Review Buku: Rafilus – Budi Darma.

Processed with VSCO with c9 preset

Judul Buku : Rafilus
Penulis : Budi Darma
Penerbit : Nourabooks
Tahun Terbit : Cetakan ke-1, Mei 2017. Kali pertama diterbitkan dengan judul yang sama oleh Penerbit Balai Pustaka pada 1988 kemudian oleh Penerbit Jalasutra pada Mei 2008.
Tebal Buku : 386 halaman
Harga Buku : Rp 75,000

Ini adalah kali kedua saya baca buku dari salah satu penulis senior dan dosen sastra kenamaan, Budi Darma. Setahun lalu saya sempat ajak sahabat saya, Rifda, ke salah satu tempat terbaik di Jakarta, toko buku independen di Pasar Santa: POST, untuk cari-cari buku. Salah satu buku yang ia kantongi adalah ‘Orang Orang Bloomington’ oleh Budi Darma. Rifda yang biasanya suka menunda-nunda membaca buku menyelesaikan bacaan ini dengan cukup cepat dan dengan menggebu-gebu ia sedikit memaksa saya untuk membaca buku itu. Rifda yang saat itu hampir setengah isi kopernya diisi oleh buku-buku kesayangannya meninggalkan ‘Orang Orang Bloomington’ untuk saya baca (saya curiga koper ia kelebihan berat beban saja makanya dia tinggalkan buku itu untuk saya baca). Saya akhirnya membaca Orang Orang Bloomington dan kemudian berdebat cukup seru dengan Rifda karena dia mati-matian membela buku itu dan mengatakan itu salah satu buku terbaik yang pernah dia baca dan saya mati matian menolak karena saya sangat susah menyukai buku itu.

“Buku ini terlalu absurd dan gila. Saya kesal sekali lihat tokoh utama dari cerita cerita pendek di buku ini. Mereka semua orang-orang aneh yang tidak jelas juntrungannya.”

Saya agak norak rupanya pada waktu itu karena tidak tahu kalau keanehan itu salah satu ciri khas Budi Darma, dunia jungkir balik kalau kata Nirwan Dewanto – dipenuhi orang orang aneh. Tapi, saya kira, mungkin hanya saya saja yang berpikir seperti itu. Budi Darma adalah penulis hebat dan Orang Orang Bloomington selalu didaulat sebagai salah satu karya sastra Indonesia terbaik yang wajib dibaca. Saya merasa malu sebagai seorang yang mengaku menyukai sastra, karena itulah kemudian saya langsung membeli ‘Rafilus’, karya lain dari Budi Darma. Jujur saya mungkin tidak tergerak beli kalau saja saya tidak ingin meyakinkan diri lagi bahwa saya bisa mencoba suka karya Budi Darma agar tidak dicemooh oleh pembaca pembaca elit dan juga karena adanya blurb buku ini dari dua penulis yang saya sukai: Dewi Lestari, dan Nirwan Dewanto.

IMG_2173.JPG

“Prosa-prosa Budi Darma adalah dunia jungkir balik. Kejam, absurd, dan menakutkan.” – Nirwan Dewanto.

Berbeda dengan Orang Orang Bloomington, saya langsung tersangkut oleh kalimat pertama dari buku ini. Saya benar-benar langsung tuliskan kalimat pertama ini di catatan sebagai salah satu kalimat pertama terbaik dari sebuah buku.

“Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi.”

Lanjutan dari kalimat ini pun semakin membuat saya penasaran. Tiwar, narator dari buku ini kemudian melanjutkan pengamatannya tentang Rafilus.

“Tentu saja kesan saya salah. Tidak mungkin dia tidak akan mati. Meskipun demikian, hampir selamanya saya tidak dapat mengelak untuk berpendapat, bahwa sosok tubuhnya tidak terbentuk dari daging, melainkan dari besi.”

Dalam hati saya langsung berpikir: hal mengada-ada apalagi yang akan saya baca di buku ini. Benar saja prediksi saya, buku ini dipenuhi cerita yang membuat saya mengernyitkan dahi karena keanehannya tapi di saat bersamaan tersenyum kecil dan kadang tertawa karena humor gelap dan absurditas pemikiran karakter karakter di Rafilus. Contohnya saja di halaman kedua dari cerita ada karakter yang dikenalkan sebagai opas pos bernama Munandir. Dalam narasinya, Tiwar mengatakan pandangannya mengenai Munandir.

“Setelah mengutuk matahari, dia menyatakan sangat capai dan ingin beristirahat. Kemudian tanpa malu malu dia minta minum air setrup dingin. Setelah minum dengan cara sangat rakus, barulah dia menyerahkan surat.”

Melalui Munandir, Tiwar mengenalkan pembaca lagi kepada satu tokoh baru lainnya: Jumarup. Jumarup ini adalah tokoh misterius, dibicarakan lumayan banyak di bagian dari buku tapi tidak satupun karakter benar-benar pernah bertemu Jumarup. Melalui Munandir, Tiwar mendapat undangan untuk datang ke pesta sunatan anak Jumarup. Jumarup adalah orang yang sangat kaya raya dan ia mengundang banyak orang untuk datang ke pestanya tapi lagi lagi secara absurd, tidak ada Jumarup atau satupun keluarganya dalam pesta tersebut. Cuma ada banyak makanan dan pelayan yang datang hilir mudik. Di pesta inilah Tiwar pertama kali bertemu Rafilus dan menjadi terobsesi dengannya.

Tidak berapa lama setelah membaca buku ini, saya mulai paham kenapa Rifda yang penyanjung Sartre sangat menyukai karya Budi Darma (Dia bahkan senang sekali ketika saya bacakan beberapa bagian dari Rafilus melalui rutinitas video call kami). Budi Darma, menurut pengamatan mata awam saya, adalah penulis fiksi absurd, sama seperti Sartre. Budi Darma, selayaknya Sartre (Ini pengamatan sok tahu saya karena saya susah sekali memahami karya Sartre walaupun saya penggemar Camus yang katanya juga penulis fiksi absurd), membicarakan sesuatu dengan warna humoris yang aneh dan sering kali tidak masuk akal, sekilas tampak seperti cerita yang ringan tapi sebenarnya inti dari karya karya mereka adalah pengamatan terhadap sikap manusia yang sering kali terlihat tidak memiliki tujuan. Isi dari buku banyak mempertanyakan sikap maupun pemikiran dari manusia sebagai si karakter. Contohnya, salah satu narasi dari Pawestri, perempuan yang disukai oleh Tiwar. Pawestri menuliskan surat panjang ke Tiwar yang kemudian Tiwar ‘tulis ulang’ untuk dibacakan ke pembaca.

“Dalam menutup salah satu suratnya, dia menulis, andai kata takdir mengenal keadlian dan juga timbang rasa terhadap kebaikan, kebajikan, dan amal manusia, maka takdir dapat diperdebatkan. Tapi dia banyak menyaksikan bahwa tanpa melihat budi baik seseorang, takdir menciptakan sebagian orang untuk naik ke atas, dan sebagian orang untuk jatuh tersungkur. Bagi dia takdir hanya mempunyai selera. Dan selera sangat mungkin diliputi kesesatan, kemuliaan, cemooh, dan teka teki.”

Satu hal lain yang meyakinkan saya bahwa Rafilus adalah fiksi absurd adalah struktur penceritaannya. Sedikit berbeda dengan fiksi lain, fiksi absurd tidak mengikuti formula struktur tradisional yang memiliki ‘awal konflik, ‘titik klimaks’, dan ‘penyelesaian’.

Selepas saya baca buku ini saya langsung berandai-andai kalau Rifda suatu saat memutuskan untuk jadi penulis dan bukannya melanjutkan berkarya atau mengurusi museum (atau mungkin jadi penyanyi) ia pasti akan mengeluarkan karya semacam ini. Tulisan-tulisan lama dia banyak yang memiliki ‘rasa’ seperti ini, salah satunya ini:

“saya ingin diam saat ini. tidak berpikir. ternyata tidak bisa , saya pusing. dunia ini ribet. manusia yang ribet. saya lihat dia di sana, saya lihat kamu di sana, di sini, di ujung sana, kamu dimana-mana, saya juga di mana-mana. Tuhan itu di mana-mana, kata mereka. berarti kami Tuhan kah? Tuhan itu ada dalam buah pikiran umat manusia, begitu kata orang-orang atheis jenius. tapi Tuhan, kata saya, kata siapa, setiap detik dia ada d imana-mana, berhembus di sebelah telinga saya tiap detik. saya ingin rambut panjang lagi. kemarin saya bertemu dengan seekor babi. maaf saya boros ayah.” – Rifda Amalia. 

Kembali lagi ke Budi Darma – setelah membaca cerita ini saya jadi penasaran tentang beliau. Kemudian saya tahu ternyata dia guru besar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Surabaya (UNESA, dulunya IKIP Surabaya). Saya lantas teringat salah satu om yang saya kagumi, Om Satria Dharma, yang dulunya kuliah di sini. Saya WhatsApp dia dan tanya apakah benar dulu dia kuliah di UNESA dan apa dia dulu sempat jadi murid Pak Budi Darma. Ternyata benar saja, ia mengiyakan dan bilang bahwa sampai sekarang ia masih sering berkomunikasi dengan dosennya tersebut. Saat saya pulang ke Balikpapan kemarin, om saya memberikan (atau meminjamkan?) saya buku ‘Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat’ kumpulan cerita pendek terbaik dari Budi Darma. Saya langsung ingin segera membaca buku tersebut tapi saya masih punya ‘hutang buku’ setumpuk yang teronggok di sudut meja sebelah tempat tidur.

 

Sebelum saya akhiri review yang sudah melebar panjang kemana mana ini, saya juga ingin membahas satu hal lain yang saya anggap menarik dari Rafilus – buku ini diawali dengan exordium dan diakhiri dengan abstraksi, saya seperti tengah membaca catatan ilmuwan sastra (kalau ada hal seperti itu pasti Budi Darma salah satunya karena tentunya ilmuwan tidak cuma orang yang berhubungan dengan sains kan? Sastra pun ilmu penting).

Untuk penggemar karya-karya Sartre, Camus, dan Kafka, atau untuk yang pernah terkesima membaca Waiting for Godot oleh Samuel Beckett, buku ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s