Review Buku: Gadis Pantai – Pramoedya Ananta Toer.

Bagi saya, sejauh ini kisah Pramoedya Ananta Toer selalu menjadi pengingat - untuk memanusiakan manusia dan memperlakukan orang dengan kasih, tanpa memandang status sosial dan perbedaan apapun. Keberuntungan yang dimiliki 'pembesar-pembesar' sekarang, mulai dari keberuntungan mengecam pendidikan sampai dengan keberuntungan materi haruslah jadi pengingat bahwa belum semua orang di Indonesia seberuntung itu walau sudah 71 tahun Indonesia merdeka dan sudah beratus tahun berlalu sejak kisah ini terjadi. Saya sendiri selalu menganggap pendidikan adalah suatu keberuntungan, sama saja dengan elit zaman dahulu yang lahir dari golongan orang-orang berpendidikan. Pendidikan melatih seseorang untuk berpikir, melihat ketidakadilan, dan bertindak. Sebagaimana Soe Hok Gie, panutan saya yang satu lagi menganggap bahwa mahasiswa adalah 'The Happy Selected Few' sedikit orang terpilih yang berbahagia, yang dapat kuliah dan karena itu mahasiswa harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya - mungkin mencoba menengok sekeliling, benarkah penjajahan di atas muka bumi sudah dihapuskan? Benarkah tidak ada lagi orang Indonesia yang terjajah? Yang tidak lagi merangkak-rangkak di hadapan orang lain?

Mengapa Saya Membaca

Akar budaya baca Apabila keluarga diibaratkan sebagai akar, saya bersyukur kepada Tuhan karena diakarkan kepada keluarga yang memiliki minat baca cukup tinggi. Sejak kecil saya tumbuh dengan buku-buku bacaan, hasil curahan kakak-kakak saya tentunya, mulai dari Petualangan Lima Sekawan dari Enid Blyton yang selalu membuat saya berdebar dalam setiap petualangannya, Matilda dari Roald Dahl yang [...]

Tentang menjadi Minoritas, dan kembali menjadi Mayoritas.

Apakah status sebagai mayoritas melegalkan kesewenang-wenangan? Apakah mayoritas lain yang diam dan tidak setuju akan aksi pembubaran acara tersebut akan tetap diam dan membiarkan, menganggap hal tersebut hal yang lumrah? Apakah status sebagai mayoritas mewajarkan golongan mayoritas untuk marah ketika masjid dibakar, Al Qurán dinistakan tapi diam seribu Bahasa melihata sesama mayoritasnya membabi buta menyerang minoritas agama lain? Kita marah melihat Muslim diperlakukan kasar di Amerika Serikat, kita hina Amerika Serikat sebagai negara kafir dan tiran. Kita marah melihat umat di Palestina diperangi oleh Israel, mengirim ribuan doa ke pengungsi-pengungsi Rohingya. Tapi di dalam negeri kita diam melihat gereja dibom, acara Natal dibubarkan, di dalam negeri kita bertindak seperti Amerika Serikat dan Israel.

Review Buku: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi – Yusi Avianto Pareanom.

Akhirnya setelah membaca cerita ini dalam satu hari saking bersemangatnya, saya pun paham kenapa teman-teman seperti Maesy dan Nisa dari POST bilang kepada saya bahwa buku ini seperti Game of Thrones dan bahkan teman dari mereka ada yang sampai menggambar peta karakter karena banyaknya karakter di buku ini. Buku ini luar biasa dengan segala kompleksitasnya, kepiawaian Yusi Avianto Pareanom si penulis dalam menjahit cerita dan mendongengi pembaca, dan rasa sejarah nusantara yang membuat nostalgik.

Notes from Ubud Writers & Readers Festival 2016: Day One – The Avonturir.

check out the notes I wrote on my collaborative blog with Rifda Amalia, The Avonturir, on the first day of the festival where I finally met Eka Kurniawan in real life and find out who his muses are and the many hidden treasures of Indonesian literature coming from Indonesia's emerging writers

Review Buku: Bagaimana si Miskin Mati – George Orwell

Esai-esai dalam buku ini memiliki tema variatif yang sedikit banyak membuat pembaca dapat mengintip pemikiran-pemikiran politik, sastra, dan kehidupan dari kacamata seorang George Orwell. Meskipun di Indonesia ia lebih banyak dikenal sebagai penulis sastra dengan karya 1984 atau Animal Farm, George Orwell sebenarnya banyak menulis esai-esai terutama dengan tema politik.