati nurani terhadap hal ini.

dscf6347

Bagi saya, sejauh ini kisah Pramoedya Ananta Toer selalu menjadi pengingat – untuk memanusiakan manusia dan memperlakukan orang dengan kasih, tanpa memandang status sosial dan perbedaan apapun. Keberuntungan yang dimiliki ‘pembesar-pembesar’ sekarang, mulai dari keberuntungan mengecam pendidikan sampai dengan keberuntungan materi haruslah jadi pengingat bahwa belum semua orang di Indonesia seberuntung itu walau sudah 71 tahun Indonesia merdeka dan sudah beratus tahun berlalu sejak kisah ini terjadi. Saya sendiri selalu menganggap pendidikan adalah suatu keberuntungan, sama saja dengan elit zaman dahulu yang lahir dari golongan orang-orang berpendidikan. Pendidikan melatih seseorang untuk berpikir, melihat ketidakadilan, dan bertindak. Sebagaimana Soe Hok Gie, panutan saya yang satu lagi menganggap bahwa mahasiswa adalah ‘The Happy Selected Few’ sedikit orang terpilih yang berbahagia, yang dapat kuliah dan karena itu mahasiswa harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya – mungkin mencoba menengok sekeliling, benarkah penjajahan di atas muka bumi sudah dihapuskan? Benarkah tidak ada lagi orang Indonesia yang terjajah? Yang tidak lagi merangkak-rangkak di hadapan orang lain?

“Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.

Selanjutnya:

Tulisan gabungan setengah review antara buku Life Is What You Make It: Find Your Own Path to Fulfillment oleh Peter Buffett dan Muslim Kok Nyebelin? oleh Satria Dharma.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s